Robert Kiyosaki Peringatkan “Bom Utang” AS 2026, Nilainya Tembus US$9,6 Triliun - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Robert Kiyosaki Peringatkan “Bom Utang” AS 2026, Nilainya Tembus US$9,6 Triliun

Ilustrasi (AI-generated image/Sulut24.com)

Penulis Rich Dad Poor Dad Sebut 25 Persen Utang Federal Jatuh Tempo, Dorong Investasi Emas, Perak, dan Kripto.

Sulut24.com, EKONOMI - Penulis buku keuangan terkenal Rich Dad Poor Dad, Robert Kiyosaki, kembali mengeluarkan peringatan keras terkait kondisi ekonomi Amerika Serikat.

Melalui unggahan di akun Facebook pribadinya, Kamis (19/2) Kiyosaki menyebut bahwa pada tahun 2026 sekitar US$9,6 triliun atau setara Rp. 161.280 triliun utang Amerika Serikat akan jatuh tempo, atau sekitar 25 persen dari total utang federal yang harus diperbarui dalam satu tahun.

Ia menyebut situasi ini sebagai “debt bomb” atau bom utang yang berpotensi mengguncang sistem keuangan.

Dalam unggahannya, Kiyosaki menyoroti bahwa pada periode 2020–2021 pemerintah AS meminjam dana dalam jumlah besar dengan suku bunga mendekati nol persen. Namun saat ini, suku bunga berada di kisaran yang jauh lebih tinggi.

Menurutnya, pembiayaan ulang (refinancing) utang tersebut akan meningkatkan beban bunga pemerintah secara signifikan, bahkan berpotensi melampaui US$1 triliun per tahun.

“Ketika pemerintah mencetak lebih banyak uang untuk menutup beban utang, nilai dolar akan melemah,” tulisnya dalam pernyataan tersebut.

The Fed Disebut Akan Cetak Uang

Kiyosaki juga memprediksi bahwa bank sentral AS akan kembali menurunkan suku bunga dan memperluas likuiditas apabila tekanan fiskal semakin berat.

Dalam pandangannya, langkah tersebut berisiko mendorong inflasi dan menggerus daya beli masyarakat kelas menengah.

“Orang kaya sudah bersiap. Banyak orang masih tertidur,” tulisnya.

Sebagai respons terhadap potensi gejolak tersebut, Kiyosaki kembali menegaskan strategi investasinya. Ia mengaku terus membeli emas, perak, serta aset kripto seperti Bitcoin dan Ethereum.

Menurutnya, aset riil dan aset digital terbatas pasokannya cenderung menguat ketika kebijakan moneter longgar diberlakukan.

Meski demikian, sejumlah analis ekonomi menilai bahwa dinamika utang dan kebijakan moneter bersifat kompleks serta dipengaruhi banyak faktor, termasuk pertumbuhan ekonomi, kebijakan fiskal dan kondisi global. (fn)