Kontemplasi Perayaan Natal Yesus Kristus - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas


Advertisement

Kontemplasi Perayaan Natal Yesus Kristus

Jerry Bambuta (Foto: Dok pribadi)


Oleh Jerry Bambuta

Founder Forum Literasi Masyarakat


Sulut24.com, OPINI - Natal adalah perayaan Kristiani akan kelahiran Yesus di Betlehem 2.000 tahun yang lalu. Kelahiran Yesus menjadi pertanda awal penggenapan nubuatan akan datangnya juruselamat yang akan menebus dosa seisi dunia. Umat Kristiani di berbagai negara dan benua merayakan natal dengan tradisi perayaan berbeda-beda, dari ibadah pohon terang, menyalakan lilin, tukaran kado, pesta kembang api, silahturahmi keluarga, acara makan minum hingga acara pesta pora dengan minuman keras dan hingar bingar musik menyesakan telinga. 

Jemari saya agak tergelitik menulis kontemplasi ini karena tersentil dengan beberapa unggahan status media sosial. Dalam unggahan media sosial tersebut mengungkap di beberapa pusat perbelanjaan lokal padat sesak dengan orang-orang berbelanja, bahkan untuk akses jalan pun begitu sulit saking padatnya kerumunan orang berdesak-desakan. Tidak hanya itu, tradisi perayaan Natal rasanya tidak bisa di pisahkan dengan sosok Santa Claus. 

Anak-anak kita lebih di familiarkan dengan sosok Santa Claus daripada memperkenalkan Yesus sebagai sentral perayaan Natal. Arak-arakan rombongan Santa Claus di jalan raya yang kerap ugal-ugalan di jalan menciptakan tradisi perayaan Natal yang makin absurd.

Realitas yang saya ungkapkan di atas sudah seperti kelaziman setiap tahun saat orang-orang merayakan Natal. Bahkan, tanpa sadar, jika Natal di rayakan tanpa adanya semua tradisi tersebut akan di rasa kurang afdol. Apakah harus demikian? Untuk menjawab pertanyaan inilah yang membuat jemari saya di gelitik untuk menggores tulisan ini. 

Setidaknya bisa menyajikan bahan “kontemplasi spiritual” agar kita tidak terjebak dengan eforia perayaan Natal yang lebih kental dengan tradisi konsumeristik, materialistik dan hedonistik. Dan tragisnya, kita malah makin menjauhi “esensi spiritual” dalam perayaan Natal, kita mengabaikan sentral Natal paling hakiki yaitu PRIBADI YESUS (Lukas 2:12). 

Kultur modernisasi mengkristal dan menciptakan realitas kekinian dalam perayaan natal yang makin sekuler komplit dengan berhala-berhala modern. Oleh karena itu, melalui kontemplasi spiritual secara personal ini, saya ingin menggali esensi spiritual perayaan Natal Yesus Kristus, agar supaya bisa menemukan tiga “lentera ilahi” yang menuntun kita pada hakikat perayaan Natal yang sesungguhnya.

1. Janin Yesus berdiam dalam rahim Maria selama 9 bulan tapi pribadi Yesus harus hadir sebagai Tuhan dalam hidup kita selama-lamanya.

2.000 tahun yang lalu, janin Yesus berdiam dalam rahim seorang perawan bernama Maria selama 9 bulan. Dan selanjutnya, Yesus lahir di kandang Betlehem dalam sukacita surga dari Malaikat, Gembala dan orang Majus. Ini sebuah realitas historis yang sudah berlalu! Hari ini, harusnya Natal di rayakan dengan menghayati kehadiran Yesus dalam totalitas hidup kita bukan lagi sebagai bayi mungil tapi sebagai Tuhan yang berdaulat atas semua aspek kehidupan kita. Dulunya, janin Yesus hanya berdiam 9 bulan dalam rahim perawan Maria. 

Tapi hari ini, Yesus harus jadi Tuhan dalam totalitas hidup kita bukan hanya selama 9 bulan atau 9 tahun tapi selama-lamanya. Maka, secara otomatis, ketika Yesus menjadi Tuhan dalam totalitas hidup membuat hidup kita mengalami “perubahan progresif” dan bukannya “degradasi distorsif”. Pola pikir, motivasi dan sikap kehidupan yang buruk akan di transformasi secara radikal karena kehadiran Yesus dalam hidup kita mengubah “identitas kehidupan” kita. Identitas kehidupan yang di ubah ini akan melahirkan transformasi “aktivitas kehidupan” yang ilahi, alami dan progresif. 

Akan menjadi sangat ironis apabila kita merayakan Natal setiap tahun tapi pola pikir, motivasi dan sikap kehidupan kita tidak pernah alami perubahan progresif, baik dalam konteks hubungan vertikal dengan Tuhan dan konteks hubungan horizontal secara sosial dengan sesama. Akan sangat ironis jika setiap tahun kita rayakan Natal tapi pola pikir, motivasi dan sikap kehidupan kita malah makin konsumeristik, materialistik dan hedonistik.

2. Bintang Betlehem bercahaya terang di langit menuntun orang Majus menemukan Yesus di palungan Betlehem. 

Bintang Betlehem yang bercahaya terang di langit malam saat bayi Yesus lahir menjadi kompas penuntun bagi orang Majus menemukan bayi Yesus di palungan kandang Betlehem. Orang Majus merupakan orang-orang pintar yang mempelajari ilmu perbintangan dan berasal dari Persia. Mereka datang dari Persia di tuntun oleh bintang Betlehem yang gemilang bercahaya di langit malam Betlehem. 

Bintang tersebut bukanlah tujuan utama kedatangan para Majus di Betlehem, Bintang tersebut adalah penuntun bagi para Majus agar bisa menemukan bayi Yesus dalam palungan di kandang Betlehem. Segemerlap apapun hidup kita bercahaya di depan orang lain harusnya tidak hanya membuat mereka terpesona dengan diri kita. Semakin mereka mengenal hidup kita dengan segala hal yang kita lakukan dan miliki akan membuat mereka di tuntun mengalami perjumpaan spiritual dengan Tuhan. 

Kita tidak menempatkan diri sebagai figur sentral yang di jerat dengan libido yang akut akan pengakuan diri, pencapaian diri dan pembuktian diri di depan publik. Akibatnya, kita menjadi sosok arogan dengan ego menggemuk dan di penuh ambisi menghalalkan segala cara mencapai apa yang kita inginkan. 

Harusnya, Natal menyadarkan kita menjadi “Bintang-Nya” yang bercahaya di tengah kegelapan dunia, menuntun orang-orang yang putus asa penuh kegagalan dan di jerat dengan kegelapan akan menemukan Tuhan dalam hidup mereka. Kita menjadi “batu yang hidup” (living stone) karena Kristus adalah “batu penjuru” (corner stone) agar kita tidak menjadi “batu sandungan” bagi orang lain. 

Ketika Yesus menjadi Tuhan dalam semua aspek kehidupan kita, identitas kehidupan kita di ubah oleh karya anugerahNya. Dan secara ilahi dan alami, transformasi identitas kehidupan tersebut akan membuat terjadinya transformasi aktivitas kehidupan. Hal inilah yang mendorong kita menjadi “bintang terang” yang bercahaya dalam keteladanan hidup melalui cara kita bertutur dan bersikap dengan semua orang yang berada di sekitar kita.

3. Tuhan menciptakan tumpangan bagi segala makhluk tapi Yesus tidak temukan tumpangan untuk kelahiranNya.

Tuhan yang menciptakan alam semesta yang maha luas di mana planet bumi menjadi rumah raksasa yang memberi tumpangan hidup bagi berbagai mahluk termasuk manusia. Tapi, sayangnya, ketika sudah waktunya Perawan Maria melahirkan Yesus tidak di temukan satu pun penginapan yang mau menampung mereka. Pada akhirnya, yang mereka temukan sebagai tempat persalinan melahirkan Yesus hanyalah kandang kotor di Betlehem. Yesus tidak lahir di sebuah penginapan dengan segala fasilitas mewahnya. 

Yesus lahir dan di bungkus dengan kain lampin dan di baringkan di palungan yang adalah tempat makanan ternak di Betlehem. Di tengah kesederhanaan kelahiranNya, gegap gempita sukacita Surga para malaikat bersama para gembala dan orang Majus menggema hingga ke relung hati terdalam. Yesus adalah Tuhan yang menjadi manusia agar bisa menjadi jalan penebusan bagi dosa manusia (Yohanes 14:6), anda bayangkan Dia hadir di dunia hanya dalam sebuah kesederhanaan bahkan sebenarnya kandang domba Betlehem tidak layak sebagai tempat persalinannya. Natal yang kita rayakan harusnya membuat kita paham sedalam-dalamnya akan makna ini. 

Tidak perlu memaksakan diri merayakan dengan segala meriah ketika kondisi serba terbatas. Kalau pun ada kelebihan, tidak masalah merayakannya dengan meriah dengan tidak harus bablas dengan gaya pesta pora yang hedonistik. Intinya bermula dengan “kesederhanaan hati” di hadapan Tuhan, Natal di hayati sebagai sebuah kontemplasi spiritual mendalam agar totalitas hidup kita menjadi “rumah kediaman Tuhan”. 

Dan melalui hidup kita akan ada banyak orang yang putus asa menemukan harapan hidup, orang yang lemah menemukan kekuatan, orang yang terbelenggu menemukan kelepasan dan orang yang terbuang menemukan penerimaan yang tulus. Karena hidup  kita bukan hanya menjadi “tumpangan sesaat” tapi menjadi “rumah kediaman Tuhan” di bumi sampai maut memisahkan kita dari bumi ini. Dan kembali berjumpa dengan Tuhan dalam alam kekekalan llahi.

Setidaknya dengan tiga butir kontemplasi spiritual perayaan Natal di atas bisa mengetuk kepekaan iman sehingga kiblat iman kita selalu terarah pada esensi Natal yang sejati. Yang menerangi Natal bukan lagi oleh kerlap-kerlip lampu pohon terang. Hidup kita sebagai suami terhadap isteri, orang tua terhadap anak, atasan terhadap bawahan dan bagian dari anggota masyarakat akan menjadi lentera yang bercahaya terang melalui tutur kata dan sikap kita. 

Orang-orang di sekitar kita akan mencicipi “citarasa kehidupan” yang penuh nilai keteladanan dan perubahan yang membuat hidup orang lain di ubah menjadi lebih baik. Karena kita sadar, di hadapan Tuhan kita adalah “penerima kehidupan” tapi dihadapan sesama kita menjadi “penyalur kehidupan”. Sumber kehidupan adalah Sang Putra Natal, Yesus Kristus. 

Dan kita adalah “saluran kehidupan” yang terhubung akurat dengan Yesus Kristus sehingga bisa menyalurkan kehidupan yang penuh perubahan kepada setiap orang. Natal harusnya membuat kita keluar dari kehidupan individualistik dan memiliki kepekaan horizontal secara sosial masyarakat dalam lokalitas kita hidup. 

Ada orang-orang yang harus kita sentuh hidupnya dengan tangan kita. Sehingga hidup mereka akan menjadi lebih baik, hidup mereka di ubah dan yang terpenting adalah mereka bisa berjumpa dengan sumber kehidupan sejati yaitu Yesus Kristus. Akhir kata tulisan ini, mewakili pribadi, keluarga dan semua wadah pemberdayaan yang saya bina mengucapkan “Selamat Hari Natal, 25 Desember 2021 dan Tahun Baru, 1 Januari 2022”.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.


TENTANG PENULIS

Jerry Fransius Gosal Bambuta, hari ini aktif sebagai Leader dari MATCON (Mapalus Tech Construction) yang focus dalam layanan komersil dalam bidang Website Development, Software Development, Rural Network Solutions, IT Security, IT Consulting & Training. Bersama tim MATCON, sejak tahun 2018 telah membangun konsep pendampingan dan optimalisasi penerapan e-government di kawasan Sulawesi Utara dan Indonesia Timur untuk pemerintah tingkat provinsi, kabupaten, kotamadya dan pedesaan. 

Selain itu juga, berperan aktif sebagai Pembina dalam wadah Forum Literasi Masyarakat (Forlitmas), FORLITMAS adalah sebuah wadah edukatif bagi kalangan pemuda/mahasiswa/profesi yang focus membangun kultur literasi dalam berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat. Dalam bidang socioprenur, aktif dalam inisiasi pemberdayaan masyarakat petani dan nelayan dalam program GENTA SAKTI (Gerakan Pertanian Desa Produktif). Hari ini menetap di Langowan (Kabupaten Minahasa) bersama isterinya yang berprofesi sebagai guru bahasa inggris dan di karuniai tiga orang putra. (*Opini)