RDP Panas, Warga Tarun Ultimatum PLN ULP Melonguane: Stop Pemadaman Listrik atau Kami Aksi!
Suasana RDP perwakilan pemerintah, manager PLN ULP Melonguane dan masyarakat (Foto: ist)
RDP di Melonguane dihadiri sekitar 100 warga; masyarakat tuntut desa lokasi PLTD tidak lagi masuk jadwal pemadaman listrik.
Sulut24.com, TALAUD - Ratusan warga Desa Tarun dan Desa Tarun Selatan menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan PLN ULP Melonguane di Kantor Desa Tarun Selatan, Kecamatan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Minggu (8/3), untuk memprotes pemadaman listrik yang berulang dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu, warga menyampaikan ultimatum kepada PLN agar segera memperbaiki pasokan listrik atau menghadapi aksi lanjutan dari masyarakat.
Sekitar 100 warga menghadiri pertemuan tersebut. Hadir pula pemerintah kecamatan, aparat kepolisian, tokoh masyarakat serta perwakilan perusahaan yang menangani perbaikan mesin pembangkit.
Kepala Desa Tarun Selatan Yosua Ratungguri mengatakan masyarakat menilai pemadaman listrik yang sering terjadi telah merugikan aktivitas rumah tangga dan ekonomi warga.
Baca juga : Bangun Kesadaran Hukum Pelajar, Kejari Talaud Gelar Program Jaksa Masuk Sekolah di SMA Negeri 1 Rainis
“Desa Tarun dan Tarun Selatan adalah lokasi PLTD Tarun. Kami meminta kedua desa ini tidak lagi dimasukkan dalam jadwal pemadaman listrik,” kata Yosua dalam forum tersebut.
Ia juga menyampaikan beberapa tuntutan masyarakat, termasuk pengadaan mesin pembangkit baru, penempatan mekanik khusus di PLTD Tarun, serta penyediaan cadangan bahan bakar minyak agar pembangkit tetap beroperasi saat cuaca buruk.
“Jika tuntutan ini tidak ditindaklanjuti, masyarakat akan melakukan aksi lanjutan,” ujarnya.
Camat Melonguane Maksi Lindo mengatakan pemerintah daerah berencana menambah kapasitas pembangkit untuk mengatasi keterbatasan pasokan listrik di wilayah tersebut.
“Empat unit mesin pembangkit baru direncanakan tiba sekitar dua minggu ke depan,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat menyampaikan aspirasi secara tertib serta meminta pihak PLN memberikan penjelasan yang mudah dipahami warga.
Manager PLN ULP Melonguane Aditya Pranata mengatakan pemadaman listrik terjadi karena sejumlah mesin pembangkit mengalami kerusakan dan sedang dalam proses perbaikan oleh pihak ketiga, PT Nusa Daya Andika.
“Beberapa mesin mengalami gangguan sehingga kapasitas pembangkit berkurang. Saat ini proses perbaikan sedang berjalan,” kata Aditya.
Menurutnya, PLN juga mengusulkan pembangunan tangki induk cadangan BBM berkapasitas sekitar 150 kiloliter untuk menjaga operasional pembangkit.
Tangki tersebut diperkirakan dapat menopang operasional pembangkit listrik hingga delapan hari jika terjadi gangguan distribusi bahan bakar.
Selain itu, distribusi BBM ke Talaud juga direncanakan diperkuat dengan penambahan kapal pengangkut dari Pertamina di Bitung.
Dalam sesi diskusi, sejumlah tokoh masyarakat turut menyampaikan kritik terhadap kondisi kelistrikan di daerah tersebut.
Tokoh adat Ratum Banua Tarun melalui Welly Tataming meminta agar pemadaman listrik tidak dilakukan secara sengaja.
Sementara tokoh masyarakat Farli Maarende meminta PLN mempertimbangkan secara serius tuntutan masyarakat.
Andre Sulung juga mengusulkan agar teknisi yang menangani mesin pembangkit memiliki sertifikat dan lisensi resmi untuk menjamin kualitas perawatan mesin.
Menanggapi tuntutan warga, Aditya mengatakan usulan agar Desa Tarun dan Tarun Selatan tidak mengalami pemadaman listrik akan diteruskan kepada pimpinan PLN untuk dipertimbangkan.
Ia juga menyebutkan bahwa laporan kerusakan barang elektronik milik warga akibat pemadaman listrik akan dibahas lebih lanjut sesuai prosedur yang berlaku di PLN.
Di akhir pertemuan, Yosua kembali menegaskan sikap masyarakat.
“Jika listrik di desa kami tetap dipadamkan, kami siap memimpin aksi masyarakat di PLTD Tarun,” katanya. (ep)


