Mengabdi di Tapal Batas, Lima Akademisi Perempuan Unima Perkuat Pendidikan di Kepulauan Talaud - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Mengabdi di Tapal Batas, Lima Akademisi Perempuan Unima Perkuat Pendidikan di Kepulauan Talaud

Foto bersama di SD Negeri Inpres Kabaruan (Foto: ist)

Tim Pengabdian Masyarakat Unima melalui Program BIMA Kemdiktisaintek memberikan pendampingan manajemen sekolah partisipatif di SD Negeri Inpres Kabaruan, Kabupaten Kepulauan Talaud, guna meningkatkan kualitas pendidikan di wilayah pesisir dan perbatasan Indonesia.

Sulut24.com, TALAUD - Semangat pengabdian membawa lima akademisi perempuan dari Universitas Negeri Manado (Unima) menempuh perjalanan menuju wilayah perbatasan Indonesia. 

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) Kemdiktisaintek, mereka hadir di Desa Kabaruan, Kabupaten Kepulauan Talaud, untuk berbagi pengetahuan sekaligus memperkuat kualitas layanan pendidikan di daerah pesisir.

Kehadiran para akademisi Unima di SD Negeri Inpres Kabaruan mendapat sambutan hangat dari guru, siswa, dan masyarakat setempat. 

Bagi warga, kedatangan tim pengabdian bukan hanya sebuah kegiatan akademik, tetapi juga bentuk kepedulian nyata dari perguruan tinggi terhadap pendidikan di wilayah terluar.

Ketua tim pengabdian, Dr. Zoya Febrina Sumampow, S.Pd., M.Pd, menjelaskan bahwa kegiatan yang berlangsung pada Rabu (10/6/2026) tersebut berfokus pada penguatan manajemen sekolah partisipatif.

“Kegiatan ini merupakan pengabdian kepada masyarakat dengan metode turun langsung ke lapangan, khususnya di wilayah perbatasan. Tujuannya meningkatkan kualitas layanan pendidikan melalui penguatan manajemen sekolah yang melibatkan guru dan orang tua,” ujar Dr. Zoya.

Menurutnya, pendidikan di wilayah pesisir dan perbatasan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Sekolah tidak dapat berjalan sendiri, tetapi perlu dukungan aktif dari orang tua dan masyarakat agar tercipta ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.

Sementara itu, salah satu anggota tim, Ismiati Essing, S.IP., M.AP, mengatakan program ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antara sekolah dan keluarga.

“Kami berharap kegiatan ini dapat memperkuat kemitraan sekolah dan orang tua, sehingga peningkatan layanan pendidikan di wilayah pesisir dapat terus berlanjut,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, para akademisi tidak hanya memberikan pendampingan kepada pihak sekolah, tetapi juga membangun komunikasi langsung dengan masyarakat untuk memahami tantangan pendidikan yang dihadapi di daerah perbatasan.

Tim pengabdian yang dipimpin oleh Dr. Zoya Febrina Sumampow terdiri dari lima akademisi perempuan Unima, yakni Yesita Windi Wuisan, S.E., M.M, Herke F. V. Memah, S.E., M.AP, Stevani Rangian, M.Pd, dan Ismiati Essing, S.IP., M.AP.

Perjalanan menuju Kabaruan menjadi gambaran bahwa pengabdian perguruan tinggi bukan hanya tentang transfer ilmu, tetapi juga tentang menghadirkan kehadiran, mendengar kebutuhan masyarakat, dan membangun harapan pendidikan dari daerah terdepan Indonesia. (Ezra)