Covid19 Membara, Kita: Sekali Berarti, Sudah itu Mati - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Covid19 Membara, Kita: Sekali Berarti, Sudah itu Mati

Ilustrasi (Gambar: Ist)


Catatan: Alfeyn Gilingan


"Sekali Berarti", "Sudah itu mati". Ini kutipan lirik puisi Diponegoro, karya penyair Indonesia yang mati muda, Chairil Anwar. Bertarikh 1943, diperbanyak PT Gramedia dalam bentuk kumpulan buku puisi "Aku Ini Binatang Jalang". 

Merinding saya mengapresiasi kata-kata tersebut. Diksi yang kontras, "berarti" dan "mati"; mengedepankan makna yang sulit diterima atau sebaliknya ditolak, tapi sangat cemerlang (sampai hari dan seterusnya). Walaupun tipografi puisi ini teratur, dengan baris dan bait yang tidak sama.

Letak kata "sekali berarti"  dan "Sudah itu mati" ada di baris ke-11 dan 12 pada tubuh puisi. Posisi jumlah (baris) ini, dalam telisik pribadi saya sebagai penganut Kristen, punya benang merah religiositas. Tetapi pada kesempatan ini bukan hal itu yang hendak dibahas.

Meski demikian, untuk lengkapnya saya kutip lengkap puisi Diponegoro, sebagai berikut:

Di masa pembangunan ini

tuan hidup kembali

Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti

Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.

Pedang di kanan, keris di kiri

Berselempang semangat yang tak bisa mati.


MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu

Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti

Sudah itu mati.


MAJU

Bagimu Negeri

Menyediakan api.

Punah di atas menghamba

Binasa di atas ditindas.

Sungguhpun dalam ajal baru tercapai

Jika hidup harus merasai.

Maju.

Serbu.

Serang.

Terjang.

Februari 1943

Chairil Anwar

(Buku: “Aku Ini Binatang Jalang” – Chairil Anwar Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama)

Memang puisi Diponegoro, saya tahu sejak saat belajar di sekolah dasar hingga saat ini, merupakan puisi bertema kepahlawanan. Penyair menggambarkan perjuangan seorang Diponegoro yang bersemangat dalam perjuangan kemerdekaan "diro dan negara" dengan semangat yang membara.

Lalu, apa hubungan puisi dengan pandemi Covid19 yang saat ini (masih terus) membara?

Memang kita, Indonesia, sekarang sudah merdeka. Tetapi saat ini kita sedang di medan perang; berperang melawan pandemi COVID19. Sudah sekitar dua tahun. Kita sedang berperang dengan virus, musuh yang tidak kelihatan. Bahkan seluruh manusia dari semua negara di dunia sedang memerangi pandemi COVID19.

Dalam perang melawan COVID19, tidak jelas senjata apa yang mesti digunakan. Tak ada bedil, Kelewang atau Flintlock dan Revolver. Tidak ada senapan anti pesawat, senapan anti material dan anti anti tank atau Arquebus maupun Artileri atau Automeriam.

Agama pun, dipercaya sebagai benteng keyakinan masing-masing pemeluknya, jadi tak berdaya. Tempat-tempat ibadah ditutup, ibadah dari rumah. Tidak dibenarkan ada persekutuan doa. Apalagi persekutuan pesta, dilarang. Aktivitas yang salah. Tempat pertemuan disegel. Pelakunya dikenakan sanksi. Semua dibatasi, dilarang ada aktivitas kehidupan yang berlebihan.

Dulu, yel-yel bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Sekarang berbeda, dunia terbalik (seperti judul Sinetron); jika bersatu, kita terpapar virus. Kita diwajibkan "bercerai" agar terhindar dari virus; terhindari dari bahaya. Ini sangat "berarti" dan tidak (akan) mati.

Nah, situasi jadi tak menentu. Pintu chaos terbuka. Informasi dunia maya berseliweran. Tidak sedikit yang belepotan hoax. Gila semakin menggila, yang sadar sewajarnya terseret menjadi gila.

Dan pemerintah pun kalang kabut. Tidak hanya pemerintah di Indonesia, tetapi seluruh negara. Pemerintah Indonesia menggulir aneka program bantuan, lalu dikucur kepada masyarakat. Tetapi (semua) bantuan hanya "sekali berarti", selanjutnya "(se)sudah itu mati".

Alat kesehatan disiapkan. Pemerintah menambah jumlah rumah sakit. Tim petugas penanganan COVID19 dibentuk. Mereka bekerja keras merawat pasien terpapar COVID19. Tetapi tidak sedikit yang ikut jadi korban, dianggap 'pahlawan'; sekali berarti, sudah itu mati.

Menurut data Johns Hopkins, Hungaria memiliki jumlah kematian COVID-19 per kapita terburuk sekitar 300 per 100.000 orang. Dengan jumlah kematian yang diperbarui, Peru sekarang mencapai lebih dari 500 kematian COVID-19 per 100.000 orang, artinya berada di atas Hungaria.

Bahaimana dengan Indonesia? Ah, termasuk salah satu negara yang warganya banyak yang meninggal karena COVID19. Data terbaru disajikan CNN, kasus positif Covid-19 di Indonesia bertambah 27.233 per hari Minggu (4/7). Tambahan itu membuat total jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai 2.284.084 kasus.

Adapun jumlah kematian covid-19 per tanggal tersebut mencapai 555 kasus. Rekor tertinggi sejak pertama kali diumumkan Presiden Joko Widodo pada awal Maret 2020. Dengan demikian, jumlah pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia di Indonesia kini mencapai 60.582 orang.

Dari total kasus positif itu, sebanyak 1.928.274 di antaranya telah sembuh. Pasien yang sembuh  bertambah13.127 dari hari sebelumnya. Sebanyak 295.228 masih menjalani perawatan baik di rumah sakit maupun isolasi mandiri. Jumlah warga yang diperiksa sebanyak 86.292 orang. 

Selagi berperang dengan COVID19, antar sesama manusia saling berperang. Perang perasaan, perang pikiran. Perang kebutuhan dan kepentingan (kekuasaan), karena pada akhirnya hanya "sekali berarti", "sudah itu mati". Angkuh, culas, egois dan sejenisnya secara sadar telah menjadi sama hakikatnya dengan kasih, saling membantu, saling berbagi dan sebagainya.

Sekarang, sesiapa yang bersin pun dicurigai. Harus dihindari. Tidak seperti dulu, jika seseorang saat bersin, spontan ada ucapan dari teman: selamat umur panjang. Sekarang tidak ada lagi ucapan spontan, malah seseorang yang bersin spontan dihindari.

Sekarang kita diminta untuk melakukan self-lockdown; jangan keluar rumah kecuali benar-benar diperlukan. Perlu ada masker ganda saat keluar rumah dan masker tidak boleh dilepas. Jangan makan di luar rumah atau membiarkan orang masuk ke dalam rumah Anda, baik itu saudara atau teman dekat. Yang miris juga ada informasi beredar luas, jangan ke rumah saudara atau teman.

Dikabarkan juga, sebagian besar populasi akan musnah jika setiap kita tidak mengambil tindakan pencegahan sekarang.  Apalagi COVID19 tidak membeda-bedakan. Sekarang Kanada melarang penerbangan masuk dan keluar. Jumlah kematian harian di negara itu melebihi 1.000.

Saat varian delta muncul, Arab Saudi memblokir penerbangan masuk dan keluar. Juga Kolombia. 

Spanyol telah mengumumkan keadaan darurat dapat diperpanjang. Adapun Inggris Raya mengumumkan penguncian selama satu bulan.

 Prancis dua minggu, Jerman selama empat minggu.

Lebih dari itu, ada sinyal bahwa gelombang ketiga COVID19 akan lebih mematikan daripada gelombang pertama dan kedua. Seperti flu Spanyol tahun 1917-1919, gelombang ketiga lebih berbahaya daripada gelombang pertama dan kedua.

Saat angka kematian karena COVID19 mulai mengecil, rasa khawatir masyarakat Indonesia ikut menyurut. Meskipun berbagai info di dunia maya terus berkeliaran. Kekhawatiran jadi naik daun lagi ketika COVID19 varian baru, si delta, muncul ke permukaan. 

Lalu jumlah yang positif terpapar melonjak. Lalu kamar rumah sakit tidak cukup. Lalu oksigen tabung sulit diperoleh. Lalu petugas kesehatan linglung. Lalu harga obat naik. Lalu vaksin masal berlomba-lomba dilakukan. Lalu pembatasan aktivitas sosial dengan segenap dinamikanya diumumkan pemerintah. Lalu berbagai aturan lokal muncul. Lalu..., rakyat khawatir, takut. Lalu rakyat lapar!

Nah, apa yang ada pada kita dan saat ini sedapatnya diandalkan untuk sementara waktu? 

Saat ini jumlah kasus terpapar COVID19 terus melonjak. Pembatasan aktivitas sosial sudah dilakukan pemerintah. Pembatasan, sejatinya merupakan suatu bentuk 'perlawanan' atas hak azasi manusia yang merupakan karunia Tuhan.

Mengurus surat-surat di kantor pemerintah pun saat ini dibatasi. Selain harus taat protokol kesehatan, setiap warga wajib memperlihatkan sertifikat vaksin. Jika tidak punya, ya (barangkali) tidak akan dilayani. Harus vaksin dulu, wajib!

Jadi, sertifikat vaksin lebih diutamakan daripada soal kemanusiaan, karya Tuhan yang bersertifikat keyakinan. Sertifikat vaksin, barangkali, pada konteks kedungunan orang-orang moderen masa kini lebih dipercaya. Sebentuk sertifikat vaksin lebih diyakini sebagai jaminan bahwa seseorang tidak dihinggap virus COVID19.

Nah, sekarang yang ada pada kita hanya semangat (yang mungkin membara, tetapi boleh jadi juga sifarnya hanya sementara). Ya, ada semangat untuk tetap menjalani hidup di masa sulit dalam segenap pembatasan dan keterbatasan. Sebab menjalani kehidupan, adalah "sekali berarti", "(se)sudah itu mati".(*/Penulis: warga I donesia, tinggal di Manado)