IHSG Masih Tertekan di Sesi Kedua, BBCA Ambles 3,38%
Monitor yang memperlihatkan harga IHSG pada perdagangan sesi pertama (Foto: ist)
Koreksi berlanjut di sesi kedua. IHSG terperosok ke 5.711 dipicu aksi jual asing yang tak kunjung reda, tekanan sentimen MSCI, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Sulut24.com, EKONOMI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan dalam di tengah perdagangan sesi kedua, Selasa (30/6/2026). Berdasarkan data pantauan real-time, IHSG terpuruk 109,69 poin atau 1,88 persen ke level 5.711,10 melanjutkan tren koreksi tajam yang sudah berlangsung sejak pembukaan pagi hari.
Indeks sempat menyentuh titik terendah intraday di level 5.638,57 sebelum sedikit rebound menjelang akhir sesi. Adapun posisi tertinggi hari ini tercatat di 5.811,67 saat pembukaan pagi, sementara harga pembukaan berada di 5.801,45. Nilai transaksi seluruh pasar mencapai Rp8,79 triliun dengan volume 143,28 juta lot dan frekuensi 1,08 juta kali transaksi.
Tekanan jual merata menghantam hampir seluruh sektor. Dari pantauan daftar watchlist, saham-saham berkapitalisasi besar kompak melemah signifikan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi salah satu pemberat terbesar indeks dengan penurunan 200 poin atau 3,38 persen ke posisi 5.725.
PT Astra International Tbk (ASII) terkoreksi 140 poin (2,97 persen) ke level 4.570. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) anjlok 80 poin atau 2,94 persen ke 2.640, diikuti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang melemah 70 poin (2,12 persen) ke 3.230. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 40 poin (1,23 persen) ke 3.220, sedangkan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) tergerus 15 poin (1,06 persen) ke 1.405.
Di sisi lain, terdapat segelintir saham yang berhasil menguat. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) naik 35 poin (2,56 persen) ke level 1.400, PT Bank Jago Tbk (ARTO) menguat 15 poin (1,66 persen) ke 920, serta PT Adaro Resources Indonesia Tbk (ADRO) melemah lebih terbatas yakni 20 poin (0,88 persen) ke 2.260.
Koreksi IHSG hari ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, mencakup evaluasi MSCI, isu Danantara, dan aksi jual investor asing yang masih berlanjut.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market memicu aksi jual besar pada saham-saham berkapitalisasi tinggi seperti BBCA, BBRI, dan BMRI.
Pelemahan IHSG diperparah oleh tekanan nilai tukar rupiah serta sentimen eksternal, termasuk kebijakan moneter Amerika Serikat dan ekspektasi suku bunga tinggi The Fed.
Pada penutupan sesi pertama, seluruh sektor saham bergerak melemah. Sektor bahan baku memimpin penurunan dengan koreksi 4,30 persen, diikuti sektor energi yang turun 3,31 persen, sektor infrastruktur melemah 2,44 persen, dan sektor siklikal tergerus 2,23 persen.
Dari sisi nilai tukar, rupiah pada perdagangan sebelumnya sempat menguat 0,36 persen ke level Rp17.840 per dolar AS, namun analis memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih akan range bound dengan kecenderungan melemah terbatas, di tengah sikap investor yang wait and see menantikan serangkaian data ekonomi penting dari domestik maupun Amerika Serikat.
IHSG pada perdagangan Senin (29/6/2026) ditutup melemah 1,28 persen atau 75,34 poin ke posisi 5.820,79. Penurunan indeks hari itu terutama didorong oleh koreksi sejumlah saham perbankan kakap, dengan BBCA turun 2,4 persen dan Bank Mandiri terkoreksi 1,0 persen.
Sejak MSCI mengumumkan pembekuan sementara sejumlah perubahan indeks saham Indonesia pada akhir Januari lalu, tekanan jual asing terus berlanjut dan IHSG bergerak dalam tren penurunan, dengan indeks kehilangan lebih dari 42 persen dari posisi puncaknya pada awal tahun.
Sejumlah analis menyarankan investor ritel untuk tetap tenang dan tidak melakukan panic selling. Koreksi yang dipicu sentimen makro atau rebalancing indeks global seringkali bersifat jangka pendek hingga menengah, sehingga kondisi ini dapat dijadikan momentum untuk mengevaluasi ulang portofolio masing-masing.
Pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September masih terbuka, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Evaluasi MSCI berikutnya dijadwalkan berlangsung pada November 2026, yang akan menjadi penentu arah pasar modal Indonesia dalam jangka menengah.
Perdagangan sesi kedua masih berlangsung. Investor memantau apakah IHSG mampu mempertahankan level psikologis 5.700 hingga penutupan sore ini. (fn)


