Dinilai Menyusahkan, Rumah Isolasi Manganitu Diminta Ditutup - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Dinilai Menyusahkan, Rumah Isolasi Manganitu Diminta Ditutup

Rumah isolasi Manganitu (Foto: Ist)

Sulut24.com, SANGIHE - SMP Negeri 1 Manganitu yang kini "disulap" menjadi Rumah Isolasi Terpusat bagi warga yang diharuskan menjalani Isolasi Mandiri (Isoman) ketika dinyatakan positif Covid-19 belakangan mulai jadi sorotan.

Salah satu warga Kecamatan Manganitu kepada media ini menyatakan, dirinya bersama beberapa warga lainnya menyayangkan keputusan Camat Manganitu yang juga ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kecamatan Manganitu yang menetapkan gedung SMPN 1 sebagai rumah isolasi. Menurutnya, warga yang isoman sebaiknya dilakukan di rumah masing - masing saja.

Pernyataan tersebut sepertinya cukup beralasan karena warga menilai fasilitas dan layanan yang disiapkan Gugus Tugas Kecamatan Manganitu kurang memadai sehingga justru menyusahkan warga isoman, pihak keluarga maupun aparat kampung. 

"Kami kurang setuju jika warga isoman harus di isolasi di rumah isolasi SMP 1 Manganitu, lebih baik di rumah masing - masing saja agar warga itu terurus oleh keluarganya," kata warga Manganitu yang tak bersedia namanya diberitakan.

Saat isoman di rumah isolasi, lanjutnya, warga isoman hanya makan seadanya dan tak tentu waktunya. Makanannya disiapkan oleh pemerintah kampung dimana warga itu berdomisili. Belum lagi, kata dia, tak ada petugas medis yang datang memeriksa perkembangan kesehatan warga isoman tersebut. 

"Jika kondisinya seperti itu, lebih baik rumah isolasi ini ditutup dan lakukan isolasi mandiri di rumah seperti warga isoman di Kota Tahuna dan Tahuna Timur. Kebersihan, kenyamanan dan kebutuhan makan minum lebih terjamin jika isoman di rumah," ujarnya lagi. 

"Jangan - jangan, ini dilakukan Camat hanya untuk memancing anggaran penanganan Covid-19 dari kampung - kampung agar bisa keluar dan dimanfaatkan," sembur warga yang kurang setuju dengan rumah isolasi tersebut.

Camat Manganitu, Julian Pesik SSTP ditemui dan dimintai konfirmasi pada Rabu (11/8/2021) di rumah dinasnya membantah jika fasilitas dan layanan rumah isolasi dibuat seadanya. Menurut Camat, warga yang isoman di rumah isolasi itu sebelumnya telah dibicarakan secara persuasif dengan keluarga dan hingga hari ini tak pernah ada keluhan atau komplain dari manapun.

"Kami tetap melakukan komunikasi dengan warga yang terpapar dan keluarga sebelum dibawa ke rumah isolasi. Jika warga punya fasilitas yang memadai dan tak ada kontak dengan warga sekitar atau keluarga yang lain itu tidak masalah asalkan tidak tinggal satu atap dengan keluarga. Silahkan isoman di rumah," jelas Pesik.

Soal makanan, kebersihan dan layanan lainnya juga diakui Camat telah dilakukan semaksimal mungkin. "Kita sudah siapkan ruangan yang nyaman, 1 orang 1 ruangan dengan fasilitas kasur yang nyaman, makanan yang diberikan dikelola langsung oleh pemerintah kampung masing - masing, ada piket 1x24 jam yang dibagi tugasnya ke semua aparat kampung secara bergiliran," jelas Pesik sambil menyatakan bahwa, kerjasama dengan unsur TNI/Polri dan tenaga kesehatan juga terbina dengan baik dalam mendukung layanan di rumah isolasi tersebut.

Sebelumnya, media ini sempat memantau langsung kondisi rumah singgah dan keberadaan 3 orang warga yang sementara menjalani isoman di SMPN 1 Manganitu. (Vickh/Johan)