Tom Lembong Ungkap Alasan Anjurkan Beli Dolar: Jangan Elite Sudah Kabur, Warga Disuruh Loyal - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Tom Lembong Ungkap Alasan Anjurkan Beli Dolar: Jangan Elite Sudah Kabur, Warga Disuruh Loyal

Ilustrasi (Foto: AI-generated image/Sulut24.com)

Tom Lembong Sebut Anjuran Beli Dolar Didasari Kondisi Ekonomi, Kritik Elite yang Lebih Dulu Beralih ke Valuta Asing

Sulut24.com - Mantan Menteri Perdagangan Thomas Lembong menjelaskan alasan dirinya menganjurkan masyarakat membeli dolar dan aset di luar rupiah. Ia menegaskan bahwa pandangan tersebut didasarkan pada kondisi makroekonomi, bukan karena posisi politik maupun sentimen terhadap pemerintah. Hal itu disampaikannya dalam kanal YouTube Leon Hartono/The Overpost yang ditayangkan pada Rabu (4/11/2026). 

“Saya mengampanyekan jual rupiah bukan karena saya oposisi atau sentimen, tetapi memang realita makroekonomi di mana bunga dolar sedang naik terus, dan bahkan bunga obligasi di seluruh dunia lagi naik terus, dan itu akan sulit untuk kurs rupiah,” ujar Tom.

Tom mengatakan dirinya konsisten menyarankan masyarakat mempertimbangkan dolar Amerika Serikat, euro, dolar Singapura, maupun emas sebagai alternatif penempatan kekayaan. Menurutnya, penguatan terhadap rupiah tidak hanya terjadi pada dolar AS, tetapi juga dolar Singapura yang disebutnya menguat lebih besar.

“Saya konsisten mengatakan seyogianya warga beli dolar atau euro, atau dolar Singapura, atau emas, atau ke hal-hal di luar rupiah saja,” katanya.

Untuk emas, Tom menilai situasinya lebih pelik karena pergerakan harga sangat dipengaruhi momentum. Ia menyebut harga emas sempat mencapai puncak sebelum mengalami penurunan tajam, sementara faktor yang akan mendominasi arah harga berikutnya masih belum jelas.

Meski demikian, ia melihat faktor positif berupa semakin banyaknya bank sentral dan masyarakat yang membeli emas.

Tom menegaskan bahwa pandangannya terhadap rupiah dapat berubah sesuai kondisi ekonomi. Apabila menilai rupiah telah mencapai posisi terendah, ia menyatakan akan menyampaikan kepada masyarakat bahwa saatnya kembali membeli rupiah.

“Jika suatu saat saya menilai rupiah sudah serendah-rendahnya, pasti saya akan menyampaikan ini saatnya beli rupiah. Bukannya saya politis atau tidak adil,” ujarnya.

Tom kemudian menyoroti keengganan menaikkan suku bunga di dalam negeri. Ia membandingkan bunga BI yang disebutnya berada pada kisaran 5,75 persen dengan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat bertenor lima tahun sekitar 5,1 persen.

“Bayangkan bunga BI 5,75 persen, tetapi di saat yang sama kita bisa taruh uang di obligasi pemerintah Amerika dengan tenor lima tahun yang bisa dijual kapan saja, dapat 5,1 persen. Selisihnya sedikit, sementara risiko taruh uang di rupiah lumayan besar daripada taruh di obligasi pemerintah Amerika, itu lebih terkendali,” katanya.

Selain persoalan suku bunga, Tom mengkritik sikap elite politik dan pelaku usaha yang, menurutnya, telah lebih dahulu mengalihkan kekayaan ke mata uang asing. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak tertinggal dalam menyikapi kondisi tersebut.

“Jangan mau kita warga biasa disuruh ketinggalan kereta. Banyak elite, baik politik maupun yang punya usaha, sudah dari kemarin-kemarin kabur ke dolar,” ujarnya.

Tom turut menyinggung temuan emas dan uang tunai dalam penggeledahan sejumlah lokasi oleh pihak kepolisian beberapa waktu lalu. Menurutnya, uang tunai yang ditemukan banyak berupa dolar AS dan dolar Singapura.

Ia menilai kepemilikan mata uang asing tersebut bukan sekadar pertimbangan menghemat ruang penyimpanan, melainkan mencerminkan kesadaran sebagian kalangan politik terhadap risiko tekanan rupiah akibat kebijakan ekonomi.

“Jadi jangan mau elite-elite sudah kabur duluan dan warga disuruh tetap loyal kepada rupiah, disuruh tetap nasionalis, sementara faktanya para elite terus kabur, mendolarkan apa yang bisa mereka dolarkan,” kata Tom. (fn)