Talaud 2021: Sweet Dreams Nineteen - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Talaud 2021: Sweet Dreams Nineteen

 

Pulau Sara (Foto via redaksimanado.com)

Catatan: Alfeyn Gilingan


Sulut24.com, OPINI - JUMAT, 2 Juli 2021, pemerintah dan masyarakat Kabupaten Talaud merayakan syukur 19 tahun daerah itu berotonomi. Ada gegap gembira. Gembira yang hampir serupa ketika hendak menyambut legal pengesahan otonom usai ditandatangani Presiden RI Megawati Soekarnoputri, 10 April 2002. 

Bahkan perayaan HUT ke-19 berotonomi tahun 2021 ini patut dipandang istimewa. Bukan pesta-poranya yang istimewa tetapi makna yang dapat digali dari niat pemerintah dan masyarakat; ada semacam "sweet dreams" pemerintah bagi kemajuan masyarakat Talaud, untuk esok dan di masa yang akan datang.

Ucapan selamat HUT datang mengalir, disampaikan oleh berbagai kalangan. Tak ketinggalan juga warga Porodisa --begitu nama lain daerah ini--, yang sudah berdiaspora di daerah lain, mengirim ucapan selamat melalui media sosial.

Hal yang patut dicatat sebagai antitesis pada HUT ke-19 ini adalah: perayaan di tahun 2021 ini, Bupati dr Elly E. Lasut, secara terbuka menetapkan tanggal 2 Juli sebagai momentum 'thanksgiving day'. Hari ucapan syukur seluruh elemen masyarakat dan pemerintah atas karya dan berkat Tuhan bagi Talaud.

Bagi saya, penetapan tanggal 2 Juli oleh Bupati sebagai thanks giving day bagi Talaud, merupakan alih-alih dari tesis bahwa perayaan HUT selama 18 tahun yang lalu baru pada tataran euforia semata. Ada hal esensial yang belum terungkap, bahwa proses meraih status otonomi bagi Talaud merupakan kerja bersama masyarakat dalam tuntunan Tuhan.

Maka pada 2 Juli 2021, untuk pertama kalinya masyarakat Talaud merayakan 'thanksgiving day'; ungkapan sujud syukur kepada Sang Khalik. Prosesi perayaan ditandai dengan aktivitas masal,  'persembahan' bersama yang ikhlas penuh syukur; sekalipun wadahnya adalah kepulan asap dari bakar-bakar (ikan dan kue) yang dilakukan tanggal 1 malam oleh ASN dan masyarakat.

Daerah ini disahkan dengan UU Nomor 8 Tahun 2002 sebagai daerah otonom di Sulawesi Utara, berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud yang terdiri atas tujuh kecamatan, yaitu Kecamatan Nanusa, Kecamatan Essang, Kecamatan Rainis, Kecamatan Beo, Kecamatan Melonguane, Kecamatan Lirung; dan Kecamatan Kaburuan.

Sekarang, kabupaten ini sudah punya banyak kecamatan. Apalagi desa/kelurahannya. Selama 1 tahun, Talaud bertambah 12 wilayah administrasi kecamatan. Saat ini ada 19 kecamatan; juga 11 kelurahan dan 142 desa. Adapun Miangas, berstatus desa sekaligus kecamatan khusus. Kecamatan paling kecil, tetapi terbanyak dan lengkap sarana perkantorannya. Bahkan di Miangas yang berpenduduk 800-an jiwa itu ada bandar udara.

Apa sesungguhnya hikmah dari perayaan Thanksgiving day dan aktualisasi sweet dreams 2 Juli 2021 bagi pemerintah dan masyarakat Talaud saat ini?

Sebenarnya cukup banyak yang patut diurai. Tetapi pada catatan singkat (yang mungkin ada yang menilai belepotan puji sanjung) ini, hikmah perayaan Thanksgiving day dihadirkan menjadi "tradisi baru" bagi peringatan HUT Talaud berotonomi. Sebagai tradisi baru, tidak bijak jika hanya menjadi momentum yang menyejarah sekaligus menyenangkan sesaat.

Adalah elok jika di tahun-mendatang, Thanksgiving sebagai tradisi baru menjadi sebuah produk yang memiliki legal formal. Ada payung aturan, paling tidak dalam bentuk peraturan daerah. Dengan catatan, tradisi baru ini berselimut anasir potensi seperti seni, budaya dan tradisi hidup sosial masyarakat Talaud.

Dari titik inilah, barangkali akan dimulai aktualisasi sweet dreams nineteen. Ungkapan syukur akan lebih mendalam, jika ada pemuliaan terhadap segenap potensi yang dimiliki Talaud dan masyarakatnya; bahwa Talaud adalah sansiote sampate-pate, gemah ripah loh jinawi!

Dan dengan demikian, siapa saja yang nantinya memimpin Talaud ke depan, memiliki tuntutan moril sekaligus menjadikan Thanksgiving day 2 Juli 2021 sebagai tuntunan. Segenap masyarakat, dipastikan sangat mendukung setiap derap pembangunan yang digulir pemerintah kini dan yang akan datang.

Tuntutan moril yang dimaksud, tidak lain pada galibnya akan bersitumpu pada filosofi sansiote sampate-pate. Meski begitu, segenap daya dan karya cipta baru dari anak negeri, dari generasi yang paling milenial sekalipun --oleh karena tuntutan situasi dan kemajuan teknologi--, sifatnya tetap akomodatif dan menjadi pendukung pemajuan dalam hakikat berotonomi. Maka setiap tahun saat peringatan HUT, saat perayaan Thanksgiving, ada fajar baru bagi Talaud, berkat Tuhan bagi tanah Pirodisa.

(*/Penulis, wartawan yang tinggal di Manado)