Lingga Takaliumang, ASN Perawat yang Tidak Risih Menjual Cabai - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Lingga Takaliumang, ASN Perawat yang Tidak Risih Menjual Cabai

Lingga Takalumang saat menjual cabai (Foto: ist)

Perawat ASN Golongan III B di Talaud Manfaatkan Hari Libur dengan Menjual Cabai Hasil Kebun Sendiri. 

Sulut24.com, TALAUD - Setiap Sabtu, ibu Lingga Takalumang mengisi waktu luang. Menjual cabai di pasar Beo, Kabupaten Kepulauan Talaud. Kendati ia seorang ASN perawat dengan Golongan III B.

"Sabtu kan libur, saya tidak masuk kerja. Jadi saya manfaatkan dengan berjualan di pasar Beo," kata perawat yang murah senyum itu.

Sungguh, ibu Lingga adalah satu dan sekarang mungkin hanya satu-satunya dari sedikit ASN di Talaud yang mengisi waktu luang dengan cara yang dipilih sendiri: menjual cabai di pasar.

Ibu Lingga tidak pernah risih duduk berjualan di jalan pasar yang kotor dan di bawah terik. Cabai yang ia jual adalah hasil dari kebun sendiri.

Apakah gaji sebagai ASN III B tidak cukup? "Bukan soal itu, soal gaji yang cukup atau tidak," sela ibu Lingga tersenyum.

Menurut ibu Lingga, semua kebutuhan yang telah tercukupi karena berkat dari Tuhan. Termasuk berkat kesehatan dan kesempatan berkaya untuk membantu banyak orang.

Sebetulnya, ibu Lingga tak perlu berjualan cabai di pasar Beo. Kebutuhan hidup kelurga pasti tercukupi. Sebab suaminya, Rusly Aimbu, saat ini tercatat sebagai Komite di Bank Sulut Gotontalo. 

Tidak hanya itu. Dua putri mereka, Garnasi Novelia Putri Aimbu SH dan Maharani Kartika Dewi Arimbu AMKep, sudah bekerja. Dus, keduanya sudah punya penghasilan tetap.

Jadi, mengapa ibu Lingga harus bersusah payah duduk di tepi jalan yang kotor, di bawah terik matahari, hanya untuk berjualan cabai?

Ibu Lingga hendak mencontoh, memberi motivasi kepada masyarakat Talaud. Lebih khusus ASN di daerah perbatasan dengan Filipina itu.

Cabai yang dijual adalah hasil dari kebun sendiri. Tahun lalu, ia bersama suami memanfaatkan lahan yang luasnya sekitar satu hektar di desa Daran, Kecamatan Pulutan. 

Lahan yang tidak jauh dari rumah tinggal itu kemudian ditanami cabai. Bibit dan pupuk mendapat suport dari pemerintah melalui dinas pertanian setempat.

Pemanfaatan lahan untuk ditanami cabai, kata ibu Libgga, sekaligus mendukung program pemerintah provinsi Sulut. Secara khusus membantu program ketahanan pangan di kabupaten Talaud.

Apalagi di Talaud masih punya lahan cukup luas, subur yang cukup untuk dimaafkan untuk bertani. Selain cabai, bisa juga ditanami sayur-mayur untuk mendukung pemenuhan cabai dan sayur-mayur yang dibutuhkan masyarakat Talaud.

"Sekarang sudah panen kedua. Cabai yang dipanen itulah yang saya jual di pasar Beo. Nah, saya manfaatkan waktu luang dengan berjualan setiap Sabtu," kata ibu Lingga.

Tidak merasa risih? "Ah, untuk apa risih. Saya ASN, sebagai perawat, toh saya adalah manusia yang berkewajiban membantu daerah dan masyarakat. Tuhan sudah beri kesempatan dan harus dimanfaatkan dengan baik," tegas ibu Lingga.

Pernyataan dan tindakan ibu Lingga, sejatinya sedang mencahayakan harapan untuk masyarakat, khususnya para ASN di Talaud agar mengisi waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.*