AS Balas Iran Usai Drone Hantam Tanker Minyak di Selat Hormuz, Eskalasi Terburuk Sejak Gencatan Senjata - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

AS Balas Iran Usai Drone Hantam Tanker Minyak di Selat Hormuz, Eskalasi Terburuk Sejak Gencatan Senjata

Ilustrasi Kapal Tanker melintasi Selat Hormuz (Gambar: Sulut24)

Serangan drone terhadap tanker minyak picu balasan militer AS di Selat Hormuz, ancam gencatan senjata dan stabilitas harga minyak dunia

Sulut24.com, INTERNASIONAL - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas pada akhir pekan ini. Militer AS melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas strategis Iran setelah sebuah kapal tanker minyak komersial diserang drone saat melintas di Selat Hormuz, Sabtu (27/6/2026) pagi waktu setempat. Insiden ini menjadi babak baru eskalasi konflik kedua negara, kendati AS dan Iran saat ini masih terikat gencatan senjata sementara yang disepakati untuk membuka jalan bagi perundingan damai.

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan, serangan balasan tersebut merupakan respons atas serangan drone yang menghantam kapal tanker M/T Kiku berbendera Panama. Kapal itu dilaporkan mengangkut lebih dari 2 juta barel minyak mentah ketika diserang di sekitar Selat Hormuz.

Dikutip dari CNBC Indonesia, Minggu (28/6/2026), dalam pernyataan yang dirilis Sabtu malam, CENTCOM menyebut serangan AS menyasar sejumlah fasilitas strategis Iran, mulai dari infrastruktur pengawasan militer, sistem komunikasi, pos pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, hingga kemampuan penebar ranjau milik Iran. 

CENTCOM menegaskan Teheran sebenarnya “diberi kesempatan untuk mematuhi perjanjian gencatan senjata, namun memilih untuk tidak melakukannya” ketika pasukannya meluncurkan drone serang satu arah yang menghantam M/T Kiku pada pukul 04.30 waktu setempat. Meski konflik kembali meningkat, CENTCOM memastikan jalur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka dan lalu lintas kapal komersial masih berjalan.

Serangan terhadap M/T Kiku bukan kejadian tunggal. Sehari sebelumnya, sebuah kapal tanker lain juga dilaporkan terkena proyektil saat melintasi Selat Hormuz. Mengutip laporan kantor berita Reuters yang diturunkan EGINDO, badan keamanan maritim Inggris (UKMTO) menyatakan kapal tanker yang terkena serangan pada Sabtu itu mengalami kerusakan pada bagian anjungan, dengan seluruh awak kapal dilaporkan selamat. 

Pusat Informasi Maritim Gabungan, yang dijalankan koalisi angkatan laut pelindung jalur pelayaran, bahkan menaikkan tingkat ancaman keamanannya akibat insiden tersebut. Bahrain, yang menjadi basis Armada Kelima Angkatan Laut AS, menyebut serangan Iran yang terus berlanjut “merusak perdamaian dan stabilitas regional”, meski upaya de-eskalasi regional dan internasional terus diupayakan.

Rangkaian serangan ini terjadi di tengah masa gencatan senjata 60 hari antara AS dan Iran yang semestinya menjadi landasan pembicaraan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan kedua negara. Namun, Washington dan Teheran saling menuduh telah melanggar kesepakatan tersebut. 

Sehari sebelum serangan terhadap M/T Kiku, Presiden AS Donald Trump bahkan menuding Iran melakukan pelanggaran gencatan senjata setelah serangkaian serangan drone terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan Hormuz.

Harga Minyak Bergerak Liar

Sementara itu, harga minyak dunia sempat menguat setelah kabar bahwa Iran berada di balik serangan terhadap sebuah kapal kargo di dekat Dahit, Oman, sebagaimana dikonfirmasi seorang pejabat Amerika Serikat. Padahal, sebelum insiden ini, harga minyak sempat kehilangan seluruh penguatan pascaperang karena pelaku pasar mulai optimistis pasokan minyak global akan membaik. Optimisme tersebut muncul setelah kapal-kapal tanker yang selama berbulan-bulan tertahan di Teluk Persia mulai kembali melintasi Selat Hormuz.

Berdasarkan data perusahaan pelacak perdagangan energi Kpler yang dikutip Liputan6, lebih dari 20 kapal tanker yang mengangkut sekitar 35 juta barel minyak mentah telah melintasi Selat Hormuz sejak AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis itu. 

Namun, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah memperingatkan bahwa pelayaran aman melalui Selat Hormuz hanya akan diizinkan melalui jalur yang ditetapkan Teheran, dan kapal yang tidak mematuhi instruksi transit akan menghadapi tindakan dari otoritas Iran.

Analis dari Citi yang juga dikutip Liputan6 menilai skenario utama saat ini adalah terjadinya de-eskalasi yang lebih besar di kawasan, dengan proyeksi harga minyak Brent berpotensi turun ke kisaran US$60–65 per barel dalam enam hingga 12 bulan ke depan seiring normalisasi arus pengiriman melalui Selat Hormuz. 

Namun, rentetan serangan terbaru terhadap kapal tanker menunjukkan bahwa risiko geopolitik di salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia itu masih tetap tinggi. (fn)