Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius: 8 Kasus, 3 Tewas, dan Ancaman yang Menyebar ke Seluruh Dunia
Ilustrasi (AI-generated image/Sulut24.com)
WHO konfirmasi penularan antar-manusia pertama di atas kapal pesiar. Indonesia catat 23 kasus sejak 2024. Para ahli tegaskan risiko pandemi tetap rendah namun kewaspadaan global harus ditingkatkan.
Sulut24.com, KESEHATAN - Dunia kembali dihadapkan pada ancaman penyakit zoonosis setelah wabah Hantavirus terdeteksi di atas kapal pesiar MV Hondius, yang berlayar dari Argentina. Per 8 Mei 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi delapan kasus enam terkonfirmasi secara laboratorium dan dua berstatus probable dengan tiga pasien dilaporkan meninggal dunia. Kejadian ini memicu kewaspadaan global, sekaligus menguji kesiapan sistem kesehatan Indonesia yang telah mencatat 23 kasus Hantavirus sejak 2024.
Kapal Pesiar Jadi Titik Nol: Bagaimana Wabah Hantavirus MV Hondius Bermula?
Wabah ini bermula dari seorang penumpang yang diduga terpapar Hantavirus sebelum naik ke kapal. Berdasarkan rekonstruksi epidemiologis WHO, kasus indeks kemungkinan besar tertular saat melakukan kegiatan bird-watching di area tempat pembuangan sampah di luar kota Ushuaia, Argentina wilayah yang dikenal sebagai habitat tikus liar pembawa virus.
“Kasus pertama tampaknya sangat mungkin terinfeksi Hantavirus sebelum naik ke kapal pesiar, melalui penularan lingkungan dalam kegiatannya di Argentina dan Chile,” jelas WHO, dikutip dari Disease Outbreak News (DON).
Dari pasien pertama itu, virus kemudian menyebar ke sejumlah penumpang lain mengkonfirmasi kapasitas Andes Virus (ANDV) untuk menular dari manusia ke manusia, sebuah karakteristik yang sangat jarang ditemukan pada jenis Hantavirus lainnya. Seluruh enam kasus terkonfirmasi positif melalui pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) spesifik virus dan sekuensing genetik.
Angka kematian (case fatality ratio/CFR) wabah ini mencapai 38%. Namun para ahli mengingatkan bahwa angka tersebut perlu diinterpretasikan secara hati-hati.
“Sementara angka-angka itu sangat menakutkan, kita sering tidak mengetahui berapa banyak orang yang sebenarnya terinfeksi, karena kasus ringan mungkin terlewatkan,” kata CEO Infectious Diseases Society of America (IDSA) Dr. Jeanne Marrazzo, dikutip dari NPR.
Evakuasi Lintas Benua: Pasien Menyebar dari Afrika Selatan hingga Swiss
Penanganan wabah ini menjadi operasi medis lintas benua yang kompleks. Dua kali penerbangan evakuasi medis telah dilakukan dari Cabo Verde pelabuhan tempat kapal bersandar menuju Belanda. Kini pasien-pasien dari MV Hondius tersebar di empat negara, Johannesburg (Afrika Selatan), Belanda, Zurich (Swiss), dan satu kasus sempat dibawa ke Jerman, meski kemudian dinyatakan negatif melalui tes PCR dan serologi.
Penyebaran pasien ke berbagai negara ini mempertegas perlunya koordinasi kesehatan internasional yang cepat dan transparan. Di atas kapal pesiar tersebut juga terdapat warga negara dari negara-negara ASEAN, yakni Filipina dan Singapura, yang menambah kompleksitas pelacakan kontak.
Sebuah insiden sempat memunculkan kekhawatiran lebih luas ketika seorang pramugari maskapai KLM diobservasi karena memiliki kontak dengan pasien terkonfirmasi. Namun, hasil pemeriksaan laboratorium per 8 Mei 2026 menyatakan hasilnya negatif Hantavirus.
Bukan COVID: WHO Tegaskan Hantavirus Tidak Berpotensi Pandemi
Di tengah gelombang kekhawatiran publik, WHO dan para ahli kesehatan secara tegas menempatkan wabah ini dalam perspektif yang proporsional. Meski penularan antar-manusia terkonfirmasi, sifat biologis Hantavirus sangat berbeda dari virus-virus penyebab pandemi besar sebelumnya.
“Ini bukan Covid, ini bukan influenza, penyebarannya sangat, sangat berbeda,” jelas Direktur Departemen Manajemen Ancaman Epidemi dan Pandemi Dr. Maria Van Kerkhove, WHO, dikutip dari Kompas.com.
Andes Virus memang merupakan satu-satunya jenis Hantavirus yang diketahui mampu menular dari manusia ke manusia. Namun kemampuan penularannya jauh lebih terbatas dibandingkan virus pernapasan seperti influenza atau SARS-CoV-2. Transmisi umumnya terjadi melalui kontak erat dan berkepanjangan, bukan melalui droplet kasual di ruang publik.
“Andes virus tidak memiliki tingkat infektivitas yang serupa dengan penyakit seperti campak. Meski penularan antarmanusia memungkinkan, risikonya secara global tetap dinilai rendah,” jelas WHO, dikutip dari WHO Disease Outbreak News.
Tidak adanya vaksin dan pengobatan antiviral spesifik yang telah disetujui secara global menjadikan tata laksana medis berfokus pada perawatan suportif intensif. Intervensi seperti ventilator mekanis dan terapi oksigen terbukti meningkatkan peluang bertahan hidup pasien.
23 Kasus di Indonesia: Jakarta dan Yogyakarta Paling Terdampak
Sementara dunia mencermati wabah kapal pesiar, Indonesia menghadapi kenyataan bahwa Hantavirus bukan ancaman baru. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat total 23 kasus konfirmasi Hantavirus sejak 2024 hingga Mei 2026, dengan tiga pasien meninggal dan 20 lainnya dinyatakan sembuh. Kasus tersebar di sembilan provinsi, dengan DKI Jakarta dan DI Yogyakarta menjadi dua wilayah dengan jumlah kasus terbanyak masing-masing enam kasus.
Dua kasus suspek terbaru yang sempat terdeteksi di kedua kota itu pada Mei 2026 telah dinyatakan negatif berdasarkan pemeriksaan lanjutan.
“Itu terakhir tadi saya konfirmasi ke teman-teman unit lain, itu sudah negatif, yang dua itu. Sudah sembuh, sudah sehat,” kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman, dikutip dari IDN Times.
Kemenkes telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan kepada rumah sakit dan laboratorium di seluruh Indonesia sejak tahun lalu sebagai langkah antisipasi dini. Langkah ini dinilai krusial mengingat gejala awal Hantavirus demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan sangat mirip dengan demam berdarah dengue dan leptospirosis yang sudah lebih familiar di kalangan tenaga medis Indonesia.
Mengapa Indonesia Rentan? Tikus, Kota Padat, dan Perubahan Iklim
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes menyebut Hantavirus sebagai “zoonosis emerging” penyakit baru yang berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Studi komprehensif di berbagai kota besar Indonesia menemukan seroprevalensi Hantavirus pada manusia mencapai sekitar 11,6%, menunjukkan paparan yang jauh lebih luas dari yang selama ini teridentifikasi secara klinis.
Tiga faktor saling bertautan memperbesar risiko: kepadatan permukiman perkotaan yang menciptakan habitat ideal bagi tikus sebagai reservoir virus, sanitasi yang belum optimal, serta perubahan iklim yang mendorong populasi rodensia meningkat dan memperluas wilayah jelajah mereka ke area pemukiman manusia.
Hantavirus tidak ditularkan oleh nyamuk maupun melalui sentuhan langsung dalam kondisi normal. Penularan utama terjadi ketika seseorang menghirup aerosol yang berasal dari urine, feses, atau saliva tikus terinfeksi artinya seseorang dapat tertular hanya dengan berada di ruangan yang terkontaminasi eksreta tikus, tanpa harus digigit sekalipun.
Gejala, Diagnosis, dan Penanganan: Apa yang Harus Diketahui Publik?
Hantavirus memiliki dua manifestasi klinis utama. Pertama, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang dominan di Amerika dan menyerang sistem pernapasan dengan CFR tertinggi hingga 38%. Kedua, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa, menyerang ginjal dengan CFR bervariasi antara 1–15% tergantung jenis strain.
Gejala awal meliputi demam, nyeri otot, kelelahan, mual, muntah, dan sakit kepala. Pada kasus HPS, kondisi dapat memburuk cepat dengan munculnya batuk, sesak napas, dan gagal napas dalam hitungan hari. Diagnosis dikonfirmasi melalui tes PCR spesifik Hantavirus yang hanya tersedia di laboratorium rujukan tidak ada tes mandiri yang bisa dilakukan publik.
Tidak ada vaksin maupun antiviral spesifik yang tersedia secara global. Perawatan bersifat suportif: oksigenasi, ventilasi mekanis, dan dialisis jika terjadi komplikasi ginjal. Deteksi dan penanganan medis sejak dini adalah kunci utama peningkatan angka keselamatan pasien. (fn)


