Babinsa di Miangas Bantu Warga Bangun Rumah, Perkuat Ketahanan Sosial di Wilayah Perbatasan Indonesia - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Babinsa di Miangas Bantu Warga Bangun Rumah, Perkuat Ketahanan Sosial di Wilayah Perbatasan Indonesia

Serka Febri Talu saat membantu warga mengisi pasir kedalam karung (Foto: ist)

Gotong Royong Aparat Teritorial dan Masyarakat Menjadi Fondasi Stabilitas Sosial dan Pembangunan di Pulau Terluar.

Sulut24.com, TALAUD - Di tengah keterbatasan infrastruktur dan tantangan geografis wilayah perbatasan, peran aparat teritorial Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali terlihat dalam aktivitas sederhana namun bermakna. 

Seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa) di Desa Khusus Miangas, Kabupaten Kepulauan Talaud, membantu warga setempat mengangkut material pasir untuk pembangunan rumah tinggal, Jumat (9/1/2026).

Babinsa Koramil 1312-07/Miangas Kodim 1312/Talaud, Serka Febri Talu, terlibat langsung dalam proses pengangkutan pasir yang digunakan untuk membangun rumah milik keluarga Bawala Lupa, warga Desa Khusus Miangas. 

Kegiatan tersebut berlangsung secara gotong royong, mencerminkan pendekatan sosial yang menjadi ciri pembinaan teritorial TNI di wilayah perbatasan negara.

Miangas merupakan pulau terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina. Letaknya yang terpencil membuat akses terhadap material bangunan, teknologi konstruksi, dan layanan publik relatif terbatas. 

Dalam konteks ini, keterlibatan aparat negara tidak hanya berfungsi sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga sebagai penghubung sosial yang memperkuat ketahanan masyarakat.

Pendekatan Teritorial dan Pembangunan Sosial

Menurut Wakil Komandan Koramil 1312-07/Miangas, Kapten Infanteri Alvian Taengetan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab Babinsa dalam mendampingi masyarakat binaan. 

Ia menegaskan bahwa meringankan beban warga merupakan bentuk kepedulian sekaligus upaya membangun hubungan harmonis antara aparat dan masyarakat.

“Babinsa hadir bukan hanya dalam konteks keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari solusi sosial. Gotong royong menjadi sarana untuk menjaga kekompakan dan keharmonisan, sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap negara,” ujar Alvian. 

Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan pertahanan teritorial Indonesia yang menempatkan Babinsa sebagai ujung tombak di tingkat desa. 

Melalui interaksi langsung, aparat teritorial diharapkan mampu membaca dinamika sosial, ekonomi, dan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya di wilayah yang memiliki nilai strategis secara geopolitik.

Dimensi Ekonomi dan Ketahanan Wilayah

Pembangunan rumah tinggal di daerah terpencil seperti Miangas tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan papan, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi dan sosial yang lebih luas. Rumah layak huni berkontribusi terhadap stabilitas keluarga, kesehatan masyarakat, dan produktivitas ekonomi lokal.

Di wilayah kepulauan terluar, aktivitas ekonomi umumnya bergantung pada sektor perikanan tradisional, perdagangan skala kecil, dan dukungan logistik dari pemerintah. 

Keterbatasan pasar, tingginya biaya distribusi material, serta minimnya investasi swasta membuat pembangunan berbasis swadaya dan gotong royong menjadi model yang masih dominan.

Dalam konteks kebijakan publik, pemerintah Indonesia terus mendorong pemerataan pembangunan melalui program penguatan desa, peningkatan konektivitas, dan stabilitas wilayah perbatasan. 

Kehadiran aparat negara dalam kegiatan sosial dinilai berperan dalam menciptakan rasa aman, yang menjadi prasyarat penting bagi pertumbuhan ekonomi dan masuknya investasi jangka panjang.

Peran Babinsa dalam Dinamika Sosial Modern

Serka Febri Talu menuturkan bahwa kedekatan antara Babinsa dan masyarakat merupakan elemen kunci dalam mewujudkan kemanunggalan TNI dan rakyat. 

Ia menyebut bahwa keterlibatan dalam kegiatan gotong royong bukan sekadar rutinitas, melainkan strategi sosial untuk membangun kepercayaan dan solidaritas.

“Sebagai Babinsa, saya terus menggalang kebersamaan dengan masyarakat melalui setiap kegiatan yang ada. Gotong royong adalah nilai lokal yang relevan hingga saat ini, bahkan di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi,” ujarnya.

Di era ekonomi digital dan arus informasi global, wilayah perbatasan menghadapi tantangan baru, mulai dari migrasi tenaga kerja hingga penetrasi budaya luar. 

Dalam situasi tersebut, penguatan nilai kebersamaan dan identitas nasional menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas sosial.

Perspektif Pembangunan Berkelanjutan

Keterlibatan aparat dalam pembangunan berbasis komunitas juga dapat dilihat sebagai bagian dari pendekatan pembangunan berkelanjutan. 

Dengan mendorong partisipasi masyarakat, proses pembangunan tidak hanya berorientasi pada hasil fisik, tetapi juga pada penguatan kapasitas sosial.

Model ini selaras dengan prinsip pembangunan inklusif yang banyak didorong dalam forum global, di mana stabilitas sosial, partisipasi warga, dan tata kelola lokal menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan. 

Bagi wilayah seperti Miangas, pendekatan tersebut relevan untuk memastikan bahwa pertumbuhan dan stabilitas berjalan seiring.

Selain itu, keberadaan aparat negara yang aktif di lapangan berkontribusi pada persepsi positif terhadap institusi publik. 

Hal ini penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan pemerintah pusat.

Implikasi Lebih Luas bagi Wilayah Perbatasan

Aktivitas sederhana seperti membantu mengangkut pasir mungkin terlihat kecil dalam skala nasional. Namun, di wilayah perbatasan, tindakan tersebut memiliki makna simbolis yang besar. 

Ia mencerminkan kehadiran negara secara nyata, bukan hanya melalui kebijakan, tetapi melalui interaksi langsung dengan warga.

Ketika masyarakat merasa diperhatikan dan dilibatkan, stabilitas wilayah cenderung lebih terjaga.

Dalam jangka panjang, stabilitas sosial menjadi fondasi penting bagi pengembangan sektor lain, termasuk pendidikan, kesehatan, dan bahkan potensi ekonomi berbasis sumber daya lokal. 

Kegiatan Babinsa di Desa Khusus Miangas menunjukkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar atau investasi bernilai tinggi. 

Di banyak wilayah, terutama di pulau-pulau terluar, pembangunan berakar pada hubungan sosial, kepercayaan, dan kerja sama antara negara dan masyarakat.

Melalui gotong royong, aparat teritorial dan warga membangun lebih dari sekadar rumah. Mereka memperkuat jaringan sosial, menjaga stabilitas, dan menegaskan kehadiran negara di garis terdepan. 

Dalam lanskap global yang terus berubah, pendekatan berbasis komunitas ini tetap relevan sebagai fondasi pembangunan dan ketahanan nasional. (ep)