Ratusan Warga Melonguane Datangi Mako Lanal, Tuntut Penindakan Dugaan Penganiayaan Warga Sipil - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Ratusan Warga Melonguane Datangi Mako Lanal, Tuntut Penindakan Dugaan Penganiayaan Warga Sipil

Suasana aksi unjuk rasa di Mako Lanal Melonguane (Foto: ist)

Aksi massa desak Presiden dan Panglima TNI menindak oknum TNI AL terkait insiden di Pelabuhan Melonguane.

Sulut24.com, TALAUD - Ratusan warga Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, mendatangi Markas Komando Pangkalan TNI Angkatan Laut (Mako Lanal) Melonguane, Jumat (23/1/2026), menuntut keadilan atas dugaan penganiayaan yang dilakukan oknum anggota TNI AL terhadap warga sipil di Pelabuhan Melonguane pada Kamis malam (22/1/2026).

Aksi tersebut digelar oleh Aliansi Masyarakat Melonguane bersama tokoh adat, tokoh masyarakat, serta Ormas Laskar Porodisa Talaud sebagai bentuk protes dan desakan agar aparat menindak tegas pelaku serta memastikan proses hukum berjalan transparan.

Massa menyebut sedikitnya enam warga menjadi korban dalam insiden tersebut, yakni Reinaldi Pangkey, Saldi Damar, Patri Saweduling, Berkam Saweduling, Rizki Sangadi, dan Yulius Tahulending. Salah satu korban, Berkam Saweduling yang berprofesi sebagai tenaga pendidik, dilaporkan mengalami luka parah dan saat ini menjalani perawatan intensif di RSUD Mala.

Aksi berlangsung dengan pengamanan ketat dari personel Kepolisian Resor Kepulauan Talaud dan Kodim 1312/Talaud guna menjaga situasi tetap kondusif.

Aksi massa dipimpin oleh Godfried Timpua selaku Koordinator Lapangan (Korlap), didampingi sejumlah tokoh masyarakat Melonguane, antara lain Youce Adam, Sweleng Adam, Gerson Essing, Hendrik Timpua, Renalto Tumarah, dan Albert Ladi.

Turut hadir tokoh adat Ramli Adam selaku Ratum Banua Melonguane, Aldianto Golung selaku Pentua Adat Melonguane, Diston Lindo selaku Panglima Laskar Porodisa Talaud, serta pimpinan Pemuda Melonguane Bastian Amos.

Dalam orasinya, Godfried Timpua mendesak Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Panglima TNI agar segera menindak tegas oknum TNI AL yang diduga terlibat penganiayaan terhadap warga sipil.

“Kami menuntut penegakan hukum yang adil dan terbuka. Kekerasan terhadap warga sipil tidak boleh dibiarkan tanpa pertanggungjawaban hukum,” kata Godfried Timpua.

Massa juga menuntut pencopotan Komandan Lanal Melonguane apabila dalam waktu 1 x 24 jam tidak ada tindakan tegas terhadap oknum pelaku. 

Selain itu, mereka meminta agar kapal KAL TNI AL yang berada di Pelabuhan Melonguane dilepas sementara dari wilayah tersebut hingga ada kejelasan hukum atas kasus itu.

Aksi massa diterima oleh Kapten Laut (T) Hasto Narimo. Sementara itu, Komandan Lanal Melonguane Letkol Laut (P) Yogie Kuswara, M.Tr. Opsla, menyampaikan pernyataan melalui sambungan video call WhatsApp yang diperdengarkan langsung di hadapan peserta aksi.

“Saya selaku Danlanal Melonguane menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat atas kejadian ini,” ujar Yogie Kuswara.

Ia menegaskan bahwa setiap personel yang terbukti melanggar aturan akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku. 

“Apabila ada personel yang bertindak tidak sesuai prosedur, saya pastikan akan ditindak tegas,” katanya.

Menurut Yogie, pihaknya akan menelusuri peristiwa tersebut secara objektif dan transparan. 

“Kami akan menyimpulkan secara jelas mana yang salah dan mana yang benar, dan hasilnya akan kami sampaikan kepada masyarakat Melonguane,” ujarnya.

Kasus ini menjadi perhatian publik di wilayah perbatasan Talaud, di tengah tuntutan masyarakat agar aparat keamanan menjalankan tugas dengan menjunjung tinggi hukum dan perlindungan terhadap warga sipil. (ep)