Otomatisasi dan AI Supercerdas Diprediksi Ubah Total Pasar Kerja Dunia - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Otomatisasi dan AI Supercerdas Diprediksi Ubah Total Pasar Kerja Dunia

Ilustrasi (AI-generated image/Sulut24.com)

Pakar kecerdasan buatan ingatkan potensi AI melakukan riset dan meningkatkan diri sendiri, picu kekhawatiran dampak terhadap pekerjaan dan ekonomi global. 

Sulut24.com, TEKNOLOGI - Pakar kecerdasan buatan dari University of California, Berkeley, Stuart Russell, memperingatkan bahwa sistem AI berpotensi melakukan riset terhadap dirinya sendiri dan meningkatkan kecerdasannya secara berulang, sebuah skenario yang dapat membuat kemampuan mesin melampaui manusia secara signifikan jika tidak dikendalikan dengan tepat.

Russell menjelaskan bahwa kekhawatiran utama di kalangan sebagian perusahaan teknologi adalah kemungkinan AI mencapai titik di mana ia mampu merancang algoritma, perangkat keras, dan metode pemrosesan data yang lebih baik untuk memperbarui dirinya sendiri.

“Bayangkan jika ia memiliki IQ 150 dan memakainya untuk riset AI, lalu meningkatkan dirinya menjadi 170, kemudian 250, dan seterusnya,” kata Russell dalam sebuah wawancara bersama Steven Bartlett yang di tayangkan di kanal YouTube The Diary Of A CEO “Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh kecerdasan adalah melakukan penelitian AI dan menjadikan dirinya lebih cerdas.”

Ia menambahkan bahwa proses peningkatan diri yang berlangsung cepat dapat membuat AI “meninggalkan manusia sangat jauh di belakang,” terutama jika sistem tersebut mampu mengotomatisasi proses penelitian dan pengembangan secara mandiri.

Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan CEO OpenAI, Sam Altman, yang sebelumnya menyebut bahwa di masa depan model AI mungkin tidak lagi memerlukan banyak data pelatihan eksternal untuk berkembang.

Kekhawatiran mengenai AI yang semakin otonom muncul di tengah percepatan investasi global dalam teknologi kecerdasan buatan. 

Menurut berbagai laporan industri, belanja perusahaan untuk pengembangan AI generatif dan otomatisasi meningkat tajam dalam dua tahun terakhir, didorong oleh kebutuhan efisiensi dan produktivitas.

Russell juga menyoroti dampak ekonomi dari otomatisasi. Ia menyebut dua kekuatan utama yang telah mengikis kelas menengah di negara-negara Barat: globalisasi dan otomatisasi.

“Jumlah lapangan kerja manufaktur menurun bahkan ketika output meningkat,” ujarnya. “Produksinya lebih banyak dari sebelumnya, hanya saja dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit.”

Data historis menunjukkan bahwa di Amerika Serikat dan Inggris, output manufaktur tetap tinggi dalam beberapa dekade terakhir, sementara jumlah tenaga kerja di sektor tersebut menyusut akibat adopsi robotika dan komputerisasi.

Russell memperingatkan bahwa jika AI mencapai tingkat kecanggihan tinggi dan mampu melakukan sebagian besar pekerjaan manusia, tantangan sosial dan ekonomi akan semakin besar.

“Jika semuanya berjalan dengan baik dan kita menciptakan AI yang aman serta mencapai keajaiban ekonomi, kita tetap akan menghadapi masalah,” katanya. “Sistem AI dapat melakukan semua pekerjaan.”

Ia memberi contoh profesi medis, dengan mengatakan bahwa robot berpotensi menguasai keterampilan bedah dalam hitungan detik, sementara manusia memerlukan pendidikan dan pelatihan bertahun-tahun.

Para peneliti dan pembuat kebijakan kini tengah membahas kerangka regulasi dan standar keselamatan untuk memastikan pengembangan AI tetap terkendali. 

Namun, perdebatan mengenai keseimbangan antara inovasi dan pengamanan masih berlangsung di berbagai negara.

Russell menekankan pentingnya pendekatan yang berfokus pada keselamatan sejak tahap desain awal sistem. 

“Pertanyaannya bukan apakah AI akan menjadi lebih cerdas, tetapi bagaimana kita memastikan ia tetap sejalan dengan kepentingan manusia,” ujarnya. (fn)