Di Tengah Pelemahan Ekonomi, Apindo Konsolidasikan Dunia Usaha di Bandung - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Di Tengah Pelemahan Ekonomi, Apindo Konsolidasikan Dunia Usaha di Bandung

Ilustrasi lesunya masyarakat melakukan pembelian di supermarket (Foto: ist)

Pertumbuhan ekonomi yang melambat dan sektor industri yang tertekan jadi perhatian utama dalam Rakerkonas Apindo di Bandung.

Sulut24.com, EKONOMI - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan dunia usaha nasional saat ini menghadapi tekanan berat akibat melemahnya ekonomi domestik, ketidakpastian kebijakan, dan gejolak eksternal. Permasalahan tersebut akan menjadi poin pembahasan dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Apindo ke-34 yang akan digelar di Bandung pada 4–6 Agustus 2025.

“Dunia usaha nasional saat ini sedang menghadapi tantangan serius dan tidak mudah,” kata Ketua Umum Apindo, Shinta W Kamdani, dalam siaran pers yang dikutip dari Kompas.com, Rabu (30/7).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2025 hanya mencapai 4,87 persen. Konsumsi rumah tangga sebagai penggerak utama ekonomi tumbuh 4,89 persen, sementara belanja pemerintah mengalami kontraksi, mengurangi peran sebagai stimulus pemulihan.

Di sektor industri, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur tercatat di bawah angka 50 selama tiga bulan berturut-turut. Hal ini menandakan kontraksi yang berkelanjutan dan tekanan yang belum mereda pada sektor tersebut.

Apindo menekankan perlunya reformasi struktural untuk mencapai target pertumbuhan 8 persen menuju visi Indonesia Emas 2045. 

“Untuk itu dibutuhkan peningkatan kualitas SDM, deregulasi nyata, dan ekosistem usaha yang adil,” ujar Shinta.

Meski demikian, ada sinyal positif dari sisi investasi. Realisasi investasi pada Triwulan II 2025 tercatat sebesar Rp. 477,7 triliun, meningkat dibanding Triwulan I sebesar Rp. 465,2 triliun. Investasi ini diklaim telah menciptakan lebih dari 1,2 juta lapangan kerja baru.

Sebagai langkah konkret, Apindo mengusulkan sejumlah insentif untuk menyelamatkan industri padat karya. Usulan tersebut meliputi pembebasan PPN jasa subkontrak, percepatan restitusi, penghapusan bea masuk bahan baku, serta subsidi energi.

“Industri padat karya kita tengah berada di persimpangan jalan. Jika tidak diberi perlindungan dan insentif yang cukup, maka kita berpotensi kehilangan sektor yang selama ini menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,” tegas Shinta.

Rakerkonas Apindo kali ini mengangkat tema “Dengan Semangat Indonesia Incorporated Menuju Indonesia Emas 2045”. Forum ini juga menjadi wadah konsolidasi antara pelaku usaha dengan pemerintah pusat dan daerah guna menyusun langkah bersama menghadapi situasi ekonomi yang menantang. (fn)