Hubungan AS-China Dititik Terburuk, Saling Tuding Dan Ancam - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Hubungan AS-China Dititik Terburuk, Saling Tuding Dan Ancam


Presiden Amerika Serikat Donald Trump
(Istimewa)

Sulut24.com - Beijing, Relasi antara Amerika Serikat (AS) dan China belakangan memanas. Hal itu dipicu oleh sejumlah faktor, termasuk tudingan AS bahwa virus corona baru penyebab Covid-19 berasal dari China.

"AS dan China sebenarnya berada di era Perang Dingin yang baru. Berbeda dari Perang Dingin antara AS dan Uni Soviet, Perang Dingin baru antara AS dan China memiliki persaingan penuh dan decoupling yang cepat. Hubungan AS-China tidak lagi sama dengan beberapa tahun yang lalu, bahkan tidak sama dengan beberapa bulan yang lalu," ujar Shi Yinhong, seorang profesor hubungan internasional di Universitas Renmin China.

Tensi AS-China memanas belakangan. Ini karena selama sepekan terakhir pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah mengancam untuk membatalkan kesepakatan perdagangan fase satu dan meningkatkan tarif pada China. Presiden ke-45 AS itu juga mendukung kontrol ekspor baru untuk perusahaan-perusahaan China yang membeli produk teknologi Negeri Paman Sam.

Selain itu, Trump juga meyakini teori konspirasi yang menyebut virus corona adalah buatan manusia dan berasal dari laboratorium yang ada di kota Wuhan, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post. Gedung Putih juga terus menekankan sebuah inisiatif di antara "negara-negara sahabat" untuk mendorong rantai pasok manufaktur keluar dari China, menurut Reuters.

Trump tidak memakai masker saat berkunjung di pabrik Honeywell. AP/Evan VucciFoto: Trump tidak memakai masker saat berkunjung di pabrik Honeywell. AP/Evan Vucci
Trump tidak memakai masker saat berkunjung di pabrik Honeywell. AP/Evan Vucci

Sementara laporan yang bocor dari Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menuduh Beijing menutupi kekejaman virus corona. Sehingga negara itu bisa menimbun persediaan medis pada awal tahun.

Di sisi lain, media pemerintah China dan para diplomat telah melakukan serangan melalui media sosial terhadap para tokoh politik AS sebagai sebuah respons. Pekan lalu, misalnya, sebuah video yang mengejek penanganan AS terhadap virus corona, berjudul "Once Upon a Virus", dibagikan secara luas di antara para pejabat Kementerian Luar Negeri dirilis oleh kantor berita resmi Xinhua.

Perlu diketahui, Perang Dingin 'asli' yang terjadi antara AS dan Uni Sovyet sebelumnya dimenangkan oleh Negeri Paman Sam. Perang Dingin baru antara AS dan China dalam beberapa hari terakhir nampaknya menunjukkan hal yang tak jauh beda.

Berbagai serangan yang diluncurkan AS pada China telah mendapat banyak persetujuan dari banyak orang di seluruh dunia. Itu tercermin dalam sebuah dokumen pemerintah China yang bocor, yang mengatakan sentimen global anti-China berada pada titik terburuk sejak 1989 atau sejak tragedi Lapangan Tiananmen, sebagaimana disampaikan Reuters, Senin (4/5/2020).

Saat ini, banyak pemerintah di seluruh dunia telah menyuarakan kemarahan atas persepsi China yang menutupi asal-usul virus corona. Negara-negara di dunia banyak juga yang menuntut penyelidikan publik dilakukan terhadap China.

Yu Wanli, wakil direktur di lembaga think tank Lian An Academy di Beijing, setuju hubungan AS-China berada pada titik terendah sejak tragedi penumpasan Tiananmen.

"Saya selalu optimis tentang hubungan AS-China sampai saat ini. Di masa lalu, Anda selalu dapat menemukan suara pro-China pada spektrum politik AS, tetapi tidak ada suara seperti itu dalam pemerintahan Trump," kata Yu, merujuk pada jajak pendapat Pewaris baru-baru ini terhadap 1.000 orang di AS. Hasilnya, 66% responden memiliki pandangan yang tidak baik tentang China.

Chen Zhiwu, direktur Institut Global Asia di Universitas Hong Kong, juga setuju hubungan AS-China sekarang adalah yang terburuk yang pernah dalam lebih dari 40 tahun. Selama kurun waktu itu ia mempelajari masalah AS-China.

"Bahkan pada tahun 1989, sentimen yang menjadi dasar orang AS terhadap China tidak terlalu buruk. Itu jauh lebih buruk dan jauh lebih mengakar sekarang. China dapat berhenti menggunakan saluran diplomatik dan juru bicara untuk lebih jauh mengobarkan retorika, karena upaya semacam ini tidak membantu," kata Chen.

Suasananya bahkan lebih dingin sekarang dibandingkan pada titik rendah 2018 dan 2019, ketika Trump mengenakan tarif pada barang-barang China untuk memaksa negara itu mengubah struktur ekonominya.

Sebelumnya, sepanjang negosiasi perdagangan AS-China, media pemerintah China sangat menghindari mengkritik Trump secara langsung dan Trump menghindari mengkritik Presiden Xi Jinping. Tapi sejak berbulan-bulan lalu semuanya berubah.

Rasa hormat media China mulai menghilang. Bahkan media Xinhua sampai menyerukan AS sedang menghadapi "pandemi Trump" dalam sebuah tweet pada bulan Maret. Itu terjadi setelah Trump mengeluarkan ancaman memblokir ekspor peralatan medis vital di saat negara itu kewalahan menghadapi Covid-19. Itu juga terjadi usai Trump menyebut virus corona sebagai 'virus China'.

Ketegangan yang tidak biasa di antara kedua negara juga telah secara langsung diakui Clete Willems, yang menjabat sebagai wakil direktur Dewan Ekonomi Nasional di bawah Trump. Willems bahkan mengatakan ancaman AS untuk menambah tarif baru atau untuk membatalkan kesepakatan perdagangan fase satu, tidak boleh dianggap enteng.

"Saya pikir orang benar-benar harus menganggapnya serius. Saya tidak tahu bahwa itu sudah dekat, tetapi saya pikir itu akan dipertimbangkan," kata Willems.

Willems juga mengatakan telah ada "peningkatan yang mencolok dalam kata-kata bermusuhan" kedua negara.

"Tapi itu membuat saya khawatir, ke mana arah ini?," katanya. "Kita harus realistis dan mengatakan kita berada di pijakan Perang Dingin sekarang," ucapnya.
(Tim-Red)


Sumber : 

https://www.cnbcindonesia.com/news/20200506222610-4-156850/era-baru-perang-dingin-as-vs-china-saling-tuding-ancam
https://missforexasia.com