PILKADA Sulut Memanas, Bakal Ada Kepala Daerah Menjadi Korban Pollitik - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

 

Advertisement



PILKADA Sulut Memanas, Bakal Ada Kepala Daerah Menjadi Korban Pollitik


DR. Jemmy Krowin

Sulut 24.com - Minahasa Utara, Meskipun  Pertarungan Pemilihan Gubernur Sulut, masih menyisahkan Sembilan bulan lagi, yakni dilakukan pada bulan September 2020 mendatang, namun dinamika Politik Pilkada di Sulut, kian hari kian  memanas.

Lebih parah lagi sejumlah kalangan akademisi dan politisi, melakukan prediksi ada dugaan Kepala Daerah di Sulut yang bakal masuk bui atau penjara karena korban politik.

Salah satu Akademisi DR. Jemmy Krowin mengatakan pertarungan Pilkada Tahun 2020 ini, boleh dikata Pilkada yang paling cukup alot dan panas, kalau tidak disertai langkah strategi politik yang hebat, bisa saja ada yang menjadi korban politik.

"Politik adalah sebuah upaya meraih kekuasaan, apapun caranya, yang terpenting tujuannya dapat tercapai," ujar Krowin yang juga Dosen Tata Negara dan Ilmu Pemerintahan, Selasa (14/1/2020) saat diwawancarai media ini di Kampus Unima.

Menurut Krowin ada pihak-pihak yang menggunakan cara kotor demi menyingkirkan lawan politiknya di dalam Pemilukada serentak 2020 ini

"Ini perlu diwaspadai sebab nantinya terindikasi ada  permainan kotor , yang nantinya berlangsung dalam Pilkada tahun 2020 ini , yang dilakoni orang - orang yang tidak bertanggung jawab," Tegas Krowin.

Ia mendorong pihak aparat keamanan untuk  menindak tegas aktor yang melakukan permainan politik kotor tersebut.

"Berita-berita hoaks yang disampaikan, terutama melalui media sosial, tentunya memiliki tujuan yang politis, yaitu dipakai sebagai alat untuk menyingkirkan lawan politik," ujar Krowin

"Demikian pula halnya dengan semakin menguatnya politik identitas menggunakan isu SARA. Itu telah menjadi salah satu strategi bagi pihak-pihak tertentu yang tidak bertanggung jawab dalam memenangi kontestasi Pemiluka," tegas Krowin

Maraknya hoaks, fitnah, ujaran kebencian dan politik identitas, menurut Krowin menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh elemen warga Nyiur Melambai Sulut ini, didalam menghadapi pesta lima tahunan kali ini.
(Joyke)


Advertisement





 

Advertisement