Bitcoin Konsolidasi di Atas US$95.000, Pasar Menimbang Risiko dan Peluang - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Bitcoin Konsolidasi di Atas US$95.000, Pasar Menimbang Risiko dan Peluang

Ilustrasi (AI-generated image/Sulut24.com)

Didorong Inflasi AS dan Sentimen Safe Haven, Analis Proyeksikan Harga BTC Berfluktuasi Lebar Tahun Depan.

Sulut24.com - Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$95.110 pada Rabu (14/1), menguat sekitar 3,2% dalam 24 jam terakhir, seiring meredanya inflasi Amerika Serikat dan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global, menurut data pasar kripto.

Penguatan ini terjadi setelah Bitcoin memantul dari area support US$91.787 dan sempat menyentuh resistance teknikal di sekitar US$96.400, sebelum bergerak konsolidatif, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar sambil menunggu katalis baru.

“Bitcoin saat ini bereaksi terhadap dinamika makro global, terutama data inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter,” kata analis dari CoinSwitch Markets Desk, dikutip The Economic Times. “Aset kripto semakin diposisikan sebagai alternatif penyimpan nilai oleh sebagian investor.”

Data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan mendorong reli aset berisiko dan safe haven secara bersamaan, termasuk kripto, emas, dan obligasi pemerintah, sementara ketegangan geopolitik global turut memperkuat permintaan lindung nilai.

Secara teknikal, grafik jangka pendek menunjukkan struktur bullish moderat, dengan rata-rata pergerakan jangka pendek masih menopang harga. Namun, pergerakan menyamping mengindikasikan pasar belum menentukan arah tren jangka menengah secara tegas.

Bitcoin sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di atas US$126.000 pada Oktober 2025, sebelum terkoreksi tajam akibat aksi ambil untung dan meningkatnya volatilitas pasar global, menurut data perdagangan historis.

Volume transaksi BTC tetap relatif tinggi, menandakan minat investor masih terjaga meskipun fluktuasi harga berlangsung cepat, seiring masuknya dana institusional melalui produk berbasis kripto, termasuk ETF.

Untuk tahun 2026, proyeksi analis masih beragam. Goldman Sachs dan sejumlah analis pasar memperkirakan Bitcoin berpeluang menembus US$200.000 jika adopsi institusional dan arus ETF berlanjut, sebagaimana dikutip Forbes dan CoinMarketCap.

Namun, pandangan lebih konservatif datang dari Standard Chartered, yang mematok target sekitar US$150.000, dengan alasan volatilitas tinggi dan potensi koreksi jika kondisi makro memburuk, menurut laporan AP News.

Profesor keuangan Carol Alexander menilai Bitcoin kemungkinan bergerak dalam rentang US$75.000 hingga US$150.000, mencerminkan fase konsolidasi setelah siklus kenaikan tajam sebelumnya.

Hingga saat ini, pasar kripto global masih mencermati perkembangan inflasi, suku bunga, dan regulasi sebagai faktor utama yang akan menentukan arah Bitcoin dalam beberapa bulan ke depan. (fn)