Gelombang Panas Terparah dalam Sejarah Landa Eropa, WHO Catat Lebih dari 1.300 Kematian
Gelombang panas ekstrem kembali melanda sejumlah kota di Eropa. Suhu yang terus meningkat memaksa warga dan wisatawan mencari cara untuk mendinginkan diri di tengah teriknya matahari. (Foto: ist)
Suhu Ekstrem Pecahkan Rekor di Prancis, Spanyol, dan Inggris.
Sulut24.com, INTERNASIONAL - Badan Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari 1.300 kematian berlebih di Eropa sejak 21 Juni 2026 akibat gelombang panas ekstrem yang melanda hampir seluruh penjuru benua tersebut. Gelombang panas ini disertai sejumlah rekor suhu tertinggi, termasuk di Prancis yang mencatat hari terpanas sepanjang sejarah pengukurannya.
WHO menyebut, sejak 21 Juni 2026, sedikitnya 1.300 kematian berlebih tercatat terkait suhu tinggi di Eropa, dengan Prancis menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Di Prancis, otoritas kesehatan mencatat sekitar 1.000 kematian tambahan hanya dalam kurun beberapa hari sejak 24 Juni.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut Eropa sebagai benua yang mengalami pemanasan tercepat di dunia. “Eropa adalah benua yang mengalami pemanasan paling cepat di Bumi,” kata Tedros, sebagaimana dikutip RMOL.id. Ia menambahkan, saat ini sekitar 150 juta orang di Eropa hidup di bawah suhu ekstrem, dengan sekolah-sekolah ditutup dan jaringan listrik berada dalam tekanan tinggi.
Dua Episode Gelombang Panas
Menurut data Copernicus Climate Change Service (C3S), Eropa mengalami dua episode gelombang panas besar pada 2026. Episode pertama berlangsung pada akhir Mei, terutama 21–30 Mei, dengan suhu rata-rata harian di Prancis barat, Inggris, dan Wales mencapai lebih dari 10 derajat Celsius di atas rata-rata historis. Episode kedua, yang jauh lebih luas dan parah, dimulai pertengahan Juni dan memuncak pada akhir bulan.
Badan Meteorologi Prancis, Météo France, mencatat Selasa, 23 Juni 2026, sebagai hari terpanas yang pernah terukur di negara itu sejak pencatatan dimulai pada 1947. Sehari setelahnya, Paris mencetak rekor suhu hingga 40,9 derajat Celsius, sementara di kota Pissos suhu bahkan menembus 44,3 derajat Celsius suhu tertinggi yang pernah tercatat di Prancis.
Di Spanyol, Badan Meteorologi Nasional (AEMET) mengeluarkan peringatan merah untuk wilayah utara Semenanjung Iberia, termasuk Gipuzkoa, Bizkaia, dan Cantabria, dengan suhu di beberapa daerah diperkirakan menembus 44 derajat Celsius. Inggris turut terdampak, dengan Met Office mencatat suhu hingga 40 derajat Celsius di Inggris selatan dan mengeluarkan peringatan panas tingkat merah.
Sains Iklim: Gelombang Panas Terparah yang Pernah Tercatat
Tim peneliti World Weather Attribution menyimpulkan, gelombang panas akhir Juni 2026 ini merupakan yang paling parah yang pernah tercatat di kawasan yang mereka analisis. Studi tersebut juga menemukan bahwa pola sirkulasi atmosfer serupa kini menghasilkan suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade lalu, akibat naiknya garis dasar suhu global akibat perubahan iklim.
Peneliti cuaca dari Imperial College London, Theodore Keeping, yang terlibat dalam studi tersebut menegaskan keterkaitan langsung antara fenomena ini dan krisis iklim. “Fenomena ini tidak akan mungkin terjadi di bulan Juni tanpa adanya perubahan iklim,” ujar Keeping, dikutip Kompas.com. Ia menambahkan, tingkat kelembapan yang menyertai gelombang panas ini juga belum pernah terjadi sebelumnya, dengan suhu titik embun di beberapa kota Inggris mencapai angka 20-an derajat Celsius jauh lebih tinggi dibanding gelombang panas Juli 2022.
Analisis terhadap 854 kota di Eropa, yang mencakup sekitar 30 persen populasi benua itu, menemukan hampir separuh dari kota-kota tersebut telah atau akan memecahkan rekor tekanan panas (heat-stress) sepanjang sejarah mereka hanya pada bulan ini.
Korban Jiwa dan Dampak Kesehatan
Di Prancis, Badan Kesehatan Masyarakat (Santé publique France) melaporkan adanya lonjakan kematian sejak 24 Juni 2026. “Sekitar 1.000 kematian tambahan telah diamati dibandingkan dengan kematian pada bulan-bulan sebelumnya,” demikian keterangan badan tersebut, dilansir Detik.com yang mengutip AFP. Sebanyak 85 persen dari korban berusia 65 tahun ke atas, dan banyak di antaranya meninggal di rumah masing-masing, khususnya di kawasan Ile-de-France yang mencakup Paris.
Di Spanyol, sistem pemantauan kematian MoMo memperkirakan gelombang panas berkontribusi terhadap 212 kematian tambahan hanya dalam periode 21–24 Juni. Sementara itu, setidaknya 54 orang di Prancis dilaporkan tewas akibat panas maupun tenggelam ketika mencoba mendinginkan tubuh di sungai dan danau.
WHO mengingatkan, panas ekstrem kerap disebut sebagai “pembunuh senyap” karena banyak rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi ini. Secara global, organisasi tersebut mencatat sekitar 489.000 kematian terkait panas terjadi setiap tahun antara 2000 hingga 2019.
Tekanan pada Energi, Pertanian, dan Infrastruktur
Gelombang panas ini juga menimbulkan tekanan besar pada sektor energi dan ekonomi. Di Belgia, harga listrik sempat menembus rekor lebih dari 1 euro per kilowatt-jam (kWh) pada 24 Juni, ketika pembangkit listrik konvensional dimaksimalkan untuk memenuhi lonjakan permintaan pendingin ruangan. Operator jaringan listrik Prancis, RTE, mencatat permintaan listrik naik hingga sekitar 58 gigawatt rata-rata selama pekan terpanas, meski otoritas menyebut keamanan pasokan masih terkendali.
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) tertua di Eropa, Beznau di Swiss, bahkan terpaksa dimatikan total pada 26 Juni 2026 akibat suhu air sungai pendingin yang terlalu tinggi.
Di sektor pertanian, laporan Buletin JRC MARS edisi Juni 2026 mencatat memburuknya tekanan air pada tanaman di Prancis, Jerman, Republik Ceko, Slovakia, Hungaria, Rumania, Italia, dan Spanyol dengan sejumlah kerugian di Spanyol bahkan dinilai tidak dapat diperbaiki. Studi Allianz yang dikutip Deutsche Welle juga memperkirakan kerugian ekonomi Jerman akibat gelombang panas pada periode 2026–2030 dapat mencapai sekitar 131 miliar dolar AS, atau setara Rp2.353 triliun.
Sejumlah pemerintah di Eropa mengambil langkah mitigasi darurat. Pemerintah Prancis menetapkan status siaga merah di 72 dari 96 wilayah administratifnya. Museum Louvre di Paris membatalkan konser gratis, sementara sejumlah festival dan acara publik di Belgia serta Prancis turut dibatalkan atau dijalankan dengan pembatasan ketat, termasuk larangan konsumsi alkohol di area publik.
Kepala informasi iklim Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), John Kennedy, menyatakan situasi seperti ini akan semakin sering terjadi seiring perubahan iklim. Dalam keterangan resmi WMO, Kennedy menyebut Eropa telah menghangat sekitar dua derajat Celsius dalam 50 tahun terakhir sejak gelombang panas bersejarah pada 1976.
Sejumlah ilmuwan memperingatkan, gelombang panas dengan intensitas seperti yang terjadi pada Juni 2026 ini yang dulunya dianggap fenomena sekali dalam satu generasi kini berisiko terjadi hampir setiap tahun apabila emisi gas rumah kaca tidak segera dikurangi secara signifikan. (fn)

