PLTSa, Solusi Atasi Sampah Manado - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

PLTSa, Solusi Atasi Sampah Manado

Gambar proses kerja PLTSa (Gambar Ist)


Catatan: Alfeyn Gilingan


Sulut24.com, OPINI - Periode kepemimpinan Vicky Lumentut dan Moor Bastian selesai, diganti AARS (singkatan dari Andrew Angouw dan Richard Sualang). AARS peraih suara terbanyak alias pemenang Pilwako 9 Desember 2020. 

Dus, Senin, 10 Mei 2021, kota Manado berganti pemimpin. Pasangan AARS sebagai Walikota dan Wakil Walikota yang baru, dilantik Gubernur dan "diterima sepenuhnya" oleh seluruh rakyat Manado melalui prosesi rapat paripurna istimewa DPRD Manado beberapa saat usai pelantikan.

Sebagai pemimpin yang baru kota Manado, pasangan AARS punya banyak pe-er. AARS segera bekerja keras usai pelantikan. AARS akan melanjutkan kerja besar yang belum diselesaikan pemimpin terdahulu. Banyak kerja yang belum rampung, dari hulu hingga ke hilir.

Seperti warga Manado yang lain, saya berharap AARS dapat membenahi carut-marut aneka masalah yang ditinggal pemimpin sebelumnya. Termasuk yang utama, masalah sampah. Sepekan sebelum dilantik, wajah Manado disuguh pemandangan tumpukan sampah di banyak titik; dari utara hingga selatan dan barat hingga timur.

Bagi saya, AARS tidak perlu menguras otak untuk berpikir bagaimana seharusnya mengatasi masalah sampah di Manado. Selain harus cekatan bertindak membenahi manajemen bersih kota hingga tempat pembuangan akhir sampah --kalau memang berniat besar melakukannya, AARS hanya cukup menjalankan permintaan Presiden RI, Joko Widodo

Apa itu? Merealisasikan program sampah menjadi energi listrik yang ramah lingkungan. Sehingga sampah Manado tidak menjadi problem berkepanjangan; sehingga Manado memiliki PLTSa alias Pembangkit Listrik Tenaga Sampah.

Ya, menurut saya, sangat tepat kalau AARS merealisasikan permintaan Presiden Jokowi. Tidak perlu berpikir bagaimana membuat rancang bangunnya, cukup meniru atau copy --sebagaimana diperintah Presiden-- model yang sudah dikembangkan kota Surabaya. 

Saat ini Surabaya memiliki instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) berbasis ramah lingkungan di TPA Benowo. Presiden Jokowi memberi apresiasi setinggi langit kepada Pemkot Surabaya.

Atas capaian itu, Presiden Jokowi juga meminta pemerintah kota lain untuk meniru Pemkot Surabaya dalam mengembangkan TPA Benowo. Toh tidak apa-apa kalau Manado "menjiplak" cara kelola sampah yang dilakukan kota Surabaya.

Selain Surabaya, ada enam kota lain yang dipilih jadi pilot project program serupa. Yaitu Jakarta, Tangerang, Bandung, Semarang, Surakarta, dan Makassar. Walau pun tidak masuk terpilih jadi kota pilot project tetapi bukan hal yang tabu kalau Manado mengajukan permintaan kepada Presiden untuk menyusul masuk menjadi bagian dari program tersebut.

Presiden Jokowi sudah mengeluarkan Perpres Nomor 16 Tahun 2018 yang diikuti dengan Perpres Nomor 35 Tahun 2018 tentang Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

PLTSa atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah adalah pembangkit listrik termal dengan uap supercritical steam. Berbahan bakar sampah atau gas metana sampah. Sampah dan gas metana sampah dibakar menghasilkan panas yang memanaskan uap pada boiler steam supercritical.

Saat ini energi listrik berbasis lingkungan yang diproduksi PLTSa Benowo Surabaya dibeli oleh PLN. PLTSa Benowo yang baru berkapasitas 9 MW, sedangkan PLTSa Benowo sudah beroperasi dengan teknologi Landfill Gas Power Plant dan sudah dibeli PLN sebesar 1,65 MW.

PLN bekerja sama dengan IPP (Independent Power Producer) PT Sumber Organik. Energi listrik dari sampah dibeli PLN dengan harga US$13,35 cent/kWh sesuai dengan Peraturan Presiden No. 35 Tahun 2018. 

Untuk kapasitas 9 MW dari PTLSa Benowo, disebut-sebut dapat digunakan untuk melayani kebutuhan listrik sekitar 5.885 rumah tangga dengan daya 1.300 VA di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Jika Manado, misalkan punya tiga PLTSa saat AARS memimpin selang tiga tahun berjalan, ketersediaan listrik kapasitas 27 MW sudah dapat melayani kebutuhan sekitar 15 juta rumah tangga. Kebutuhan listrik ini tidak hanya melayani rumah tangga yang belum terlayani listrik saat ini tetapi diperuntukkan bagi rumah tangga baru. Sebab dalam sepuluh tahun terakhir, perumahan baru berjejal hadir di Manado. (Penulis, warga kota Manado)