Sebuah Catatan Kontemplasi: Benih Itu Akan Terus Bertumbuh - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Sebuah Catatan Kontemplasi: Benih Itu Akan Terus Bertumbuh

Ilustrasi (AI-generated image/Sulut24.com)

Oleh:
Jerry F. G. Bambuta
FORUM LITERASI MASYARAKAT

Sulut24.com, OPINI - Terlahir sebagai anak kampung kerap kali menyemai "benih kesederhanaan", di mana kesederhanaan ini bukan menjadi polesan luar tapi sebagai identitas original yang alami. Benih yang menyimpan tekad mempertahankan nilai-nilai luhur, yang tak bisa di pisahkan dengan kepedulian alami merawat jalinan solidaritas kekeluargaan. 

Benih tersebut "berdiam" bagai "kepompong" dalam memori dan hati nurani. Kepompong yang tampak dari luar seperti tidak bergerak, tapi tidak ada yang menyangka di dalamnya ada "denyut kehidupan" yang menunggu waktu tepat untuk keluar dan menjelma sebagai kupu-kupu dengan sepasang sayapnya yang kokoh.

Waktu bergulir dan mengandeng tangan kita menyusuri lorong-lorong hidup yang gelap, melewati bukit terja berbahaya, bahkan melewati lembah yang penuh embun beku menusuk tulang. Ada masa di mana tebing terjal penuh bahaya harus di lalui seorang diri. Jauh dari kerumunan orang banyak. 

Kaki dan lutut kita pun kerap kali harus tergores luka karena sesekali terantuk pada batu-batu cadas dari tebing terjal. Air mata dan peluh pun menjadi kawan karib ketika lorong gelap, puncak bukit, dasar lembah dan tebing terjal harus di lalui seorang diri.

Sobat.
Dalam ruang senyap yang jauh dari perhatian publik, benih itu akan terus bertumbuh. Benih tersebut tersembunyi tapi tetap mendesak cangkang sehingga akar bisa menembus kuat ke dalam tanah. Serabut akarnya terus mendesak melewati rongga-rongga tanah menemukan "Sumber air". 


Membangun jalinan akar yang kuat tertancap, sehingga sekalipun di terpa amukan badai tetap kokoh terpancang. Sekalipun di bakar terik matahari musim kemarau, akan tetap kokoh karena berhasil menyerap "Sumber air" dari dalam tanah.

Siapa dirimu di masa depan kadang adalah benang merah dari mana dirimu di masa lalu dan masa kini. Tetaplah berbangga pernah di lahirkan senagai "anak kampung" tapi jangan mau di jerat dengan "mental kampungan". Mental kampungan karena lebih betah mengobral ludah penjilat ketimbang menguras air mata dan peluh agar bisa berdikari.  

Mental kampungan yang kecanduan dengan validasi demi pengakuan publik, ketimbang menempa diri dalam kawah Chandradimuka. Agar menjadi sosok tangguh yang kaya dengan nilai kehidupan berharga.

Enggan menjadi penjilat yang tak segan melacurkan diri dalam hedonisme, materialisme dan invididulisme demi membangun imperium pribadi. Ketika pencapaian diri dan pembuktian diri menjadi utama tapi mengabaikan kepekaan nurani dan kewarasan logika, maka kita sementara meninggalkan hakikat kemanusiaan kita. 

Kita bisa menjadi besar bukan karena menginjak sesama manusia, tapi karena bisa mengangkat sesama manusia agar bisa berdiri bersama dalam kesetaraan.

Lewati dengan tabah semua masa suram penuh bahaya. Berani dan optimis melalui setiap "gurun kehidupan" yang ganas dan keras. Tidak masalah harus meniti dari bawah, bahkan harus terpaksa babak belur karena konsekuensi pembentukan karakter hidup. Ada masanya di mana kita seperti di paksa ke dalam arena di mana semua telunjuk justifikasi publik terarah ke kita. Bahkan, kesempatan  untuk klarifikasi diri harus di cabut. Kita hanya bisa mengatup mulut sembari gelora optimisme mendidih dalam dada.

Kita akan berhadapan dengan sinisme dan umpatan dari mereka yang gagal paham tentang metomorfosis kehidupan. Kaum sinis tersebut akan lebih suka menjadi hakim terhadap orang lain tanpa menyadari bahwa beban penghakiman yang sama di bebankan juga kepada mereka. 

Seperti metomorfosis kupu-kupu, sebelum pada fase kepompong, telur kupu-kupu akan menetas menjadi ulat. Ulat yang kelihatannya merugikan karena melubangi dedauan. Tapi, tidak banyak yang tahu bahwa itu adalah tahapan awal menuju tahapan metomorfose yang lebih baik dari sebelumnya.

Sobat.
Setiap kita tak luput dari kekurangan, setiap orang punya hak untuk menghakimi, mengkiritik, mencemooh bahkan menghina kita. Rasa tidak nyaman karena situasi tersebut tidak bisa jadi alasan untuk melarang orang lain melakukannya. 


Kita harus berani dan penuh lapang dada melewatinya. Mengapa? Karena Tuhan punya kedaulatan untuk mengubah hidupmu dari segala luka-luka masa lalu. Seperti tangan Tuhan yang mengubah ulat menjadi kepompong dan kupu-kupu, demikian juga Tuhan sanggup mengubah kelamnya masa lalu menjadi cerahnya masa kini dan indahnya masa depan.

Benih itu akan terus bertumbuh.
Akarnya akan menyerap "zat hara kehidupan" dari Sang Khalik. Tunasnya akan mekar dan kemudian menjadi pohon yang kekar tertancap. Dedaunannya yang rindang akan menjadi tempat berteduh bagi banyak orang. Bahkan burung-burung di udara pun menemukan tempat untuk membangun sarang membesarkan anak-anaknya. Dan buah dari pohon itu akan lebat menjadi berkah bagi banyak orang yang mencicipinya.

Tetaplah tegar dan tegakan kepalamu menjemput masa depan yang penuh kejutan!

Editor : fn