Tiga Gol Dianulir Wasit, Bonawang FC Protes Keras dan Akan Bawa Kasus ke PSSI Sulut
Manajemen Bonawang FC Minta Askot Kotamobagu Tinjau Ulang Rekaman Pertandingan Matali Cup.
Sulut24.com, BOLAANG MONGONDOW RAYA - Kontroversi besar mewarnai Turnamen Sepak Bola Matali Cup di Bolaang Mongondow Raya. Bonawang FC melayangkan protes keras setelah tiga gol sah timnya dianulir wasit dalam satu pertandingan babak 8 besar di Lapangan Matali, Stadion Nunuk, Minggu, 14 Januari 2026.
Manajemen Bonawang FC menyatakan ketiga gol tersebut dianulir wasit dengan alasan offside. Namun, rekaman video dari berbagai sudut yang diambil pendukung di tribun dan sekeliling lapangan menunjukkan posisi pemain tidak berada dalam posisi offside.
"Kami sangat kecewa dengan kepemimpinan wasit sore itu. Tiga gol jelas sah, namun semuanya dibatalkan. Ini bukan hanya merugikan tim dan manajemen, tapi juga merusak masa depan sepak bola BMR," kata Manajer Bonawang FC, Rizaldi Pasi, dalam konferensi pers di sekretariat klub, Senin (15/6/2026).
Akibat keputusan kontroversial itu, Bonawang FC harus menerima kekalahan dengan skor 2-1 dan gagal melaju ke babak semifinal. Suporter yang hadir pun sempat memadati pinggir lapangan menuntut penjelasan dari panitia pelaksana.
Insiden ini semakin menjadi sorotan mengingat Bonawang FC tampil dengan kekuatan penuh. Bonawang FC juga mendatangkan sejumlah pemain berkelas, di antaranya mantan kiper Timnas Indonesia Rifky Mokofompit, gelandang Persib Bandung Arsan Makarim, kapten Persipal Palu Daud Kotulus, serta pemain-pemain dari Ternate dan Gorontalo.
Keberadaan nama-nama besar tersebut menjadikan kekalahan Bonawang FC akibat keputusan wasit semakin sulit diterima pihak manajemen dan pendukung tim.
Bonawang FC kini berencana mengajukan keberatan resmi ke PSSI Sulut sekaligus menuntut Panitia Pelaksana Matali Cup dan Asosiasi Kota (Askot) Kotamobagu untuk segera meninjau ulang rekaman pertandingan dan mengevaluasi kinerja perangkat wasit yang disebut telah berulang kali memicu kontroversi.
"Kami datang untuk bertanding secara fair. Kami minta keadilan ditegakkan agar Matali Cup tetap menjadi ajang yang menjunjung tinggi nilai sportivitas dan memupuk masa depan sepak bola BMR," tegas Rizaldi. (fn)

