Bukan Tanpa Alasan, Ini Sebab S3 Pendidikan UNG Dilirik Awardee LPDP - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Bukan Tanpa Alasan, Ini Sebab S3 Pendidikan UNG Dilirik Awardee LPDP

Thofan Rame (Foto: ist)

Sulut24.com - Alasan yang rasional dan mendalam sebagai Awardee LPDP PK-273. Thofan Rame putra daerah perbatasan Kabupaten Kepulauan Talaud yang bekerja sebagai dosen PNS aktif di Institut Agama Kristen Negeri Manado, melirik dan memilih S3 Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo sebagai tempat studi doktoralnya, dibandingkan dengan ribuan kampus besar dan ternama lainnya yang ada di dalam dan di luar negeri, untuk membangun dan mengembangkan SDM dari kawasan Timur Utara NKRI.

Menurutnya pendidikan yang berkualitas dan berdampak bukan diukur dari seberapa jauh kita terbang meninggalkan rumah, melainkan seberapa dalam kita berakar untuk menumbuhkan dan memajukan tanah kelahiran. 

Bagi seorang anak buruh tani di Kabupaten Kepulauan Talaud yang merupakan wilayah perbatasan Filipina, baginya gelar bukan hanya sekadar hiasan di belakang nama melainkan sebuah tanggung jawab. Ketika ribuan orang mereka berkompetisi menjadi Awardee LPDP untuk mengejar kampus-kampus besar di pulau Jawa atau di luar negeri demi reputasi, namun Thofan Rame mengambil keputusan dan pilihan yang berbeda.

Dia lebih memilih untuk tetap melanjutkan studi doktoralnya pada S3 Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo. Hal ini bukan karena keterbatasan pilihan, melainkan sebuah pilihan kesadaran (conscious choice). 

Dimana dengan semangat beasiswa LPDP dan panggilan jiwa seorang putra perbatasan untuk belajar di tanahnya sendiri, untuk mengabdi dan menerangi bumi tempat dia dilahirkan. Dengan alasannya yang jauh lebih esensial mengapa dia lebih memilih studi di S3 Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo dibandingkan dengan kampus lainnya karena:

1. Relevansi konteks, dimana dirinya ingin lebih memahami jiwa pendidikan kawasan Timur
menurutnya pendidikan di wilayah perbatasan dan Indonesia Timur tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori-teori dari ruang kelas di megapolitan atau negeri barat. 

Universitas Negeri Gorontalo memiliki akar epistemologi yang sangat kuat dalam memahami karakteristik, dinamika sosial, dan tantangan pendidikan di kawasan Timur Indonesia. Sehingga melanjutkan studi doktoral di S3 Pendidikan UNG memberikan ruang bagi dirinya untuk meneliti dan merumuskan formulasi pendidikan yang contextual, grounded, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat akar rumput di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

2. Panggilan Pengabdian dan Pilihan "Berdampak Langsung"

Thofan Rame  tahu bahwa Beasiswa LPDP dibiayai oleh uang rakyat, dan ruh utamanya adalah kembali serta berdampak bagi rakyat. Sebagai dosen di Institut Agama Kristen Negeri Manado Sulawesi, dia ingin mencetuskan kepakaran atau studi doktornya di tanah Gorontalo. Hal ini dilakukan dengan maksud untuk  menciptakan Network Effect (jejaring akademik) yang lebih dekat dan nyata bagi pembangunan kawasan khususnya di kawasan Timur Indonesia. 

Pilihan tempat studi tersebut dia katakan sebagai bentuk pembuktian bahwa kualitas akademik berkelas doktor tidak selalu harus diimpor dari jauh, tetapi bisa dan harus ditumbuhkan dari tempat di mana dirinya hidup dan berakar.

3. Keteladanan untuk Anak-Anak Perbatasan

Sebagai anak dari pesisir Talaud yang tumbuh dari cahaya lentera, dirinya ingin mengirimkan pesan yang jernih kepada anak-anak di pulau-pulau terpencil, yaitu "Kalian tidak harus melarikan diri jauh-jauh untuk menjadi hebat. Di Pulau Sulawesi, di kawasan tempat kita berpijak, ada Institusi hebat seperti Universitas Negeri Gorontalo yang siap menempa kalian menjadi ilmuwan dan pemimpin masa depan."

4. Ekosistem Akademiknya yang Membumi dan Kolaboratif

Menurutnya Universitas Negeri Gorontalo bukan sekadar menara gading, tetapi UNG adalah rumah bagi penelitian-penelitian berbasis kearifan lokal (Local Wisdom) yang berdampak langsung pada kebijakan pendidikan daerah. Menempuh S3 Pendidikan di UNG memberi kesempatan untuk berdiskusi dengan para pakar yang tidak hanya paham teori, tetapi juga mengerti denyut nadi permasalahan guru, sekolah, dan murid di wilayah kepulauan dan perbatasan khususnya di kawasan Indonesia Timur.

Dari segi kualitas mutu pendidikan sudah Terakreditasi UNGGUL baik prodi dan institusinya. Prodi S3 Pendidikan Terakreditasi Unggul oleh LAMDIK dengan Keputusan No: 342/SK/LAMDIK/Ak/D/III/2024 dan Institusi Terakreditasi Unggul oleh BAN-PT dengan Keputusan No: 200/SK/BAN-PT/Ak.Ppj/PT/III/2023. 

Dilihat dari visinya S3 Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo “Mengembangkan Pendidikan, Pembelajaran dan Penelitian Multidisiplin Melalui Inovasi Dalam Rangka Menghasilkan Sumberdaya Manusia Unggul, Berdaya Saing Berbasis Ipteks dan Budaya Dalam Konteks Kawasan”, memiliki keunggulan tersendiri dibadingkan dengan Prodi S3 Pendidikan lainnya. 

Keunggulan tersebut diantaranya adalah S3 Pendidikan UNG melaksanakan pengembangan keilmuan dengan pendekatan multidisiplin (multidisciplinary integration). Sementara kebanyakan prodi S3 pendidikan lainnya masih berkutat pada cakupan keilmuan tunggal (monodiscipline) atau interdisiplin yang terbatas pada cabang-cabang ilmu pendidikan saja. 

Permasalahan pendidikan abad ke-21 (seperti digitalisasi, krisis moral, ketimpangan sosial, hingga isu lingkungan) tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori pedagogi murni saja, melainkan butuh keilmuan lain yang menopangnya. 

S3 Pendidikan di Universitas Negeri Gorontalo mengembangkan harmonisasi sintesis: IPTEKS dan budaya. Hal ini menegaskan bahwa kemajuan IPTEKS tidak boleh mencabut pendidik dan peneliti dari akar budayanya. Sehingga  akan melahirkan karya ilmiah dan inovasi pembelajaran berbasis local wisdom (kearifan lokal) yang dikemas secara modern melalui IPTEKS. Agar supaya transformasi pendidikan tetap adaptif terhadap nilai-nilai sosial masyarakat di tempat pendidikan itu berada.

S3 Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo menekankan pembelajaran yang Kontekstual pada “Kawasan" (Glocal Perspective). Dengan fokusnya menjawab tantangan spesifik kawasan (misalnya kawasan kepulauan, kawasan timur, atau kawasan tertentu dengan keanekaragaman sosial-budaya). Sehingga penelitian doktor yang dihasilkan tidak hanya menjadi "debu di perpustakaan", tetapi langsung menjawab persoalan riil masyarakat di kawasan tersebut sebelum meluas ke tingkat nasional ataupun global.

Pembelajaran di S3 Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo, berorientasi pada hasil inovasi dan bukan hanya sekadar eksplorasi teori. Melalui inovasi dituntut lulusan doktoral untuk tidak sekadar memotret masalah atau menguji teori lama, melainkan melahirkan produk, strategi, atau kebaruan (novelty) yang dapat diterapkan secara praktis di dunia pendidikan.

Dan luaran lulusan yang disasar tidak hanya sekadar meluluskan "doktor bergelar", tetapi doktor yang siap bersaing dalam iklim kepemimpinan akademik dan profesional. Sehingga para lulusan dibekali mindset peneliti multidisiplin, ahli inovasi pembelajaran, sekaligus agen perubahan yang peka terhadap dinamika budaya kawasan pada umumnya dan kawasan Timur Indonesia pada khususnya.

S3 Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo memiliki SDM unggul dan profesional dalam memberikan layanan akademik yang prima kepada semua mahasiswa. Tenaga Dosen yang mengajar atau mengampu mata kuliah semuanya beregelar Doktor dengan Jabatan Fungsional Lektor Kepala dan Guru Besar (Profesor) yang ahli dan pakar pada bidang ilmu pengembangan pendidikan. 

Sedangkan tenaga kepedikannya bergelar Sarjana dan Magister yang berpengalaman dan Profesional dalam pelayanan administrasi akademik, sehingga memberikan layanan akademik yang cepat untuk membantu dan tanggap terhadap kebutuhan adminitrasi akademik yang dibutuhkan oleh semua mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo.

Universitas Negeri Gorontalo merupakan kampus yang moderat, karena sebagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di bawah naungan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), UNG memegang teguh prinsip kebangsaan, inklusivitas, dan keberagaman. Sebagai kampus negeri umum dan bukan kampus berbasis keagamaan tertentu. 

Sehingga UNG terbuka bagi seluruh warga negara Indonesia tanpa memandang suku, ras, maupun agama. Seluruh civitas akademika baik dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa berasal dari latar belakang yang sangat beragam, sehingga menciptakan lingkungan kampus yang plural dan inklusif. 

Dengan memiliki visi menekankan pengembangan inovasi berbasis potensi regional serta penguatan identitas nasional. Kampus UNG mendorong terbentuknya karakter mahasiswa yang adaptif, cerdas, dan berjiwa sosial tinggi tanpa membatasi diri pada paham atau ideologi eksklusif. Dan kampus UNG aktif menjalin kolaborasi antar lembaga di daerah dalam menjaga stabilitas sosial dan menangkal paham-paham radikalisme atau ekstremisme di lingkungan civitas akademika. (*)