Gempa M7,4 Guncang Kolombia, 132 Orang Tewas dan Ratusan Bangunan Hancur - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Gempa M7,4 Guncang Kolombia, 132 Orang Tewas dan Ratusan Bangunan Hancur

Suasana gedung yang hancur akibat gempa (Foto: ist)

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin, 10 Agustus 2026, menewaskan sedikitnya 132 orang dan melukai 570 lainnya. Bencana ini tercatat sebagai gempa terkuat yang melanda negara tersebut sepanjang abad ke-21.

Sulut24.com, INTERNASIONAL - Berdasarkan data yang dihimpun, hingga Senin malam waktu setempat, jumlah korban jiwa terus bertambah seiring berlangsungnya proses evakuasi. Wali Kota Cali turut mengonfirmasi bahwa sedikitnya 188 orang dilaporkan hilang pascagempa, sementara ribuan warga lainnya kehilangan tempat tinggal akibat kerusakan masif pada bangunan.

Gempa mengguncang pada pukul 07.34 waktu setempat, dengan pusat gempa berada di darat, sekitar 5 kilometer di sebelah timur San Jose del Palmar, Departemen Choco. Badan Geologi Kolombia (Servicio Geologico Colombiano/SGC) menyebutkan kedalaman hiposenter berkisar antara 96 hingga 120,5 kilometer.

Sejumlah lembaga pemantau seismik global mencatat parameter yang sedikit berbeda. Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat magnitudo 7,4 pada kedalaman 107 kilometer, sementara European-Mediterranean Seismological Centre (EMSC) mencatat magnitudo 7,1, seperti dilaporkan Suara.com mengutip Reuters. Di Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memutakhirkan data gempa tersebut menjadi magnitudo 7,4 pada kedalaman 95 kilometer.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan episenter gempa berada pada koordinat 4,93 derajat Lintang Utara dan 76,06 derajat Bujur Barat, tepatnya di darat sekitar 3 kilometer barat laut El Aguila, Kolombia. Ia menyebut gempa tersebut sebagai gempa menengah yang dipicu deformasi dalam Lempeng Nazca yang menunjam ke bawah Lempeng Amerika Selatan, atau dikenal sebagai gempa intra-slab.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah akibat deformasi dalam lempeng samudra yang menunjam,” kata Wijayanto dalam keterangan resminya, Senin (10/8/2026), seperti dikutip CNN Indonesia.

Wijayanto menambahkan, hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki pergerakan geser naik atau oblique thrust fault. BMKG juga memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami di wilayah Indonesia, mengingat jarak yang sangat jauh dari lokasi kejadian.

Getaran gempa dirasakan hingga ke luar wilayah Kolombia, termasuk Venezuela, Ekuador, dan Panama. Menurut Suara.com, kondisi tersebut dipicu karakteristik gempa intraslab dalam yang gelombang seismiknya mampu merambat jauh dengan kehilangan energi relatif lebih kecil dibandingkan gempa dangkal.

Kerusakan Meluas di Cali dan Pereira

Kota Cali menjadi salah satu wilayah dengan dampak terparah. Media Liputan6.com melaporkan sedikitnya 380 bangunan di kota tersebut mengalami kerusakan, dengan warga dan tim penyelamat masih terus mencari korban yang tertimbun reruntuhan hingga Senin malam.

“Seluruh rumah saya berguncang. Saya belum pernah mengalami gempa sekuat ini,” kata Jorge Moncayo, sopir taksi berusia 64 tahun di Cali, seperti dikutip Associated Press.

Sementara itu, upaya penyelamatan dramatis juga berlangsung di Kota Pereira. Kantor Wali Kota Pereira menginformasikan bahwa 16 orang berhasil dievakuasi dari sebuah sistem kereta gantung setelah sempat terjebak selama enam jam, sebagaimana dilaporkan Kompas.com.

Di Departemen Choco, wilayah yang paling dekat dengan pusat gempa, informasi mengenai tingkat kerusakan masih minim lantaran sinyal telepon terputus di banyak bagian Quibdo, ibu kota Choco. Liputan6.com melaporkan puluhan orang terluka di wilayah tersebut, sementara San Jose del Palmar, kota terdekat dengan episenter, tidak memiliki akses bandara sehingga menyulitkan proses evakuasi dan distribusi bantuan.

Survei Geologi Kolombia mencatat sedikitnya 21 gempa susulan hingga Senin malam dan memperingatkan kemungkinan terjadinya gempa susulan lanjutan, menurut laporan Kontan.co.id.

Tantangan Pertama Presiden Baru

Bencana ini menjadi ujian besar pertama bagi Presiden Kolombia Abelardo de la Espriella, yang baru dilantik pada akhir pekan sebelum gempa terjadi. Dalam pidato nasional, De la Espriella menyatakan pemerintah mengerahkan seluruh kemampuan untuk menangani dampak bencana.

“Pemerintah nasional mengerahkan seluruh kemampuan untuk melindungi nyawa, membantu masyarakat terdampak, dan menyalurkan bantuan ke mana pun dibutuhkan,” kata De la Espriella, sebagaimana dikutip Kontan.co.id.

Pemerintah Kolombia telah mengumumkan status keadaan darurat untuk menangani dampak gempa di sejumlah kota, termasuk di wilayah penghasil kopi dan kawasan pesisir Pasifik. Dukungan internasional turut mengalir, dengan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan komitmen bantuan senilai 15,5 juta dolar AS untuk Kolombia, yang akan dialokasikan bagi penyediaan tempat berlindung, makanan, dan penilaian dampak bencana, seperti dilaporkan Kompas.com.

Otoritas Kolombia maupun Sistem Peringatan Tsunami Amerika Serikat memastikan tidak ada ancaman tsunami baik di wilayah Pasifik Kolombia maupun di pesisir barat Amerika Serikat dan Kanada, menurut laporan Okezone.

Rawan Gempa di Cincin Api Pasifik

Kolombia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire), salah satu zona paling aktif secara seismik di dunia, dengan ribuan gempa bumi berkekuatan kecil tercatat setiap bulannya. Namun gempa berkekuatan di atas magnitudo 6,0 tergolong jarang terjadi.

Seismolog dari Northwestern University, Suzan van der Lee, mengatakan kedalaman gempa, lokasinya yang berada di daratan, serta pergerakan patahan geser kemungkinan memperbesar dampak guncangan di sejumlah lembah yang padat penduduk.

“Gempa ini terjadi jauh di bawah kerak bumi dan secara teori seharusnya tidak menyebabkan guncangan sebesar itu. Namun, dengan magnitudo sebesar ini, guncangannya ternyata sangat kuat,” kata Van der Lee, seperti dikutip Kontan.co.id.

Kolombia memiliki sejarah panjang bencana gempa besar. Pada 1875, gempa Cucuta dilaporkan menewaskan sekitar 10 ribu orang di dekat perbatasan Venezuela. Pada 1906, gempa magnitudo 8,8 terjadi di lepas pantai perbatasan Ekuador-Kolombia dan memicu tsunami besar yang menewaskan hingga 1.500 orang. Sementara pada 1999, gempa magnitudo 6,2 mengguncang kawasan Eje Cafetero di sekitar Kota Armenia dan menewaskan lebih dari 1.100 orang.

Hingga berita ini diturunkan, proses pencarian dan evakuasi korban masih berlangsung di sejumlah lokasi terdampak, sementara otoritas setempat terus memutakhirkan data korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. (fn)