WHO Sebut Awal Gelombang Ketiga Pandemi Covid-19 Sudah Mulai - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

WHO Sebut Awal Gelombang Ketiga Pandemi Covid-19 Sudah Mulai

Sekretaris Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO) Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus (Foto via kompas.com)

Sulut24.com, JAKARTA - Dunia saat ini telah memasuki tahap awal gelombang ketiga pandemi COVID-19. Hal itu ditandai lonjakan kasus Corona yang terjadi di berbagai negara di dunia dalam beberapa pekan terakhir. 

Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Or

WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus,  Rabu (14/7/2021). "Saat ini kita berada pada tahap awal gelombang ketiga," kata Tedros dalam sambutan pembukaan rapat ke-8 Komite Darurat Peraturan Kesehatan Internasional (IHR) tentang COVID-19.

Bukan hanya kasus Corona yang melonjak, Tedros mengatakan kasus kematian akibat COVID-19 juga meningkat dalam seminggu terakhir secara global. Padahal, sebelumnya kasus kematian sempat menurun selama 10 minggu.

Menurut Tedros, virus Corona varian Delta menjadi salah satu penyebab melonjaknya kasus Corona. Varian ini telah menyebar di lebih dari 111 negara, dan kemungkinan akan menjadi jenis virus Corona yang dominan di seluruh dunia.

"Varian Delta adalah salah satu pendorong utama peningkatan penularan saat ini, didorong oleh peningkatan mobilitas sosial, dan penggunaan langkah-langkah kesehatan dan sosial masyarakat yang tidak konsisten," jelas Tedros, seperti dikutip dari laman resmi WHO.

Tedros juga menyoroti adanya ketimpangan distribusi vaksin COVID-19 di dunia, yang semakin terlihat antara negara kaya dan negara miskin serta berkembang. Negara dengan akses terbesar ke vaksin mulai mencabut pembatasan sosial mereka, sementara masih banyak negara yang belum mendapat atau kekurangan vaksin COVID-19.

"Kami terus melihat perbedaan yang mengejutkan dalam distribusi vaksin secara global," ucap Tedros. "Banyak negara masih belum menerima vaksin apa pun dan sebagain besar belum menerima cukup vaksin," tambahnya.

Meski demikian, Tedros mengatakan COVAX akan terus berusaha untuk mendistribusikan vaksin COVID-19 dengan cepat dan adil. 

Sementara itu, pemerintah Indonesia berencana menjalankan rencana vaksin COVID-19 berbayar. 

Namun Kepala Unit Program Imunisasi WHO, Dr Ann Lindstrand, mengatakan seharusnya tidak ada yang harus membayar untuk mendapatkan vaksin COVID-19. 

Menurut Ann, semua orang harus bisa divaksinasi tanpa terikat kondisi ekonomi.

"Rencana vaksin berbayar bisa menimbulkan masalah etik dan akses, terutama dalam masa pandemi yang membutuhkan cakupan vaksin bisa mencapai kelompok berisiko tinggi," kata Ann, Kamis (15/7/2021).

"Hal yang terpenting adalah semua orang harus punya hak dan akses yang sama terhadap vaksin, terlepas masalah finansial," lanjutnya.

Ann menyebut pemerintah Indonesia seharusnya tidak mengeluarkan banyak biaya karena skema internasional COVAX sudah menjamin dosis vaksin COVID-19 untuk sekitar 20 persen populasi. 

Selain itu, sebut Aman, banyak bank dunia juga sudah memberi dukungan biaya untuk proses distribusi vaksin COVID-19. "Jadi seharusnya tidak terlalu ada banyak pembiayaan," ungkap Ann.

Adapun virus Corona varian Delta asal India, telah menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. WHO mengkategorikan virus jenis ini ke dalam 'variant of concern (VoC)'.

Varian Delta memiliki tingkat penularan yang tinggi. Bagaimana tidak, virus ini telah memicu gelombang kedua COVID-19 di India, dan kini Indonesia tengah menghadapi varian Delta.

"Varian Delta tingkat transmisinya paling cepat lebih dari Alpha (B117). Penelitian di inggris menemukan kalau proses transmisinya 60 persen lebih cepat ketimbang varian Alpha. Gejalanya juga lebih berat dan 2,5 kali lebih banyak menyerang usia muda," kata dr Riyadi Sutarto SpP dari RSUP Persahabatan, dalam siaran langsung di Instagram @radiokesehatan, Selasa, (13/7/2021) sebagaimana dilansir detik.com.

Berdasarkan data dari National Health Service (NHS), yang menganalisis 92.029 kasus varian Delta di Inggris dari awal Februari sampai pertengahan Juni 2021, kelompok tertentu yang paling berisiko terinfeksi varian ini adalah orang berusia di bawah 50 tahun dan orang yang belum divaksinasi COVID-19.

Data ini didapat setelah meninjau 92.029 kasus dengan 82.500 pasien di antaranya adalah mereka yang berusia di bawah 50 tahun. Kemudian 53.882 kasus lagi adalah orang-orang yang belum divaksinasi COVID-19. Meski demikian, data menunjukkan 117 kematian warga Inggris yang terinfeksi varian Delta mayoritas berada di kelompok usia di atas 50 tahun.(*/agi)