Rupiah Terus Ambrol: Sentuh Rp17.310 Per Dolar AS, Ancaman Inflasi Mengintai Rakyat - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Rupiah Terus Ambrol: Sentuh Rp17.310 Per Dolar AS, Ancaman Inflasi Mengintai Rakyat

Seorang pria sedang berjalan di salah satu toko peralatan rumah tangga yang ada di Kabupaten Minahasa Utara (Foto: Sulut24/fn)

Nilai tukar rupiah pada Kamis, 23 April 2026 dibuka melemah tajam dan sempat menyentuh level Rp17.310 per dolar AS, melanjutkan tren pelemahan selama tiga pekan berturut-turut di tengah eskalasi konflik geopolitik Timur Tengah dan tekanan fiskal domestik.

Sulut24.com, EKONOMI - Mata uang rupiah kembali tertekan pada perdagangan Kamis, 23 April 2026. Pada pembukaan perdagangan, rupiah melemah sebesar 108 poin atau terkoreksi 0,63 persen ke posisi Rp17.289 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.181 per dolar AS. 

Tekanan berlanjut sepanjang sesi pagi. Data Bloomberg pada pukul 09.35 WIB menunjukkan dolar AS menguat hingga mencapai posisi Rp17.310, meski sempat sedikit melandai ke angka Rp17.297 sekitar pukul 09.55 WIB.  (Asatunews) Pada penutupan perdagangan sore hari, rupiah ditutup melemah 5 poin ke level Rp17.286 per dolar AS.

Pergerakan Sepekan: Rupiah Tersungkur Di Atas Rp17.100

Pelemahan hari ini bukan fenomena tunggal. Sepanjang sepekan terakhir, rupiah konsisten bertahan dalam zona tekanan. Pada Jumat, 17 April 2026, rupiah ditutup melemah 0,28% atau turun 48 poin ke level Rp17.185. Data JISDOR Bank Indonesia pada 18 April 2026 menempatkan rupiah di posisi Rp17.189 per dolar AS, menunjukkan pelemahan dibandingkan posisi 16 April 2026 yang masih berada di level Rp17.142 per dolar AS. 

Memasuki pekan baru, pada Senin 20 April 2026, rupiah ditutup menguat tipis 0,11% ke Rp17.165 per dolar AS.  Namun penguatan itu tidak bertahan. Pada Selasa 21 April, rupiah diperdagangkan sekitar Rp17.140, sementara Rabu 22 April melayang di sekitar Rp17.170.  

Pada penutupan perdagangan Rabu (22/4/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,22% atau 38 poin ke Rp17.181 per dolar AS. 


Secara rata-rata, dalam sepekan terakhir (17–23 April 2026), rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.125 hingga Rp17.310 per dolar AS, dengan rata-rata harian berada di sekitar Rp17.200 per dolar AS jauh di atas asumsi APBN 2026.

Faktor Pemicu: Dari Hormuz Hingga Utang Triliunan

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian gencatan senjata antara AS dengan Iran. 

"Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu, untuk memungkinkan pembicaraan berlanjut guna mengakhiri perang yang telah menewaskan ribuan orang dan mengguncang ekonomi global," katanya dikutip dari Koran Jakarta. 

Ibrahim juga menjelaskan bahwa lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur 20% pasokan minyak dan gas alam cair global sebagian besar terhenti pada Selasa 21 April 2026, sehingga inflasi energi global turut memengaruhi kebijakan bank sentral AS.  

Di sisi domestik, pemerintah sedang menghadapi tekanan likuiditas besar pada 2026 seiring jatuh tempo utang yang mencapai Rp833,96 triliun, level tertinggi dalam satu dekade terakhir. Nilai jatuh tempo 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan 2025 yang sebesar Rp800,33 triliun. 


Dari sisi moneter, Bank Indonesia kembali menahan suku bunga acuan alias BI Rate di level 4,75%, mempertahankan suku bunga Deposit Facility di level 3,75% dan suku bunga Lending Facility 5,5%.  Ini merupakan penahanan ketujuh kali berturut-turut.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dikitip dari Trading Economics menegaskan kebijakan ini bertujuan untuk menstabilkan mata uang. Warjiyo mencatat bahwa cadangan devisa sekitar USD148 miliar pada bulan Maret tetap memadai, dengan BI siap meningkatkan intervensi di pasar spot dan forward. Ia juga menegaskan bahwa rupiah dinilai terlalu rendah dibandingkan dengan fundamental.  

Dampak Nyata Bagi Masyarakat: Dari Dapur Hingga Cicilan Utang

Pelemahan rupiah yang konsisten di atas level Rp17.000 per dolar AS membawa konsekuensi langsung bagi kehidupan rakyat.

Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, memperingatkan dampak yang akan segera terasa. 

"Jika rupiah bertahan di kisaran 17 ribu per dolar AS dalam waktu lama, masyarakat akan merasakan tekanan langsung pada biaya hidup," ucap Syafruddin dikutip dari Tempo.co. 

Ia menjelaskan, bila rupiah konsisten di level 17 ribu per dolar AS, kenaikan harga barang di masyarakat tidak akan terjadi secara serentak, melainkan secara perlahan tapi pasti, tergantung pada struktur biaya sektor masing-masing. 

Dalam kondisi terburuk, bila semua opsi tidak memungkinkan, perusahaan mau tidak mau harus menaikkan harga jual pasar dengan risiko penurunan kinerja penjualan atau perubahan daya serap pasar. 


Analis Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dikutip dari Kompas.com mencatat pelemahan rupiah hampir pasti berdampak pada kenaikan harga barang impor, yang kemudian merembet ke harga di tingkat konsumen atau masyarakat. Sejumlah komoditas yang bergantung pada impor mulai menunjukkan tekanan harga. 

Secara lebih luas, dampak pelemahan rupiah mencakup berbagai sektor:

1. Harga Pangan dan Kebutuhan Pokok Naik. Barang konsumsi impor seperti elektronik, gadget, pakaian bermerek, dan produk rumah tangga langsung mengalami kenaikan harga saat rupiah melemah karena komponen harga sangat bergantung pada nilai tukar. 

Banyak industri di Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor, sehingga pelemahan rupiah menyebabkan biaya produksi meningkat, yang kemudian berdampak pada kenaikan harga produk akhir.  

2. Sektor Manufaktur dan Ancaman PHK. Industri padat karya yang bergantung pada bahan baku impor, seperti tekstil, menghadapi dilema berat. Biaya produksi yang membengkak di tengah permintaan yang belum pulih total meningkatkan risiko efisiensi tenaga kerja atau pemutusan hubungan kerja (PHK) di sentra-sentra industri. 

3. Beban Utang Negara Membengkak. Pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi sentimen investor di pasar surat utang. Ketika rupiah tertekan, investor asing cenderung lebih berhati-hati, bahkan tidak segan keluar dari pasar SUN saat muncul sentimen negatif. 

Aksi jual tersebut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, yang pada akhirnya meningkatkan biaya utang pemerintah. 

4. Daya Beli Masyarakat Tergerus. Inflasi yang nilainya lebih tinggi dari kenaikan pendapatan akan secara efektif menurunkan daya beli. Secara nominal pendapatan mungkin naik, tetapi kemampuan membeli barang secara riil nyaris tidak terasa karena harga barang naik hampir setara.  

5. Biaya Energi dan BBM Terancam Naik. Indonesia tetap terpapar pada biaya energi yang lebih tinggi sebagai importir bersih minyak dan gas, meskipun ada kenaikan harga bahan bakar non-subsidi baru-baru ini. Risiko inflasi meningkat, sementara arus keluar modal berlanjut di tengah musim dividen.  

Apa Yang Terjadi Jika Rupiah Terus Melemah?

Para ekonom memperingatkan skenario yang lebih berat jika tren pelemahan tidak berhasil dibendung. Peneliti Listya dari kalangan ekonomi menggambarkan potensi efek domino. 

"Kondisi ini juga bisa memperburuk persepsi publik terhadap kebijakan moneter, terlebih bila tidak ada komunikasi yang baik dari Bank Indonesia atau Kementerian Keuangan," katanya dikutip dari Tempo.co. 

Ia menjelaskan bahwa harga barang naik, utang luar negeri membengkak, dan pelaku usaha kesulitan menetapkan harga. Lebih dari itu, kredibilitas kebijakan moneter bisa goyah jika tidak ada komunikasi yang jelas dari otoritas fiskal dan moneter.  

Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, Teuku Riefky, menambahkan bahwa industri makin tertekan karena bahan baku impor menjadi semakin mahal, serta investor asing yang khawatir terhadap pelemahan rupiah akan melepas obligasi dan SUN (Surat Utang Negara), sehingga kondisi ini mendorong BI melakukan intervensi pasar dengan membeli surat utang demi menjaga stabilitas.  


Intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah mulai menggerus bantalan cadangan devisa, ini terjadi di tengah beban pembayaran utang luar negeri yang meningkat suatu kondisi yang menyangkut tidak hanya masalah likuiditas jangka pendek, tetapi juga keberlanjutan fiskal dan ekonomi dalam jangka panjang.  

Dalam skenario paling ekstrem, beberapa pakar dan analis percaya bahwa rupiah berpotensi melemah lebih lanjut dan bahkan menyentuh Rp20.000 per dolar AS jika faktor tekanan global tidak mereda.

Pemerintah: Masih Dalam Hitungan

Di tengah gejolak ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memilih bersikap tenang. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan nilai tukar dolar lebih dari Rp17.000 masih sesuai dengan hitungan pemerintah.  

Namun demikian, pemerintah kemungkinan akan gencar melakukan operasi pasar murah dan melanjutkan program Bantuan Sosial (Bansos) untuk menjaga daya beli masyarakat miskin agar tidak jatuh ke jurang kemiskinan ekstrem, sementara Bank Indonesia akan berupaya menjaga nilai tukar rupiah agar biaya impor bahan baku tidak melambung, yang bisa memperparah inflasi yang berasal dari impor. (fn)