MR.DIY Masuk Melonguane: Investasi Disambut, Adat Harus Tetap Dijunjung - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

MR.DIY Masuk Melonguane: Investasi Disambut, Adat Harus Tetap Dijunjung

Foto Tokoh masyarakat Kepulauan Talaud, Godfried Timpua bersama perwakilan Mr. DIY (Foto: ist)

Tokoh masyarakat Talaud apresiasi langkah MR.DIY yang lebih dahulu berkoordinasi dengan lembaga adat sebelum beroperasi di wilayah perbatasan.

Sulut24.com, TALAUD - Rencana pembukaan gerai MR.DIY di Melonguane, ibu kota Kabupaten Kepulauan Talaud, mendapat respons positif dari kalangan tokoh masyarakat setempat. Namun, sambutan hangat itu datang bersama pesan tegas: kemajuan ekonomi tidak boleh mengorbankan adat istiadat dan kearifan lokal yang telah lama menjadi pondasi kehidupan masyarakat Talaud.

Tokoh masyarakat Kepulauan Talaud, Godfried Timpua, menyatakan kehadiran platform perdagangan modern tersebut menjadi angin segar, terutama bagi masyarakat di daerah perbatasan yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap produk dan layanan ritel modern. Ia menilai investasi ini membawa peluang pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal.

Yang mendapat perhatian khusus dari Godfried adalah sikap manajemen MR.DIY yang terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan lembaga adat Talaud, sebelum memulai operasional. 

Perwakilan manajemen disebut menyatakan kesiapan untuk menghormati dan menaati ketentuan adat yang berlaku di wilayah tersebut.

"Ini merupakan itikad baik yang patut diapresiasi. Kehadiran dunia usaha modern tidak boleh mengabaikan adat istiadat dan budaya masyarakat lokal," ujar Godfried, Kamis (22/5/2026).

Ia menegaskan, langkah awal yang ditempuh manajemen MR.DIY itu menjadi pertanda positif bahwa modernisasi dan investasi masih dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap hukum adat.

Godfried mengingatkan bahwa bagi masyarakat Talaud, adat bukan semata warisan tradisi yang bersifat seremonial. Adat merupakan bagian dari identitas kolektif dan tatanan sosial yang hidup dalam keseharian masyarakat.

"Bagi masyarakat Talaud, adat bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari identitas dan kehidupan sosial yang harus dijaga bersama. Karena itu, komunikasi yang baik antara pelaku usaha dan lembaga adat sangat penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis di tengah masyarakat," tegasnya.

Kehadiran MR.DIY di Melonguane, ia harapkan tidak hanya menghadirkan kemudahan berbelanja, tetapi juga memberi dampak sosial dan ekonomi yang nyata dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya lokal yang diwariskan turun-temurun.

Pimpinan Manajemen MR.DIY, Natalia Mandik, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diterima pihaknya dari Godfried Timpua serta Ratum Banua Melonguane, Ramli Adam, Ia menyebut arahan dan masukan yang diterima dari kedua tokoh tersebut sebagai bekal penting dalam membangun hubungan yang sehat dengan masyarakat setempat.

"Kami hadir bukan hanya untuk berinvestasi, tetapi juga ingin menghormati dan menyesuaikan diri dengan adat istiadat serta tatanan budaya yang berlaku di Melonguane. Nilai-nilai lokal tentu menjadi perhatian penting bagi kami dalam membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat," ujar Natalia.

Kehadiran jaringan ritel modern sekelas MR.DIY di Melonguane menjadi penanda tersendiri bagi perkembangan kawasan perbatasan Indonesia. 

Namun demikian, masyarakat Talaud melalui tokoh-tokohnya menegaskan bahwa pintu keterbukaan terhadap investasi harus tetap berjalan di atas rel penghormatan terhadap identitas lokal sebuah prasyarat yang, dalam kasus ini, tampaknya telah dipahami sejak awal oleh pihak investor. (Ezra)