Dari Utara NKRI ke Istana Negara, Godfried Timpua Teguhkan Baniang sebagai Simbol Jati Diri Talaud
Godfried Timpua (Foto: ist)
Godfried Timpua kenakan Baniang di Istana Negara sebagai bentuk kebanggaan terhadap budaya dan jati diri masyarakat Talaud.
Sulut24.com, TALAUD - Busana adat Baniang kembali menjadi simbol kebanggaan masyarakat Kepulauan Talaud ketika dikenakan Godfried Timpua dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026.
Mantan Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Talaud sekaligus mantan Ketua DPD II PAN Talaud itu memilih tetap mengenakan Baniang di tengah beragam busana adat Nusantara yang hadir dalam momentum peringatan kemerdekaan di Istana Negara.
Bagi Timpua, pilihan tersebut bukan sekadar persoalan pakaian. Baniang dimaknainya sebagai representasi akar budaya, sejarah, leluhur, sekaligus identitas masyarakat Talaud yang berada di wilayah perbatasan utara Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Timpua, identitas budaya tidak seharusnya ditanggalkan hanya demi mengikuti sesuatu yang dianggap lebih menarik atau lebih megah.
“Kita tidak harus menjadi sesuatu yang bukan diri kita hanya agar terlihat indah di mata orang lain,” ujar Timpua.
Ia menilai keberagaman busana adat di Indonesia justru menunjukkan kekayaan identitas bangsa. Perbedaan warna, bentuk dan corak pakaian adat, kata dia, merupakan bagian dari cerita panjang mengenai akar, karakter dan sejarah masing-masing masyarakat.
Karena itu, Timpua mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menganggap budaya sendiri lebih rendah hanya karena tampilannya terlihat sederhana dibandingkan warisan budaya daerah lain.
“Bagus belum tentu cocok. Sesuatu yang terlihat megah pada orang lain belum tentu sesuai dengan jiwa dan jati diri kita,” lanjutnya.
Bagi Timpua, nilai sebuah identitas tidak dapat diukur dari kemewahan tampilan. Yang jauh lebih penting adalah keaslian dan makna yang melekat pada warisan budaya tersebut.
“Asli lebih bernilai daripada kamuflase,” kata Godfried.
Timpua menegaskan bahwa kebanggaan terhadap budaya sendiri bukan berarti menempatkan budaya daerah lain lebih rendah. Sebaliknya, penghormatan terhadap identitas sendiri menjadi bagian dari sikap untuk menghargai keberagaman Indonesia.
Ia mendorong masyarakat, khususnya generasi muda Talaud, untuk terus merawat berbagai warisan budaya daerah, mulai dari pakaian adat, bahasa, nilai-nilai tradisi hingga warisan leluhur.
Menurutnya, budaya tidak cukup hanya dikenang sebagai peninggalan masa lalu. Budaya harus tetap digunakan, diperkenalkan dan diwariskan agar tidak kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.
“Ketika kita mengenakan identitas sendiri dengan penuh kebanggaan, kita tidak sekadar mengenakan sebuah pakaian kita sedang mengenakan sejarah. Dan sejarah tidak membutuhkan kamuflase,” kata Timpua.
Ia berpandangan, sesuatu yang asli memang tidak selalu tampil paling mewah. Namun, identitas yang memiliki akar kuat akan membuat seseorang maupun sebuah komunitas tidak mudah kehilangan arah ketika berhadapan dengan perubahan zaman.
“Bangga dengan milik sendiri bukan berarti merendahkan milik orang lain. Justru karena kita menghargai jati diri sendiri, kita belajar menghormati jati diri orang lain,” tandasnya.
Pilihan Godfried Timpua mengenakan Baniang dalam momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Negara akhirnya tidak hanya menjadi pernyataan personal tentang busana adat.
Lebih dari itu, Baniang menjadi medium untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga identitas budaya masyarakat Talaud daerah yang berada di beranda paling utara NKRI agar tetap dikenal, dihormati dan diwariskan di tengah keberagaman budaya Indonesia. (Ezra)

