PERS Sebagai Akselerator Perubahan - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

 

Advertisement



PERS Sebagai Akselerator Perubahan

 

Ilustrasi (Foto: Ist)


Catatan: Alfeyn Gilingan


Sulut24.com - Opini, Kalimat pada judul di atas adalah penggalan tema yang dikedepankan --oleh pertama-tama Dewan Pers dan Persatuan Wartawan Ingonesia (PWI)-- guna memperingati  Hari Pers, 9 Februari 2021. Tema lengkapnya ini: 

Bangkit dari Pandemi, Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, Pers sebagai Akselerator Perubahan.

Ditilik lebih jauh, tema tersebut sangat berat. Setidaknya ada tiga hal besar, yaitu (1) Bangkit dari Pandemi, (2) Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi, dan (3) Pers sebagai Akselerator Perubahan.

Dalam amatan saya, tiga hal tersebut sangat besar. Luas cakupan, apalagi biasnya. Realisasinya pun tidak semudah membaca tanpa kalimat tema ini dengan sekali helaan nafas. Iya, apalagi dalam situasi seperti sekarang.

Mungkin bagi Dewan Pers include PWI, tema ini hanya tersimpul dalam satu hal, satu visi dan misi. Hanya kalimatnya dibuat panjang. Tetapi justru dengan dibuat kalimat panjang, satu hal yang dimaksud menjadi tidak fokus, mengawang.

Kata "bangkit" mengindikasikan bahwa ada "subjek" yang mati. Fisik yang kaku dan sudah tidak bernafas. Sudah tidak bergerak lagi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Sehingga harus dibuat menjadi hidup kembali. Dengan frasa "dari Pandemi", nyata sekali bahwa "ada subjek' yang mati itu karena pandemi.

Lalu, siapa "subjek" yang mati dan hendak bangkit itu? 

Tentu saja, tidak lain adalah pekerja dan segenap elemen pendukung pers yang tersimpul dalam pers nasional, pers Indonesia. Tetapi benarkah pers nasional (sudah) mati karena pandemi (Covid-19)?

Itu terlalu sinis. Sangat konyol. Apalagi jika yang disasar dengan "bangkit dari Pandemi" bukan hanya pers dan segenap entitasnya melainkan seluruh ke-Indonesia-an, termasuk aspek ekonomi. Pers nasional dalam ke-Indonesia-an tidak pernah mati hanya karena pandemi. 

Selanjutnya makna dan misi yang diusung kalimat "Jakarta Gerbang Pemulihan Ekonomi".  Dikaitkan dengan kalimat awal, tampak paradoks. Jika bangkit berarti sudah mati, bagaimana mungkin ada upaya pemulihan? 

Kerja pemulihan dilakukan jika "subjek" setelah mengalami sakit. Pemulihan dilakukan agar kembali pada keadaan semula. Menjadi sehat, bugar lagi. Apakah pers nasional dalam keadaan sakit? Ah, rasanya pers Indonesia sehat-sehat saja dalam sakitnya yang panjang sampai hari ini.

Jakarta memang  selalu disimbolkan sebagai "ukuran" Indonesia secara keseluruhan. Sehingga dalam kaitan dengan tema peringatan Hari Pers 2021, Dewan Pers include PWI menggulir maksud  menjadikan Jakarta sebagai gerbang pemulihan ekonomi (pers) Indonesia tatkala sedang terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Sungguh, maksud ini baik. Sangat ideal. Bahkan begitu mulia. Tetapi maksud ini justru mengurangi kemuliaan ke-Indonesia-an. Jakarta yang sarat masalah dan cenderung tidak teratasi sampai hari ini. Maka tidak serta-merta dianggap ideal dijadikan gerbang untuk pemulihan ekonomi Indonesia. 

Dan akhirnya kalimat ketiga dalam tema: pers  sebagai akselerator perubahan. Ini misi yang sangat berat. Pers nasional yang kelihatan sehat dalam sakitnya yang panjang, kini didaulat untuk menjadi akselerator perubahan, sungguh suatu kerja yang amat berat. 

Akselerator, diartikan sebagai suatu sarana. Pada peringatan Hari Pers 2021, pers (nasional)  dikonsensuskan hendak menjadi sarana untuk perubahan (di/untuk Indonesia).  

Pertanyaannya, pers sebagai akselerator perubahan apa? Perubahan agar pekerja pers (juga di daerah-daerah) dapat hidup sejahtera, merdeka berkarya secara profesional?

Pers Nasional (baca: Pers Indonesia) punya sejarah perjuangan panjang. Punya peranan penting dalam melaksanakan pembangunan sebagai pengamalan Pancasila. Lahirnya pers ditandai dengan penerbitan surat kabar, radio dan televisi, dan kemudian media online sangat berkaitan serta tidak dapat dipisahkan dari sejarah lahirnya idealisme perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan. 

Jika jerih juang (pekerja) sudah menjadi tonggak sejarah kemerdekaan Indonesia, sampai hari ini pers masih bersimpuh pada ketidak-merdekaannya sendiri. Bagaimana bisa pers didaulat menjadi akselerator perubahan dalam arti yang sesungguhnya?

Taksim kepada Dewan Pers include PWI. Dalam situasi yang tidak normal penuh pembatasan, tetap berbesar hati menyiapkan giat peringatan Hari Pers, 9 Februari 2021. Catatan ini bermaksud mengingatkan bahwa pers harus mencapai inti kesejatiannya: sekaranglah waktunya mencapai kemerdekaan diri agar berhasil guna ketika didaulat menjadi akselerator perubahan.

Bagi saya, sejak awal hadir, pers Indonesia memang sudah menjadi tonggak. Berjuang  memerdekakan Indonesia. Menyegarkan dirinya sendiri  walau sedang tidak sehat, dihimpit dari dalam maupun dari luar. Ditekan, dibatasi, dan sebagainya. Dan pers, tetap berdiri sebagai tonggak yang tegar demi Indonesia, untuk Pancasila. 

Selamat Hari Pers, 9 Februari 2021. Tegar selalu dalam ke-Indonesia-an. (*)


Advertisement





 

Advertisement