BENNY RHAMDANI : AUMAN PERJUANGAN RAKYAT DARI BUMI TOTABUAN - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

BENNY RHAMDANI : AUMAN PERJUANGAN RAKYAT DARI BUMI TOTABUAN


Benny Rhamdani

Opini Oleh :
Jerry Bambuta

Forum Literasi Masyarakat Sulawesi Utara

Sulut24.com - Manado, Tulisan ini ibaratnya adalah goresan pena seorang murid terhadap gurunya yang melalui proses belajar bukan dalam ruang kelas formal tapi melalui rajutan persahabatan yang erat mengakar dalam ke-Indonesia-aan. Pertama kali saya berjumpa secara langsung dengan seorang bernama Benny Rhamdani adalah ketika momentum Pilpres 2019 di Kotamobagu.

Bertepatan saat itu di Poyowa ada sosialisasi empat pilar NKRI di mana beliau juga yang jadi pembicaranya. Ketika masih menjadi mahasiswa, saya sudah cukup sering mendengar sepak terjang seorang Benny Rhamdani dalam peran perjuangan rakyat di Sulawesi Utara sebagai anggota legislator DPRD Sulawesi Utara. Tapi baru kali itu secara dekat bisa mengenal sosok bernama Benny Rhamdani yang kerap kali di sapa “Bang BRANI” (Singkatan dari namanya). Ketika mendengar orasinya kala itu, kesan pertama biasa-biasa saja, karena saya berpikir bahwa beliau mungkin sama dengan para politisi kebanyakan yang sering jual kecap politik di depan masyarakat.

Terlalu banyak wakil rakyat lebih sering berbicara atas nama rakyat tapi jarang mendengar jeritan rakyat. Dan untuk sesaat saya berpikir seorang Benny Rhamdani pun demikian.

Pada besok harinya, saya dan beberapa rekan berkesempatan duduk semeja makan siang dengan beliau sembari berbincang banyak hal tentang realitas terkini Indonesia. Anggapan saya sebelumnya bahwa beliau adalah figure politik seperti kebanyakan politisi pun terbantahkan.

Mendengar pandangan, militansi dan jejak pengorbanan perjuangannya sejak mahasiswa hingga menjadi politisi yang total memperjuangan hak rakyat benar-benar membuat saya kagum dan heran. Saya merasa heran karena ternyata masih ada figure politik yang cukup nekat tertantang menjadi anomaly perjuangan rakyat dari Sulawesi Utara baik di panggung politik local dan nasional.

Saya menyebutnya anomaly karena sosoknya yang unik dalam gagasan dan selalu berani bertindak melawan arus kekuasaan ketika bersebarangan dengan kepentingan rakyat.
Ketika banyak kaum milenial menjadi pesimis bahkan sinis terhadap politik karena terlalu banyak mempertontonkan teladan bobrok (bahkan bisa jadi saya pun salah satu di antara mereka), Benny Rhamdani hadir dengan sepak terjang perjuangannya yang berbeda dan selalu relevan dengan kebutuhan perjuangan rakyat masa kini. Seorang BRANI tidak segan-segan menempatkan diri di garis depan perjuangan rakyat sekalipun harus berhadapan resiko tekanan dari kelompok yang menginjak-injak hak rakyat. Perjuangan seorang BRANI lahir ketika rezim feodal ala orde baru berkuasa hingga rezim tersebut tumbang dengan kepeloporan gerakan reformasi mahasiswa 1998. Sekalipun jejak perjuangannya lahir di era feodal, sepak terjang seorang BRANI selalu relevan di tengah era milenial saat ini. Tidak heran jika sosoknya selalu menarik atensi para milenial Sulawesi Utara.

Benny Rhamdani dalam lingkungan politiknya adalah kader dan pengurus partai Hanura di tingkat pusat tapi ruang geraknya dalam masyarakat lebih kental terasa sebagai figure public yang dengan leluasa bisa merangkul pluralitas masyarakat dengan penuh kesejukan. Sejak masih mahasiswa, sekalipun saya seorang nasrani cukup menggemari gagasan Gus Dur tentang pluralisme kebangsaan. Ada rasa sedih ketika Gus Dur berpulang karena kita kehilangan seorang figure yang juga adalah bapak bangsa.

Tapi hari itu saat berada di Poyowa, saya melihat gagasan Gus Dur tentang pluralisme kebangsaan bukan lagi dalam bentuk catatan tulisan tapi hidup dalam diri seorang Benny Rhamdani. Seakan-akan saya bisa melihat sebuah miniatur solidaritas Indonesia dalam hati nurani dan pikiran seorang Benny Rhamdani.

Bahkan pada saat beliau melakukan “Safari Ngopi” di beberapa wilayah di Bolmong Raya selama seminggu, saya sempat mendampinginya dan mendapatkan kesempatan berharga berdialog banyak hal dengannya. Ngopi adalah singkatan dari “Ngobrol Politik Indonesia”, itu adalah sebuah mobilisasi edukasi politik kebangsaan bagi masyarakat yang di motori oleh Benny Rhamdani bersama BRANI CENTRE Kotamobagu. Dalam kesempatan tersebut, seakan saya menemukan jalan dan dengan leluasa menyusuri mimpi seorang Benny Rhamdani akan masa depan Indonesia. Denyut kerinduan dan perjuangannya akan masa depan Indonesia bagai memantik sebuah kegelisahan tersendiri dalam hati nurani saya. Menyadarkan saya bahwa Negara ini butuh bukan hanya orang cerdas yang apatis dengan kondisi bangsa tapi butuh orang yang punya nyali perjuangan untuk berani bergerak demi sebuah perubahan bagi Indonesia.

Apatisme dan sinisme yang mengendap dalam hati saya seperti buyar karena teragitasi dengan luapan gairah untuk melihat masa depan Indonesia yang lebih gemilang dari hari ini. Pandangan dan jejak perjuangan seorang Benny Rhamdani yang selalu siap berdiri mengumandangkan auman perlawanan atas tirani yang menginjak hak rakyat. BRANI adalah sosok yang sangat tidak nyaman dengan gaya politisi yang borjuis-elitis karena hanya akan menciptakan jarak eksklusif dengan rakyat yang menjadi focus perjuangannya. Tidak heran jika beliau cukup di kenal dekat dengan semua lapisan masyarakat dan juga di kenal “ringan tangan” untuk membantu masyarakat yang terjepit dengan segala keberadaannya.

Saya merasa lebih dekat dengan seorang BRANI bukan karena saya kader dari politik tertentu. Karena sampai hari ini saya adalah seorang swasta sekaligus pegiat misi pemberdayaan social masyarakat yang tidak terafiliasi dengan partai politik manapun. Saya merasa lebih dekat dengan seorang BRANI karena gagasannya akan Indonesia yang harus menjadi rumah besar untuk keragaman bisa bernaung dengan harmonis. Berbincang-bincang dengannya sembari menikmati kopi hitam bagaikan berada dalam sebuah perpustakaan hidup yang penuh dengan buku-buku visioner akan masa depan Indonesia yang gemilang. Menyusuri pikirannya bagai membuka lembaran demi lembaran dari buku kehidupan dengan jejak perjuangan yang penuh makna dan teladan.

Bagi saya, BRANI adalah sosok visioner dan penuh dengan tekad perjuangan rakyat yang akan selalu siap berdiri bersama rakyat. BRANI adalah salah satu tokoh politik local Sulawesi Utara yang hari ini berkiprah di panggung politik nasional yang akan selalu siap mengawal Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Dan yang paling menarik, BRANI adalah seorang Abang yang seru sebagai teman ngopi karena selalu bisa membuka sudut pandang yang baru untuk mewarnai Indonesia dengan kuas perubahan dari Sulawesi Utara. Maju terus, Bang BRANI! Warnai Indonesia dari Sulawesi Utara dengan jejak perjuanganmu untuk Indonesia! Tetap kawal Indonesia dengan kepalan tangan perjuanganmu!


TENTANG PENULIS

Jerry Fransius Gosal Bambuta, hari ini aktif sebagai Leader dari MATCON (Mapalus Tech Connection) yang focus dalam layanan komersil dalam bidang Website Development, Software Development, Rural Network Solutions, IT Security, IT Consulting & Training. Bersama tim MATCON, pada tahun ini sementara menyiapkan konsep optimalisasi dalam peran pendampingan untuk setiap pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kota dan pemerintah desa dalam penerapan e-government di kawasan Sulawesi Utara dan Indonesia Timur. Selain itu juga, berperan aktif sebagai Pembina dalam wadah Forum Literasi Masyarakat (Forlitmas) Sulawesi Utara, FORLITMAS adalah sebuah wadah edukatif yang focus membangun forum literasi masyarakat, forum publikasi riset, forum afiliasi kemitraan dan forum inkubasi kemandirian masyarakat. Forlitmas di dominasi oleh pemuda/mahasiswa yang terpanggil berperan dalam membangun kultur literasi masyarakat baik secara local maupun nasional (Whatsapp.+6281211891558)