Refleksi Kontekstual Nilai Religius Kristiani dan Realitas Politik Kekinian - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Refleksi Kontekstual Nilai Religius Kristiani dan Realitas Politik Kekinian

Jerry Bambuta
(Foto: Dok Pribadi)

Opini oleh : Jerry Bambuta


Sulut24.com - Dalam realitas kekinian, kerap kali antara teologia dan politik dalam lingkungan masyarakat bagaikan minyak dan air yang tidak bisa menjadi satu, terbangun sebuah dikotomi yang kontras karena stigma religius dalam teologia dan stigma sekuler dalam politik. Tidak hanya terbangun sebuah dikotomi tapi malah sering memicu polemik panas ketika membahas keterlibatan politik dalam lingkungan agama atau relevansi nilai teologis dalam realitas politik. Harus diakui, politik bagaikan sebuah dapur vital yang mempengaruhi segala aspek kehidupan sosial masyarakat termasuk warga gereja dalam konteks personal dan sosial sebagai warga negara. Dinamika politik dalam lingkungan birokrasi pemerintahan sangat vital menentukan berbagai hak-hak kesejahteraan hidup masyarakat. Ketika sistem politik didominasi oleh para kapitalis yang opurtunis maka pastinya hak kesejahteraan hidup masyarakat akan dikhianati demi kepentingan  kartel dan tirani. Sebaliknya, jika sistem politik didominasi oleh para tokoh yang negarawan maka segala bentuk tirani penindasan rakyat akan tereliminasi demi terbangunnya pemerataan kesejahteraan rakyat yang adil dan manusiawi. 

Nilai-nilai teologis yang sifatnya idealis dan tegas kerap kali menghadapi tantangan tersendiri dalam melakukan penetrasi untuk membangun restorasi dalam lingkungan politik yang cenderung pragmatis. Pada prakteknya, tidak sedikit mereka yang lahir dari padepokan religius yang dibekali dengan segudang nilai restorasi terkesan terlalu utopis dan kaku ketika masuk dalam realitas lingkungan politik yang sifatnya pragmatis. Utopia tersebut pada akhirnya tanpa sadar memenjarakan kita dalam sebuah kerangkeng eforia akan perubahan, membuat kita lebih betah memimpikannya daripada mewujudkannya. Lebih suka mengkonsumsinya sebatas topik diskusi daripada mengambil inisiatif melalui langkah-langkah praktis yang konkrit dan tepat sasaran. 

Fatalisme yang tidak kalah tragis juga ketika sebuah idealisme di niscayakan hanya karena realitas pragmatism yang mengkristal sekian lama menjelma menjadi sebuah kelaziman dalam ruang publik. Masyarakat kita sudah cukup banyak kali dikhianati dengan figur-figur pemimpin yang hanya bisa “memperdaya rakyat” daripada “memberdayakan rakyat”. Tidak bisa disangkali jika apatisme dan sinisme yang mengental dikalangan masyarakat disebabkan karena faktor kekecewaan terhadap pemimpin publik yang gagal menjawab ekspektasi publik akan teladan kepemimpinan yang pro rakyat dan pro restorasi. Teladan praktek politik pragmatis yang di lakukan oleh para politisi oportunis hanya akan menyuburkan “politik transaksional” ditengah masyarakat yang masih mengalami krisis kesejahteraan hidup. Ketika kultur pragmatis ini mengkristal dalam waktu lama akan membuat sistem politik yang berkaitan dengan kepentingan hidup orang banyak dikuasai oleh mereka yang punya uang. Kondisi ini hanya menjadi sebuah tragedi demokrasi yang menyedihkan di tengah kita. Masyarakat bukan lagi memberi kepercayaan kepada wakil-wakilnya berdasarkan hati Nurani tapi karena isi amplop serangan fajar.

Saya yakin mereka yang terlahir dengan penggemblengan nilai-nilai religius akan memiliki visi restorasi yang senafas dengan nilai-nilai religius. Secara ideal, nilai-nilai religius tersebut akan menarik setiap orang untuk tegas menjauhi praktek hitam ala hedonis, materialis, individualis dan parasit terhadap sesama. Tidak berlebihan jika saya mencoba meng-ekstrak nilai teladan ini dari pengorbanan Isa Almasih di kayu Salib. Isa Almasih rela mengorbankan “kepala-Nya” demi “perut banyak orang” (baca : kehidupan banyak orang). Sangat antagonis dengan realitas politik pragmatis kekinian, tidak sedikit teladan politik bobrok yang mengorbankan “kepala banyak orang” demi mengenyangkan “perut pribadi”.

Dalam satu pelajaran Isa Almasih kepada murid-muridnya mengajar “Cerdiklah seperti ular tulus seperti merpati”. Dua tipologi tersebut sebenarnya mewakili akumulasi karakter ideal yang menjadi bekal untuk kita mengusung visi restorasi dalam lingkungan politik yang sifatnya dinamis dan pragmatis. Kita harus cerdik supaya tidak tertipu oleh sistem koruptif dan kita harus tulus supaya tidak menipu rakyat. Jika kita kita hanya cerdik tapi kehilangan ketulusan maka kita akan menjadi sosok Sengkuni penuh tipu muslihat yang parasit terhadap sesama. Sebaliknya jika kita hanya memiliki ketulusan tapi tidak memiliki insting kecerdikan akan membuat kita jadi bodoh dan mudah dimanipulasi bahkan dikremasi dalam arena tarung politik yang kejam. Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa pernah menguraikan pernyataan menarik untuk disimak, ia bertutur “ Agama dan Politik  bersifat saling melengkapi. Bukan terpisah seperti dalam sekularisme. Bukan pula menyatu seperti dalam rumusan fundamentalisme”. 

Sebagai seorang Nasrani, saya cukup dekat dengan kelompok pemuda Ansor yang banyak kali berdialog tentang gagasan pluralisme Gusdurian. Dan apa yang diuraikan dalam pernyataan Muhaimin Iskandar diatas sangat saya setuju. Indonesia adalah negara demokrasi yang beragama tapi bukan sebagai negara agama. Menjadi negara religius tidak bisa membuat kita menjadi negara radikalis atas nama agama. Para pendiri bangsa ini telah meletakan dasar negara Pancasila supaya Indonesia bisa menjadi rumah solidaritas bagi pluralitas agama, suku, bahasa, adat dan golongan. Banyak kali berkesempatan berdiskusi dengan mereka yang punya mimpi merawat pluralitas bangsa memberikan kita optimisme akan Indonesia yang lebih cerah dimasa depan. Bertukar pikiran dengan mereka yang rela memberikan bahu perjuangan rakyat memantik nyali dalam sanubari agar tidak berdiam diri membisu ketika melihat hak kesejahteraan rakyat harus dikhianati.

Sebagai warga gereja, kita harus berani mengkaji gagasan kritis untuk mengkontekstualisasi nilai-nilai teologis secara relevan tapi tegas dalam realitas politik kekinian tanpa harus kehilangan identitas injili. Gereja harus menyadari perannya sebagai “garam dunia” dan bukan sebagai “Gudang garam”, bukan menjadi eksklusif dengan membangun sekat religius radikalis yang malah meng-alienasi diri dari lingkungan lokal yang harusnya digarami dengan perubahan yang bersifat konkrit secara holistik. Gereja harus berperan pro aktif tapi fleksibel dengan tetap memiliki filter nilai terhadap segala abrasi moralitas dalam realitas politik. Saya teringat dengan perkataan Jenderal Besar Soedirman yang berkata “Kejahatan merajalela bukan karena keadilan tidak berdaya untuk melawan tapi karena orang benar memilih diam tidak berbuat apa-apa”.

Gereja sebagai lembaga religius yang menghisap banyak orang didalamnya tidak bisa dikapitalisasi menjadi alat politik praktis. Hal ini karena didalam warga jemaat ada banyak warna kepentingan politik sebagai bagian dari realitas normal sebuah kehidupan demokrasi. Ketika gereja dikapitalisasi sebagai alat politik praktis yang dipolarisasi pada satu kepentingan politik akan memicu terjadinya keretakan solidaritas internal jemaat. Isolasi kepentingan politik akan terbangun secara tidak kelihatan tapi akan sangat terasa karena adanya kubu-kubu kepentingan politik didalam warga jemaat. Dengan demikian, gereja secara lembaga religius harus netral dalam ruang publik sehingga gereja menempatkan perannya sebagai perekat solidaritas ditengah perbedaan.

Warga gereja secara personal sebagai bagian dari kehidupan demokrasi punya hak untuk dipilih dan memilih secara politik. Hak ini adalah hak asasi dan harus saling dihargai ketika terjadi perbedaan pilihan politik. Dibutuhkan kedewasaan politik sebagai warga gereja yang injili dalam menempatkan politik secara “personal” dan “universal”. Secara personal, keputusan politik dari setiap warga gereja harus dihargai dengan segala perbedaannya. Tapi secara universal, sekalipun keputusan personal politik yang berbeda tidak boleh mengancurkan solidaritas universal dalam lingkungan warga gereja atau masyarakat secara umum. 



 BIOGRAFI PENULIS

  

Jerry Bambuta, sejak Tahun 2010 aktif sebagai Mentoring Group Leader dari pelayanan misi Holistic Interdenominasi ARK OF CHRIST LANGOWAN yang dinaungi oleh Yayasan Bahtera yang berpusat di Bandung, Jawa Barat. Aktif dalam melakukan kegiatan pelatihan kepemimpinan muda dan pemuridan di kampus UNSRAT Manado dan UNIMA Tondano. Selain itu, aktif sebagai Leader dari MATCON (Mapalus Tech Connection) yang focus dalam layanan komersil dalam bidang Website Development, Software Development, Rural Network Solutions, IT Security, IT Consulting & Training. Bersama tim MATCON, pada tahun ini sementara menyiapkan konsep optimalisasi dalam peran pendampingan e-government untuk setiap pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kota dan pemerintah desa dalam penerapan e-government di kawasan Sulawesi Utara dan Indonesia Timur. Selain itu juga, berperan aktif sebagai pimpinan dalam program Forum Literasi Masyarakat (Forlitmas) Sulawesi Utara, FORLITMAS adalah sebuah wadah edukatif yang focus membangun literasi masyarakat, publikasi riset, afiliasi kemitraan dan inkubasi kemandirian masyarakat. Forlitmas di dominasi oleh pemuda/mahasiswa yang terpanggil berperan dalam membangun kultur literasi masyarakat baik secara local maupun nasional. Dalam kegiatan swadaya tani nelayan, sejak tahun 2014 giat melakukan pembinaan petani di Kabupaten Minahasa dalam program GENTA SAKTI (Gerakan Pertanian Desa Produktif).  
Email : Jerbam157@gmail.com