Lumanauw: Ingin Minut Maju, Masyarakat Jangan Jadi Pemilih Pragmatis - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Lumanauw: Ingin Minut Maju, Masyarakat Jangan Jadi Pemilih Pragmatis

Ilustrasi (Foto: Ist)

Sulut24.com, MINUT - Partisipasi pemilih mesti menjadi atensi Komisi Pemiluhan Umum (KPU). Ada kecenderungan pemilih lebih pragmatis daripada mengutamakan rasionalitas.

Ada kecenderungan masyarakat mau menyalurkan hak suaranya asal ada imbalan.

Hal itu dikeluhkan salah seorang caleg di daerah pemilihan (dapil) 1 (Airmadidi-Kalawat) yang namanya minta dirahasiakan.

Menurutnya rata-rata masyarakat berpikiran pragmatis. Mereka bahkan mematok jumlah imbalan yang didapatkan. 

Bahkan masyarakat terang-terangan meminta uang untuk bisa menjamin suara diberikan kepada caleg.

"Ini kan merugikan kami (caleg), diberi uang pun belum tentu kita dipilih," tuturnya, 

Salah satu Akademisi Dr. Ronny Lumanauw mengatakan pemilih rasional itu hanya di angka 20 persen saja. Dominan atau 70 persen pemilih di Minut masih pragmatis.

"Pemilih yang memperhitungkan apa yang kemudian diterima dan diberikan kepada calon secara langsung, baik dalam bentuk uang atau barang yang bisa dijadikan preferensi bagi dia memilih calon," katanya.

Lumanauw memetakan bahwa pemilih rasional ini berada pada kategori kelompok menengah ke atas dan masyarakat terdidik. 

Sementara yang pragmatis ada pada kategori kelompok pemilih ekonomi menengah ke bawah.

Dalam beberapa kontestasi pilkada dan Pilcaleg , masih dilihat dominan kelompok pemilih yang betul-betul sangat mengharapkan budaya-budaya yang sifatnya pragmatis.

"Bagi pragmatis ini kemudian siapa bisa memberikan semacam pemberian dalam bentuk uang atau barang itu menjadi preferensi dia untuk memilih," ujar Lumanauw

Makanya, jika dilihat dari berbagai kontestasi politik, strategi calon mendekati pemilih itu dengan metode konvensional. Seperti dalam bentuk pemberian paket sembako dan barang.

Mirisnya kata Lumanauw, ada kelompok masyarakat terdidik dan menengah ke atas pun mulai mengalami pergeseran preferensi untuk masuk bersama pemilih pragmatis ini. 

Kondisi ini semakin mengecilkan kelompok-kelompok pemilih yang betul-betul secara rasional memilih calon.

"Harapan kita sebenarnya pada kelompok terdidik dan kelompok pemilih pemula. Mereka diharapkan bisa secara murni memilih berdasarkan rekam jejak, program dan visi misi, tetapi justru mereka yang masuk latar pemilih pragmatis ini. Sehingga ini yang semakin memperburuk proses kontestasi demokrasi kita," ujar Lumanauw.

Lumanauw mengajak kepada masyarakat Minut yang sudah memiliki hak pilih pada pemilihan legislatif dan pemilihan Bupati dan Wakil Bupatu untuk menghindari politik pragmatis. 

Politik pragmatisme adalah menjadikan politik sebagai sarana untuk mencapai keuntungan dan kepentingan pribadi.

“Pemimpin yang dihasilkan melalui politik pragmatisme akan menghasilkan pemimpin yang hanya memperkaya diri tanpa melihat penderitaan rakyat dan kemajuan daerah," kata Lumanauw.

Menurut Lumanauw masyarakat Minut harus diberi pemahaman bahwa untuk mencari pemimpin harus yang memiliki ideologis baik dan bukan memilih pemimpin karena iming-iming uang atau money politik. (Joyke)