Rial Iran Anjlok Tajam Awal Januari 2026, Nilai Tukar ke Rupiah Merosot Drastis - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Rial Iran Anjlok Tajam Awal Januari 2026, Nilai Tukar ke Rupiah Merosot Drastis

Grafis penurunan mata uang Rial (Gambar: ist)

Inflasi Tinggi dan Sanksi Global Tekan Stabilitas Mata Uang Iran. 

Sulut24.com – Nilai tukar mata uang Iran, Rial (IRR), anjlok tajam terhadap Rupiah Indonesia pada awal Januari 2026. Data Google Finance menunjukkan 1 Rial hanya setara sekitar 0,015 Rupiah, turun drastis dari kisaran 0,38–0,39 Rupiah sepanjang Desember 2025, berdasarkan pemantauan pada Selasa (13/1/2026).

Pelemahan tersebut terjadi dalam rentang 7–9 Januari 2026, mencerminkan tekanan berat terhadap perekonomian Iran di tengah inflasi tinggi dan dampak berkelanjutan sanksi internasional terhadap sektor keuangan negara tersebut.

Grafik pergerakan nilai tukar menunjukkan Rial relatif stabil hingga awal Januari sebelum mengalami kejatuhan mendadak dalam hitungan hari, menandai salah satu pelemahan tercepat mata uang Iran dalam beberapa waktu terakhir.

Dalam laporan yang diterbitkan Reuters pada 10 Januari 2026, disebutkan bahwa Iran masih menghadapi keterbatasan serius dalam mengakses sistem keuangan global akibat sanksi Amerika Serikat dan sekutunya, yang membatasi pasokan devisa serta ruang intervensi bank sentral.

“Sanksi finansial telah secara signifikan membatasi kemampuan otoritas moneter Iran untuk menstabilkan mata uang dan mengendalikan tekanan inflasi,” tulis Reuters dalam laporan analisis ekonomi kawasan Timur Tengah tersebut.

Sementara itu, Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan regional Middle East and Central Asia Outlook yang dirilis pada Desember 2025 mencatat bahwa inflasi Iran masih berada pada level tinggi dan terus menekan daya beli masyarakat serta nilai tukar mata uang domestik.

“Negara dengan inflasi tinggi dan cadangan devisa terbatas sangat rentan terhadap depresiasi mata uang yang tajam, terutama ketika menghadapi tekanan eksternal,” tulis IMF dalam laporan tersebut.

Pelemahan tajam Rial berdampak langsung pada kenaikan harga barang impor, meningkatnya biaya hidup, serta melemahnya kepercayaan pasar domestik terhadap mata uang nasional Iran.

Di sisi lain, kondisi ini turut mendorong peningkatan ketergantungan masyarakat terhadap mata uang asing dan aset lindung nilai seperti emas dan dolar AS, menurut pengamat ekonomi regional.

Bagi pasar internasional, termasuk Indonesia, pelemahan Rial Iran dinilai lebih sebagai indikator risiko ekonomi dan geopolitik global di kawasan Timur Tengah, dibandingkan memberikan dampak langsung terhadap stabilitas perdagangan bilateral. (fn)