Di Balik Polemik Dekan FPIK Unsrat: Konfirmasi ke Senat Ungkap Fakta yang Berbeda dari Narasi Pendemo - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Di Balik Polemik Dekan FPIK Unsrat: Konfirmasi ke Senat Ungkap Fakta yang Berbeda dari Narasi Pendemo

Harianto (tengah) saat bertandang ke FPIK dan diterima Dekan, Dr. Ir. Ockstan Jurike Kalesaran, M.Sc (kiri) (Foto: ist)

Ketua LSM Rako Harianto membantah tudingan nepotisme dalam pemilihan Dekan FPIK Unsrat Manado. Hasil konfirmasi ke Senat FPIK membuktikan calon terpilih Dr. Ockstan Kalesaran menang dengan suara mayoritas dari 40 anggota Senat.

Sulut24.com, MANADO - Tudingan nepotisme dalam proses pemilihan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado resmi mendapat bantahan berbasis data. Harianto, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Rakyat Anti Korupsi (Rako) sekaligus alumni FPIK, menegaskan bahwa hasil pemungutan suara di tingkat Senat secara telak menggugurkan narasi intervensi yang sempat memantik aksi demonstrasi di Mapolda Sulawesi Utara.

Konfirmasi Langsung ke Senat FPIK: Proses Berjalan Sesuai Mekanisme Demokrasi Kampus

Harianto mengaku telah mengkonfirmasi langsung kepada Ketua Senat FPIK, Prof. Winda Mingkid, sebelum angkat bicara ke publik. Dari konfirmasi tersebut, ia memperoleh gambaran utuh tentang jalannya proses pemilihan yang melibatkan tiga kandidat dan 40 anggota Senat, termasuk 31 guru besar.

Calon terpilih, Dr. Ir. Ockstan Jurike Kalesaran, M.Sc., berhasil mengamankan dukungan mayoritas dari total suara yang diperebutkan. Sementara itu, dua kandidat lainnya hanya meraih dukungan marginal salah satunya bahkan tidak memperoleh satu suara pun.

"Dari tiga kandidat, ada yang tidak mendapatkan suara, calon satunya hanya tujuh suara dan sisanya memilih Enci (Dr. Ir. Ockstan Jurike Kalesaran, M.Sc)," beber Harianto, Senin (4/5/2026), mengungkap hasil konfirmasinya ke Senat FPIK.

Klaim Intervensi Rektor Dinilai Tidak Sinkron dengan Fakta Mekanisme Suara

Salah satu tuduhan yang disuarakan massa pendemo di Polda Sulut adalah dugaan campur tangan Rektor Unsrat, Prof. Oktovian Berty Alexander Sompie, dalam menentukan hasil pemilihan. Klaim ini pun dibantah Harianto dengan merujuk pada mekanisme bobot suara yang berlaku.

Ia menjelaskan bahwa hak suara Rektor hanya berkontribusi sebesar 35 persen dari total suara. Selain itu, pemilihan sendiri tidak dipimpin langsung oleh Rektor, melainkan oleh salah satu wakil rektor.

"Walaupun hak suara Rektor itu diberikan pada perolehan suara kedua terbanyak, tetap tidak akan melampaui raihan suara Ockstan Jurike Kalesaran. Jadi, di mana nepotismenya," tanya Harianto.

Selisih Suara yang Telak Jadi Bukti Obyektif, Bukan Produk Paksaan

Harianto menegaskan bahwa selisih perolehan suara yang terpaut jauh antara kandidat terpilih dan dua pesaingnya menjadi bukti paling objektif bahwa keputusan Senat murni didasarkan pada kapasitas dan rekam jejak calon, bukan rekayasa dari pihak luar.

"Calon yang terpilih mampu meraih suara mayoritas dalam rapat Senat. Hal ini membuktikan bahwa dukungan terhadap yang bersangkutan bersifat kolektif dan representatif," ujar Harianto.

Ia menambahkan bahwa raihan suara tersebut dengan sendirinya mematahkan narasi yang dibangun para pendemo. Jika proses diukur semata dari perolehan suara terbanyak di tingkat Senat, maka anggapan adanya pengaturan dari Rektor menjadi terbantahkan secara logis dan prosedural.

Alumni Minta Civitas Akademika Kembali Fokus pada Kualitas Pendidikan dan Riset

Sebagai bagian dari keluarga besar FPIK, Harianto menyampaikan harapannya agar seluruh civitas akademika termasuk pihak-pihak yang sebelumnya meragukan proses pemilihan dapat menerima dan menghormati keputusan Senat, lalu mengalihkan energi pada hal yang lebih substansial.

"Kami berharap seluruh civitas akademika dapat menghormati hasil keputusan Senat FPIK dan kembali fokus pada pengembangan kualitas pendidikan serta riset di fakultas, demi menjaga nama baik almamater di tingkat nasional maupun internasional," tegasnya.

Pernyataan Harianto ini menjadi salah satu suara alumni yang paling tegas dalam merespons polemik pemilihan dekan yang sempat mewarnai ruang publik Sulawesi Utara dalam beberapa waktu terakhir. (fn)