PMKRI Soroti Program Makan Bergizi Gratis, Nilai Persiapan Terburu-buru dan Berpotensi Bebani APBN - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

PMKRI Soroti Program Makan Bergizi Gratis, Nilai Persiapan Terburu-buru dan Berpotensi Bebani APBN

Ketua PMKRI Cabang Manado, Mikhael Umboh (Foto: Dok Pribadi/Mikhael Umboh)

Ketua PMKRI Cab. Manado sebut anggaran 2026 mencapai Rp300 triliun, risiko defisit melewati 3% PDB.

Sulut24.com, MANADO – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Manado menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum berjalan maksimal karena tahap persiapan dan pelaksanaanya terkesan terburu-buru. 

Organisasi ini juga mengingatkan potensi beban besar terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada 2026.

“PMKRI melihat MBG belum berjalan secara maksimal karena dari tahap persiapan terkesan terburu-buru. Ada wacana untuk menaikkan anggaran MBG pada tahun 2026 hingga mencapai Rp. 300 triliun yang membebani APBN dengan total alokasi APBN sebesar 171 Triliun,” kata Ketua PMKRI Cabang Manado, Mikhael Umboh, dalam pernyataannya, Rabu (17/9/2025).

Menurut PMKRI, penambahan anggaran tersebut berpotensi memperlebar defisit anggaran hingga melampaui batas 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dimana akan berdampak pada penyempitan ruang fiskal pemerintah untuk program pembangunan lainnya, beban tambahan program ini tidak sebanding dengan kapasitas penerimaan negara. 

Meski begitu, Ia mengatakan bahwa PMKRI mencatat program ini tetap memberikan dampak positif, khususnya terhadap sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Data yang kami lihat dari program ini menyumbang 0,6 persen bagi sektor UMKM,” tambah Umboh.

Ia menekankan bahwa transparansi, akuntabilitas, dan fungsi pengawasan harus diperkuat agar program tidak dijalankan secara asal-asalan. 

PMKRI juga menyarankan agar MBG difokuskan pada daerah/sekolah dengan tingkat Food insecurity tinggi, bukan diberikan secara merata tanpa mempertimbangkan latar belakang ekonomi orang tua siswa.

“Perlu ada pemetaan oleh daerah masing-masing untuk mengetahui daerah atau sekolah yang akan di jadikan prioritas program ini. jangan sampai salah sasaran, Kita tidak tahu siswa yang orang tuanya masih mampu atau tidak mampu secara ekonomi,” ujar Umboh.

PMKRI menilai program ini bisa efektif bila kebutuhan gizi siswa terpenuhi dan konsentrasi belajar meningkat. 

Namun, Mikhael juga mengingatkan pentingnya perbaikan sarana prasarana sekolah dan peningkatan kesejahteraan guru.

“Percuma diberikan makan gratis tetapi sarana dan prasarana sekolah tidak memadai serta kesejahteraan guru tidak dipenuhi,” kata Umboh, menambahkan bahwa masih banyak sekolah di mana satu guru memiliki beban kerja yang cukup tinggi hingga harus mengajar 30 sampai 40 siswa, lebih dari batas ideal yang telah di tentukan. (fn)