Pakar Soroti Risiko AI Jadi “Teman Emosional”, Bukan Sekadar Alat Bantu
Ilustrasi (AI-generated image/Sulut24.com)
Antara validasi emosional dan kecanduan digital, pakar mengingatkan pentingnya menggunakan AI secara kritis dan tetap menjaga hubungan nyata.
Sulut24.com, TEKNOLOGI - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) seperti chatbot semakin mendekati interaksi manusia. Di satu sisi teknologi ini membantu produktivitas, namun di sisi lain sejumlah pakar mengingatkan adanya risiko ketergantungan emosional yang dapat memengaruhi hubungan sosial di dunia nyata.
Pakar dopamin Anna Lembke dalam wawancara bersama Steven Bartlett di kanal YouTube The Diary Of a CEO menjelaskan bahwa algoritma model bahasa besar dirancang untuk membuat pengguna merasa nyaman.
Menurutnya, sistem AI cenderung memberikan respons yang memvalidasi sudut pandang pengguna sehingga meningkatkan rasa percaya diri.
"Teknologi ini bahkan mampu mempelajari preferensi pengguna dan mengulang kembali hal-hal yang disukai, menciptakan “lingkaran aksi-persepsi” yang kuat," jelasnya.
Lembke menyampaikan kekhawatirannya terhadap fenomena AI yang meniru hubungan manusia. Ia melihat sebagian individu yang sudah rentan kecanduan media sosial kemudian beralih ke AI untuk mencari validasi emosional dan rasa dipahami.
"Fenomena ini, sering terjadi pada individu yang mengalami konflik interpersonal atau konflik pernikahan. Alih-alih berbicara langsung dengan pasangan, mereka mencari saran dan dukungan emosional dari AI," ujar Anna.
Akibatnya, interaksi nyata dapat berkurang. Padahal komunikasi langsung merupakan unsur penting dalam menjaga hubungan.
"Ketika kebutuhan emosional lebih banyak dipenuhi melalui teknologi, potensi keretakan hubungan di dunia nyata bisa meningkat," tuturnya.
Sementara itu, Co-founder BigThinkers sekaligus penulis Sunil Tolani dalam wawancara bersama Tom MC Ifle yang ditayangkan di kanal YouTube Tom MC Ifle menilai AI adalah teknologi luar biasa yang bisa membuat seseorang menjadi lebih pintar atau sebaliknya.
Ia menekankan bahwa penggunaan AI secara pasif, hanya untuk mendapatkan jawaban, berisiko membuat pola pikir menjadi dangkal.
Namun jika AI digunakan untuk memunculkan pertanyaan, skenario, dan sudut pandang baru, maka teknologi ini justru memperluas cara berpikir.
"Sebagai contoh, dalam menganalisis bisnis, seseorang mungkin hanya memikirkan beberapa kemungkinan kegagalan. Dengan bantuan AI, puluhan skenario dapat dieksplorasi sehingga proses berpikir menjadi lebih terbuka dan kritis," jelas Tolani.
Tolani juga mengingatkan agar AI tidak dijadikan tempat curhat utama. Selain potensi ketergantungan emosional, AI memiliki keterbatasan seperti kemungkinan menghasilkan informasi yang keliru atau “halusinasi”.
Meski demikian, para pakar sepakat bahwa AI tetap merupakan alat yang sangat bermanfaat jika digunakan secara sadar. Salah satu manfaat utamanya adalah melatih kemampuan bertanya, berpikir kritis, dan mengeksplorasi ide.
Pada akhirnya, AI dipandang sebagai teknologi pendukung bukan pengganti hubungan manusia. Menjaga keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan interaksi nyata menjadi kunci agar manfaat AI dapat dirasakan tanpa mengorbankan kualitas hubungan sosial. (fn)

