Tekad Baja Menuju Puncak
Ilustrasi (Gambar: ist)
Opini oleh:
Jerry F. G. Bambuta
Forum Literasi Masyarakat
Sulut24.com - Setiap kita pastinya memiliki impian untuk di gapai di masa depan. Sebuah orientasi yang akan membuat diri kita merasa utuh karena terpenuhinya panggilan hidup, entah yang bersifat idealistik maupun materialistik.
Ada yang merasa puas jika hidupnya bisa menjadi warna penuh harapan yang bisa menghidupkan orang lain.
Tapi ada pula yang merasa puas jika bisa mencapai pembuktian diri ambisius meraih status sosial prestisius. Dan demi merengkuh status tersebut, kerap kali membuat kita menjadi reaktif dengan target tapi menjadi kurang sensitif dengan hubungan sosial sekitar. Masing-masing kita selalu punya garis impian berbeda dan tidak mungkin sama.
Secara ideal, motivasi terbesar yang membuat seseorang memiliki daya juang dan tekad baja berasal dari tiga sumber utama, yaitu hasrat religius untuk menjadi manusia yang utuh sesuai ketetapan sang Khalik, hasrat untuk membahagiakan orang yang kita cintai di sekitar kita dan hasrat yang besar untuk kita menjadi sarana pembawa berkah bagi sesama.
Dan untuk memenuhi tiga impian di atas benar-benar akan mendorong kita untuk mutlak belajar membangun "kematangan diri" dan "kempananan diri" secara bersamaan.
Dan pada saat yang sama pula, kita tidak membiarkan prioritas hidup yang luhur dan murni pudar hanya karena di gerogoti individualisme, materialisme dan hedonisme.
Kerap kali, perjalanan menuju puncak di awali dengan langkah terseok-seok yang penuh juang. Air mata dan keringat terkuras seiring langkah kerja keras di pacu meniti bukit menuju puncak.
Ada pepatah yang berkata "Kemapanan materi tanpa kematangan diri hanya akan membawa kita pada bencana (calamity)".
Mereka yang tidak mudah patah arang dengan kendala hari ini adalah mereka yang akan menggenggam masa depan dengan penuh haru.
Setiap kucuran air mata dan keringat yang menyertai perjuangan mereka akan menjadi "jalan inspirasi" yang akan menginspirasi mereka yang putus asa karena kebuntuan dan kegagalan.
Mengutip sebuah pepatah yang berkata, "Mereka yang naik ke puncak dengan kesombongan pada akhirnya akan di turunkan tanpa kehormatan".
Betapa pepatah ini menggelitik nurani kita agar selalu rendah hati di tengah aplaus banyak orang. Selalu murah hati di tengah gelimang limpahnya kekayaan.
Ada yang harus menjual nurani kepada kejahatan agar mendapatkan jalan pintas meraih kemapanan hidup yang hedonik dan materialistik. Tapi ada juga yang unik menggunakan kesukaran menjadi alat tempa mencetak karakter dan jalan hidup yang punya nilai.
Mereka punya mata yang jernih untuk melihat keluhuran jauh lebih penting dari kehausan akan kemapanan hedonik dan materialistik. Mereka yang mencapai puncak dengan nilai luhur yang konsisten akan selalu berhasil menjadi pelita memberi inspirasi penuh kehidupan bagi orang lain.
Bangsa besar ini terkapar bukannya karena krisis ekonomi atau krisis sumber daya alam, tapi karena krisis figur yang bisa menjadi sokoguru sekaligus kiblat keteladan bagi generasi di zaman sekarang.
Generasi unik yang tumbuh pesat dalam realita kultur digital membutuhkan panutan yang akan me-navigasi masa depan mereka ke arah yang cemerlang.
Sobat, setapak perjuangan yang kita geluti hari ini adalah perjalanan luhur di bawah tuntunan sang Khalik. Agar hidup kita kelak memberi makna inspiratif yang kuat terhadap generasi yang akan kita tinggalkan saat kita di jemput ajal.
Jangan pernah menyerah dan jangan putus asa hanya karena hambatan hari ini. Percayalah bahwa di balik hujan badai dan gelegar petir selalu menerbitkan bianglala yang indah dan menyejukan.
Editor: fn


