IHSG Menguat 1,75% di Sesi I, Melawan Arus Pelemahan Bursa Asia - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

IHSG Menguat 1,75% di Sesi I, Melawan Arus Pelemahan Bursa Asia


Pergerakan IHSG Sesi I (Foto: Sulut24.com)

IHSG sesi I Kamis 2 Juli 2026 menguat 1,75% ke 5.794,86 di tengah bursa Asia yang tertekan. Simak saham-saham top gainers dan penyebabnya.

Sulut24.com, EKONOMI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat signifikan pada perdagangan sesi pertama, Kamis (2/7/2026). Indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) itu naik 99,75 poin atau 1,75% ke level 5.794,86.

Penguatan ini justru terjadi di tengah tekanan yang melanda sejumlah bursa saham di kawasan Asia pada hari yang sama. 

Mengacu pada data perdagangan, IHSG membuka sesi pertama di level 5.709,84. Sepanjang sesi, indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.806,72 dan level terendah 5.704,50, sebelum akhirnya ditutup di 5.794,86.

Dari sisi aktivitas transaksi, total volume perdagangan sesi pertama mencapai 107,15 juta lot dengan nilai transaksi Rp 5,10 triliun dan frekuensi transaksi sebanyak 711 ribu kali.

Penguatan IHSG hari ini turut ditopang oleh sejumlah saham yang mencatat kenaikan tajam dan masuk jajaran saham paling banyak diperdagangkan (trending). Saham PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatat kenaikan paling tajam di antara saham-saham trending, melonjak 14 poin atau 15,56% ke level 104. Di jajaran emiten Grup Barito, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melesat 170 poin atau 12,32% ke 1.550, sementara PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turut menghijau dengan kenaikan 100 poin atau 5,95% ke 1.780.

Saham-saham berbasis komoditas dan sumber daya alam juga ramai diburu investor. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) naik 29 poin atau 6,09% ke 505, disusul PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang menguat 5 poin atau 3,70% ke 140. Sementara itu, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) bertambah 25 poin atau 4,03% ke 645, dan PT Minna Padi Investama Sekuritas Tbk (PADI) naik 4 poin atau 5,19% ke 81. Dari kelompok saham perbankan besar, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turut mencatat penguatan meski relatif lebih tipis, yakni 50 poin atau 1,87% ke level 2.720.

Penguatan IHSG hari ini tergolong mengejutkan karena terjadi bersamaan dengan rilis sejumlah data ekonomi domestik yang berada di bawah ekspektasi pasar. Indeks S&P Global Manufacturing PMI Indonesia tercatat turun ke level 46,9 pada Juni 2026, dari 50 pada Mei 2026 menandakan aktivitas manufaktur kembali memasuki fase kontraksi. Pada saat yang sama, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,34% pada Juni 2026 dibandingkan 3,08% pada Mei, sekaligus melampaui proyeksi pasar sebesar 3,2%.

Indonesia juga mencatat defisit neraca perdagangan sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026, yang menjadi defisit pertama sejak April 2020. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pun masih berada di kisaran level Rp17.900-an 

Sejumlah analis pasar modal memberikan pandangan beragam soal arah IHSG hari ini. Analis senior Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji, menilai IHSG berpeluang menguat dengan area support di level 5.568 dan 5.438, serta resistance di 5.848 dan 5.972.

Sementara itu, MNC Sekuritas menyoroti bahwa tekanan koreksi disebut belum sepenuhnya berakhir, dengan proyeksi IHSG masih berpotensi menguji rentang 5.472 hingga 5.540 pada perdagangan hari ini meski realisasi di sesi pertama menunjukkan indeks justru bergerak jauh di atas proyeksi tersebut. (fn)