Robert Kiyosaki: Investasi Kripto Tanpa Edukasi Sama dengan Judi - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Robert Kiyosaki: Investasi Kripto Tanpa Edukasi Sama dengan Judi

Ilustrasi (AI-generated image/Sulut24.com)

Penulis Rich Dad Poor Dad menilai kurangnya literasi keuangan membuat investor kripto rentan rugi saat pasar bergejolak.

Sulut24.com - Penulis buku Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, menegaskan bahwa banyak orang keliru memahami investasi kripto. Menurutnya, membeli Bitcoin atau Ethereum tanpa pemahaman risiko dan strategi jangka panjang bukanlah investasi, melainkan perjudian.

“Kebanyakan orang hanya berharap harga naik. Itu bukan investasi. Itu spekulasi tanpa edukasi,” ujar Kiyosaki dalam pernyataannya yang diunggah melalui laman facebooknya @Robert Kiyosaki, Selasa (20/1) yang membahas pengalaman panjangnya mengamati pasar kripto sejak 2016.

Kiyosaki mengungkapkan, fenomena yang sering terjadi di dunia kripto adalah investor yang meraup keuntungan besar saat pasar bullish, namun kehilangan semuanya dalam waktu singkat karena tidak memiliki manajemen keuangan yang baik.

“Menghasilkan uang tidak otomatis mengajarkan cara mempertahankan uang. Tanpa edukasi keuangan, kekayaan justru memperbesar kesalahan,” katanya.

Ia menilai banyak investor kripto terjebak pada tren media sosial, membeli aset yang sedang naik tanpa memahami fundamentalnya. Ketika harga jatuh, mereka kemudian menyimpulkan bahwa kripto adalah penipuan.

“Kripto bukan penipuan. Yang mahal itu ketidaktahuan,” tegas Kiyosaki.

Menurutnya, tidak semua aset kripto memiliki tingkat risiko yang sama. Ia membagi kripto ke dalam beberapa kategori risiko, mulai dari risiko rendah hingga risiko tinggi. 

Di antaranya terdapat stablecoin yang nilainya dipatok ke dolar AS, kripto kapitalisasi besar dengan kegunaan nyata, hingga aset spekulatif berisiko tinggi.

“Masalahnya, banyak pemula tidak tahu bahwa kategori risiko ini ada. Mereka memperlakukan semua kripto seolah-olah sama,” ujarnya.

Kiyosaki juga menekankan pentingnya waktu masuk (timing) dalam investasi. Ia mencontohkan saham Apple yang pada 1990 diperdagangkan sekitar 1,20 dolar AS per lembar, dan Bitcoin yang pada 2016 masih berada di kisaran 400 dolar AS.

“Keuntungan besar bukan karena membeli dalam jumlah besar, tetapi karena membeli lebih awal dan menahan dalam jangka panjang,” kata dia.

Ia menyebutkan bahwa investor yang membeli Bitcoin dalam jumlah kecil pada fase awal hingga kini masih berada dalam posisi untung, meski pasar mengalami berbagai siklus penurunan tajam.

Lebih lanjut, Kiyosaki menilai bahwa investasi seharusnya dimulai dari jumlah yang tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. 

Menurutnya, penggunaan dana kecil untuk belajar jauh lebih penting dibanding mengejar keuntungan instan.

“Pertanyaan terpenting bukan apakah seseorang mampu berinvestasi, tetapi apakah mereka mampu untuk tetap tidak memiliki edukasi keuangan,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pemahaman terhadap market cap, kegunaan aset, tingkat adopsi, serta profil risiko adalah fondasi utama dalam berinvestasi di kripto maupun instrumen keuangan lainnya. (fn)