Gereja GERMITA dan Warga Talaud Gotong Royong Tambal Jalan Rusak Parah - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Gereja GERMITA dan Warga Talaud Gotong Royong Tambal Jalan Rusak Parah

Suasana kerja bakti massal perbaikan jalan Lirung–Moronge–Salibabu (Foto: ist)

Sinode GERMITA bersama masyarakat dan Pemkab Kepulauan Talaud gelar kerja bakti massal perbaikan jalan Lirung–Moronge–Salibabu yang rusak parah. Gereja ambil inisiatif karena kerusakan terus dibiarkan.

Sulut24.com, TALAUD - Kondisi jalan yang rusak parah di ruas Lirung–Moronge–Salibabu, Kabupaten Kepulauan Talaud, akhirnya mendorong Sinode Gereja Masehi Injili Talaud (GERMITA) turun tangan. Bersama masyarakat, unsur gereja, dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, GERMITA menggelar kerja bakti massal yang juga turut dihadiri oleh Kepala UPTD - PU Provinsi Sulawesi Utara Erens Nusa untuk memperbaiki ruas jalan strategis di wilayah perbatasan negara itu, Jumat (12/6/2026).

Ketua Umum Badan Pekerja Majelis Sinode (BPMS) GERMITA, Pdt. Dr. Arnold Apolos Abbas, menegaskan bahwa kerusakan yang kian memburuk memaksa gereja mengambil langkah konkret.

"Kerusakan jalan yang semakin parah mendorong kami untuk mengambil inisiatif menggerakkan jemaat, masyarakat, dan seluruh elemen yang ada agar bersama-sama melakukan kerja bakti. Ini adalah wujud kepedulian kita terhadap bangsa dan negara, khususnya Kabupaten Kepulauan Talaud sebagai wilayah perbatasan NKRI," ujar Pdt. Abbas.

Kerja Bakti Dibagi Tiga Zona, Libatkan Ratusan Jemaat dan Aparatur

Pelaksanaan kerja bakti dirancang terkoordinasi dengan membagi ruas jalan menjadi tiga zona tanggung jawab.

Zona pertama ruas Kota Lirung hingga Jembatan Dingkaren dikerjakan oleh Korps Pelayan Khusus Pria Kaum Bapa (KP-PKB) dan pemuda dari Jemaat Imanuel, Musafir, dan Bukit Karmel Lirung. Zona kedua, antara Jembatan Dingkaren dan Jembatan Mamareppe, menjadi tanggung jawab jemaat-jemaat di Wilayah 16 Moronge. Adapun zona ketiga, dari Jembatan Mamareppe ke wilayah Salibabu, ditangani oleh KP-PKB dan pemuda Wilayah 10 Salibabu.

Suasana kerja bakti massal perbaikan jalan Lirung–Moronge–Salibabu (Foto: ist)

Peserta kerja bakti diminta membawa peralatan mandiri meliputi cangkul, sekop, parang, linggis, dan mesin pemotong rumput.

Pemkab Talaud Kirim Ekskavator dan Tiga Dump Truck

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) turut memberikan dukungan alat berat. Satu unit ekskavator disiagakan untuk penggalian material sirtu, sementara tiga unit dump truck disiapkan untuk mengangkut material ke titik-titik penimbunan sepanjang ruas yang diperbaiki.

Tenaga kerja masyarakat akan dipusatkan pada pekerjaan penghamparan dan perataan material. BPMS GERMITA juga mengimbau jemaat yang memiliki kendaraan bak terbuka untuk membantu mobilisasi tenaga kerja dan peralatan. Kebutuhan konsumsi diharapkan disiapkan oleh Wanita Kristen Indonesia (WKI) di masing-masing jemaat dan wilayah.

Suasana kerja bakti massal perbaikan jalan Lirung–Moronge–Salibabu (Foto: ist)

Sebelum pekerjaan dimulai, seluruh peserta akan berkumpul di kediaman Ketua Umum Sinode GERMITA di Aho, Desa Moronge, untuk mengikuti doa bersama.

Momentum Konven Pendeta Jadi Pemicu Aksi Sosial

Selain faktor kerusakan infrastruktur, kerja bakti ini juga didorong oleh persiapan pelaksanaan Konven Pendeta, Vikaris, dan Keluarga yang akan digelar di Jemaat Petra Moronge, Wilayah 16 Moronge. BPMS GERMITA melibatkan para pendeta wilayah, BPMJ, serta KP-PKB dari berbagai jemaat untuk mendukung kelancaran kegiatan tersebut.

Simbol Persatuan di Wilayah Perbatasan

Pdt. Abbas menyatakan bahwa aksi ini bukan sekadar perbaikan fisik jalan, melainkan cerminan dari semangat kebersamaan antara institusi gereja, pemerintah daerah, dan masyarakat sipil di wilayah terdepan NKRI.

"Ketika pemerintah, gereja, dan masyarakat berjalan seiring, pembangunan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, melainkan menjadi gerakan bersama untuk kemajuan daerah," tegasnya.

Ia menambahkan Kabupaten Kepulauan Talaud sebagai daerah perbatasan yang berada di beranda NKRI merupakan wajah Indonesia di mata negara tetangga. Karena itu, pemerintah pusat, khususnya Presiden, perlu memberikan perhatian dan prioritas utama agar daerah ini dapat maju dan berkembang. 

"Pembangunan infrastruktur jalan yang memadai, serta peningkatan pelayanan kesehatan, pendidikan, listrik, dan sektor-sektor dasar lainnya harus menjadi fokus utama demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat perbatasan dan memperkuat kehadiran negara di wilayah terdepan Indonesia," jelas Abbas.

GERMITA berharap semangat gotong royong ini terus terpelihara dan menjadi model kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi ketertinggalan infrastruktur di daerah kepulauan perbatasan. (Ezra)