Menyembuhkan Sinisme Publik, Mungkinkah?
Suasaba aksi unjuk rasa mahasiswa di depan gedung DPRD Provinsi Sulawesi Utara (Foto: Sulut24/fn)
Oleh:
Jerry F. G. Bambuta
Forum Literasi Masyarakat
Sulut24.com, OPINI - Kepentingan publik yang majemuk hampir selalu menjadi tema utama populisme dalam setiap isu, narasi atau slogan terkait gerak perjuangan rakyat. Kerap kali, tema ini begitu garing dalam gorengan-gorengan media dengan melibatkan figur sentral tertentu. Entah dengan tujuan edukasi publik ataukah sentralisasi figur untuk pencitraan politik.
Di mata publik yang hampir selalu di khianati, adegan-adegan tersebut tidak bedanya dengan drama telenovela, dari yang tampak lebay hingga aksi penuh konyol bak dagelan.
Para elit yang selalu tebar pesona meraih simpati publik dengan berbagai macam cara yang menyolok maupun tersamar, pada akhirnya membuat masyarakat hanya sebatas "mesin elektoral" sesaat dalam momentum kontestasi.
Elit yang penuh akal bulus serta publik yang di perhamba oleh kultur transaksional bagai pasangan serasi yang sama-sama berdosa dalam aib demokrasi. Di luar peran para elit dan dayang-dayang politik ini, ada jelata yang tiap hari hanya berjuang menguras air mata dan keringat untuk bertahan hidup hari demi hari.
Jelata ini hanya akan banting tulang sebagai bangsa kuli di tengah jargon berdikari dari para penguasa penuh drama. Kian lama, para jelata ini akan kehilangan "sense of belonging" terhadap bangsa di mana mereka bernaung dan hidup.
Sinisme dan apatisme akan menyebar luas bagai virus menular membuat "silent majority" bagai wabah yang meluas. Ruang kebangsaan yang harusnya menjadi atap dari rumah besar untuk keadilan manusiawi berada hanya menjadi fatamorgana.
Sinisme publik kian mengkristal bersamaan hak-hak publik menjadi sarang rumah bordil, tempat berselingkuhnya antara kartel politik dan kartel kapitalis. Sinisme publik telah mencapai titik muak dengan segala narasi, retorika dan slogan perubahan yang di kumandangkan para elit.
Titik muak ini akan mencapai klimaksnya membuat masyarakat sama parasitnya dengan elit yang korup. Jika dulunya, elit memperalat masyarakat, maka kondisi hari ini telah bergeser ketika masyarakat memperalat elit untuk tujuan-tujuan jangka pendek.
Ekosistem politik ini sudah sumpek dengan polusi demokrasi yang menyesakan dada. Hati nurani sebagai kaum negarawan redup, nalar independen-konstruktif terdistorsi dan pastinya memicu degradasi logika dan moralitas yang lebih parah.
Jika kondisi tragis ini menjadi infeksi demokrasi yang akut, maka secara pasti aroma busuk dari nanah demokrasi akan menyeruak ke mana-mana. Sinisme publik kian akut, mungkinkah di sembuhkan?
Sobat,
Dirimu yang terketuk untuk berlaga dalam arena tarung politik demi sebuah perubahan akan berhadapan dengan sinisme publik ini. Mata publik sudah muak dengan drama politik yang kental dengan kemunafikan. Telinga publik sudah muak mendengar eksploitasi isu penuh drama, dan akhirnya hanya memperalat masyarakat sebatas "produk elektoral" sesaat.
Sobat,
Kondisi kritis ini sebenarnya membuat dahaga publik akan hadirnya figur pembaharu kian tidak tertahankan. Hadirmu kadang tidak mesti bagai artis yang harus di sambut karpet merah komplit dengan gemerlap spotlight. Hadirmu kadang tidak meski seperti orator dengan bahasa langit yang malah bikin tambah bingung para jelata.
Hadirmu kadang tidak harus hadir sebagai raja jumawa agar setiap orang harus membungkuk hormat. Hadirlah sebagai anak terhadap orang tua, kakak terhadap saudara, pengayom terhadap masyarakat dan pelopor terobosan reformatif yang membumi.
Sobat,
Engkau akan bertarung bukan cuma dengan taruhan gagasan brilian dan kemampuan orasi memikat. Itu cuma alat bantu untuk mengkomunikasikan secara dua arah dengan masyarakat. Pertarunganmu akan melibatkan taruhan dedikasi, komitmen dan konsistensi penuh pengorbanan. Sehingga, di tengah sinisme publik bisa memunculkan "anomali perubahan" yang bisa membebat sinisme publik penuh luka.
Mungkinkah akan terwujud? Entahlah, biarlan guliran roda waktu yang menjawab, apakah evolusi demokrasi bangsa ini bergerak progresif kental dengan terobosan reformasi, ataukah malah bergerak mundur membuat demokrasi menjadi primitif karena distorsi.
Editor: fn

