Refleksi Natal: Tradisi Simbolik dan Momentum Refleksi Diri - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Refleksi Natal: Tradisi Simbolik dan Momentum Refleksi Diri

Jerry F. G. Bambuta  (Foto: dok pribadi)


Opini Oleh : Jerry F. G. Bambuta 

(Founder Forum Literasi Masyarakat)


Sulut24.com, OPINI - Setiap setahun sekali pada bulan Desember identik dengan perayaan Natal Kristiani. Tradisi ini sudah menjadi seremonial yang di rayakan dengan berbagai kemeriahan. Dari pernak-pernik natal yang menghiasi jalan-jalan hingga memenuhi dalam rumah-rumah umat Kristiani. Berbagai perayaan dengan ibadah khusuk, ramah tamah hingga pesta kembang api seakan menjadi simbol klasik dari tradisi Natal setiap tahun.

Sebuah seremonial rutin berpotensi terjebak dalam distorsi. Perayaan Natal secara rutin berpotensi terjebak dalam "tradisi formalitas", yang pada akhirnya malah meninggalkan "esensi" dari Natal yang sejati. Kita lebih disibukan dengan aktivitas konsumerisme dan hedonisme daripada menjadikan Natal sebagai momentum spiritual untuk melakukan refleksi personal. Bahkan, karena ekspektasi konsumerisme dan eforia hedonisme malah membuat Natal jadi ajang pesta pora yang kehilangan makna spiritual.

Dalam lensa iman Kristiani, secara umum, Natal dirayakan untuk memperingati kelahiran Yesus di kandang Betlehem. Kelahiran Yesus sebagai Anak Manusia adalah awal dari karya keselamatan umat manusia dari dosa. Pada puncaknya, bayi mungil Betlehem yang di kenal sebagai "Sang Immanuel" akan merelakan hidup-Nya sebagai "korban penebusan dosa" di Kayu Salib (Lukas 2:12, Yohanes 14:6, 2 Korintus 5:21, Yohanes 3:16).

Ada beberapa catatan reflektif terkait Natal Yesus Kristus yang wajib memberi kita "pencerahan spiritual". Dengan demikian, Natal bagi kita bukan lagi sebatas "tradisi simbolik" tapi menjadi "momentum spiritual" yang berharga untuk kita lebih berintrospeksi diri dalam pendewasaan spiritual secara holistik. Konteks pendewasaan spiritual secara holistik ini bukan hanya terkait pada dampak positif secara spiritual tapi juga secara intelektual, mental dan sosial. Saya mengurai catatan reflektif terkait Natal sebagai berikut.

Pertama, berita kelahiran Yesus dibawa oleh Malaikat Gabriel kepada Maria pada bulan ke enam (Lukas 1:26)

Bulan ke enam pada ayat Alkitab di atas bukan di hitung dari kalender gregorian (Januari - Desember), tapi di hitung dengan kalender ibrani. Pada bulan ke enam dalam kalender ibrani adalah "Elul". Elul adalah bahasa ibrani yang memiliki arti "Nothingness" (Strong Lite Dictionary). Nothingness mengandung makna ketiadaan atau kehampaan. Makna reflektifnya adalah meskipun kita berada dalam sebuah situasi "hampa", yang paling terpenting adalah Yesus sudah hadir dalam "palungan hati" kita.

Resesi global hari ini benar-benar membuat sekian banyak diantara kita seperti dalam situasi "hampa". Kondisi ekonomi yang terhimpit, bisnis yang stagnasi, anjloknya income reguler dan konflik lainnya seperti ruang "hampa" dalam hidup kita. Tapi, mari kita ingat bahwa kita memiliki "Yesus" yang hadir dalam "palungan hidup" kita. Yesus hadir dalam hidup kita bukan hanya sebatas "retorika teologis", tetapi menjadi "sumber sentral" dari segala hikmat dan kebijaksanaan kehidupan (Kolose 2:3).

Hikmat dan kebijaksanaan ilahi ini yang membuat kita cakap dalam mengambil keputusan dalam apapun yang kita lakukan. Apapun profesi yang kita geluti, hikmat dan kebijaksanaan ilahi ini akan seperti "kompas solusi" yang membuat kita bisa menembus berbagai resesi dan konflik, dan secara dewasa menempatkan diri sebagai "saluran berkat" bagi banyak orang di sekitar kita. Oleh karena itu, jangan ijinkan diri kita dijebak oleh depresi, putus asa dan trauma karena situasi resesi atau konflik apapun.

Kedua, makna spiritual kelahiran Yesus di Palungan Betlehem (Lukas 2:12)

2.000 Tahun lalu, bayi mungil Betlehem di baringkan dalam palungan yang penuh kesederhanaan. Makna spiritual ini menegaskan bahwa "Sang Raja Sorgawi" penuh kemuliaan rela hadir dalam sebuah palungan sederhana di Betlehem. Tidak sepatutnya kita terjebak dengan eforia konsumerisme dan hedonisme dalam perayaan Natal. Jika 2.000 tahun lalu, sang "Juruselamat" sempat berdiam selama 9 bulan dalam rahim Maria, maka hari ini sang "Juruselamat" bukan lagi mencari rahim, tapi mencari "hati" untuk menjadi "tahta kediamanNya". Bukan hanya sebatas 9 bulan tapi selama-lamanya berdiam dalam hati kita.

Kehadiran Yesus dalam hati kita ibarat "lentera penerang" yang akan melenyapkan segala kegelapan. Jika "sumber terang" berdiam dalam hati kita, maka pancaran cahaya terang akan di refleksikan keluar dimana lingkungan kita berada. Dampak dari "terang Ilahi" akan mengubah kehidupan internal secara personal, selanjutnya akan berdampak keluar dalam lingkungan keluarga dan sosial masyarakat. Bukan hanya "suasana baru" karena meriahnya perayaan Natal, tapi dampak "introspeksi personal" melalui "kontemplasi spiritual" membuat kita menjadi "manusia baru" yang penuh dampak positif.

Sosok individualistik di transformasi menjadi sosok penuh empati terhadap sesama. Sosok materialistik di transformasi menjadi sosok yang terlepas dari jerat keserakahan dan arogansi. Sosok hedonistik di transformasi menjadi sosok penuh nilai dan keteladanan hidup. Pribadi yang mengalami realitas dari "kontemplasi spiritual" ini akan menjadi "oase kehidupan" yang menyegarkan di tengah krisis sosial masyarakat.

Jika entitas dari umat Kristiani secara universal membumikan dua nilai reflektif di atas, maka eksistensi Kristiani akan benar-benar menjadi "garam" yang memberikan "rasa asin transformasi" yang kental dalam masyarakat. Gereja dan umat Kristiani tidak menciptakan "tembok ekslusifitas" dengan  lingkungan luar yang majemuk dan penuh konflik. Gereja dan umat Kristiani akan membangun "jembatan konektifitas" ke dunia luar. Sehingga "terang perubahan ilahi" akan berdifusi keluar menembus berbagai sekat isolasi, diskriminasi dan disparitas sosial dalam masyarakat.