Menakar Potensi Ketokohan Nusa Utara di Panggung Nasional
Jerry F. G. Bambuta (Foto: ist)
Opini Oleh: Jerry F. G. Bambuta
Forum Literasi Masyarakat
Sulut24.com, OPINI - Paguyuban Nusa Utara dari tahun ke tahun, dari rezim ke rezim, nasibnya seringkali seperti mobil yang paling sering di gaspol menjelang pilkada. Dan, usai pilkada, jika kandidat yang di dukung kalah secara politik, maka paguyuban pendukung akan parkir di garasi dan menunggu lima tahun selanjutnya untuk di panaskan mesinnya.
Kalau kita mau berani jujur, kita belum bisa mematok program strategis yang investasinya bermuara pada regenerasi masa depan secara visioner dan konssisten. Banyak kali kita baru sebatas program seremonial atau temporer sebagai bentuk simbol eksistensi Nusa Utara secara lokal.
Nah, dalam kurun waktu 6 bulan belakangan, mulai ada niat inisiasi agar Nusa Utara bisa memiliki panggung nasional. Hal ini di anggap positif sebagai bagian dari aktulisasi etnis dalam ruang pluralitas nasional, agar supaya ada peran partisipatif yang bisa di sumbangkan untuk membangun lokalitas Nusa Utara atau Indonesia secara nasional.
Yang menjadi pertanyaan kritisnya adalah, apakah kita sudah mampu melenggang ke panggung nasional?
Sebelum menjawab itu, kita harus berani jujur mengakui, ada beberapa realitas klasik dari paguyuban Nusa Utara selama ini. Dari sekian banyak pembelajaran dan pengalaman, saya mencoba mencermati aspek kritis dari berbagai paguyuban melalui identitas atau entitas berbasis Nusa Utara, yaitu:
1. Tabiat inisiasi kerap muncul hanya karena di "drive" oleh kerangka konsolidasi politik praktis jangka pendek, akibatnya hanya akan berakhir di garasi karena masa pakai sebagai "tunggangan" berakhir saat rezim atau sosok yang di dukung purna bakti.
2. Karena inisiasi awal adalah konstruksi konsolidasi politik praktis jangka pendek, maka asas kemanfaatan individual akan menjadi benang merah simbiosis politik. Akibatnya, meski mengusung satu identitas dan entitas yang sama malah sulit sekali melebur dalam satu payung solidaritas. Terjadinya perebutan kepentingan pragmatis antar individu dan kelompok.
3. Karena hanya menjadi "tunggangan" jangka pendek, pada akhirnya selalu gagal menjawab dampak kemandirian kolektif jangka panjang. Gagal menciptakan konstruksi eksistensi dengan akar yang kokoh.
4. Para penggagas masa lalu yang sudah berkorban keringat, air mata dan darah dan akhirnya hanya melahirkan generasi "malin kundang".
5. Pada kasus lainnya, justru kebalikan dari point (4), para penggagas malah menjadi makin feodalis, ketika arus modernisasi memupuk inovasi para generasi baru. Akibatnya, generasi pendahulu malah meng-aborsi potensi generasi masa kini. Hanya karena merasa terancam dengan bangkitnya generasi baru dengab segala keunikan sesuai zaman mereka.
6. Dan tak kalah miris, konsolidasi berlabel isu kolektifitas dgn slogan2 kearifan lokal, malah pada akhirnya hanya merobek tali temali kolektifitas karena terjebak dalam segregasi politik yang tajam. Karena gagal membedakan antara esensi eksistensi "paguyuban" dan "patembayan". Akibatnya, kemasan paguyuban tapi kontennya patembayan
Pertanyaan menggelitiknya adalah, jika di ruang lokal saja sulit menciptakan soliditas kolektif, bagaimana bisa membidik arena tarung skala nasional yang lebih kompleks?
Nusa Utara bertabur tokoh-tokoh individu potensial, yang jika di tilik dari segi kapasitas, cukup mumpuni berada di panggung nasional. Akan tetapi, pada akhirnya, kita sering harus di paksa sadar diri bahwa:
1. Panggung nasional bukan cuma faktor "isi kepala", tapi juga di tentukan oleh faktor "jumlah kepala".
2. Faktor "jumlah kepala" terkait dengan basis lokal yang solid tapi memiliki pengaruh nasional. Nah, untuk membangun kekuatan ini tak bisa hanya bergantung pada popularitas figur tunggal. Kekuatan kolektif harus mengakar kuat bukan hanya dari segi narasi, tapi juga koagulasi sosial yang bisa merekatkan beragam perbedaan.
3. Jika gadang menggadang sosok sentral ke bursa nasional hanya sebatas simbol entitas, tapi tak memiliki keterbebanan yang nyata dalam membangun kekuatan dan regenerasi Nusa Utara, maka semua upaya konsolidasi dan polarisasi apapun sia-sia!
Sekelumit Pelajaran dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan
Mari kita belajar hal baik dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS). KKSS di dirikan pada tahun 1976 oleh 26 tokoh diaspora Sulawesi Selatan di Jakarta, salah satu tokoh dari 26 orang tersebut adalah Baharudin Lopa. Baharudin Lopa bukan hanya tokoh populer dari Sulawesi Selatan, nyali dan integritas ketokohanya di akui secara nasional.
Apakah Nusa Utara hari ini punya kualitas mental Sokoguru demikian?
KKSS telah berusia 50 tahun hari ini, mereka masih solid menjamur ke. seantero Indonesia dan luar negeri.
Bagaimana dengan Nusa Utara? Jangankan 50 tahun, belum setahun membangun paguyuban, kontradiksi visi memicu faksi baru. Dalam bahasa candaan, telur belum menetas, tapi sudah menghasilkan telur lagi yang lain.
Dan hari ini, ketua umum KKSS periode 2025 - 2030 adalah Amran Sulaiman yang menduduki posisi Menteri Pertanian. Amran adalah kombinasi praktis antara politisi, akademisi dan pengusaha. Kombinasi ini membuat dirinya bukan sosok retoris yang obral "kecap manis" lewat bualan politiknya, tapi setiap langkah kebijakannya selalu taktis!
Di tangan Amran Sulaiman, KKSS berubah menjadi paguyuban sosial Sulawesi Selatan yang independen dan mampu menciptakan "feedback effect" yang nyata bagi ihternal paguyuban, masyarakat lokal dan nasional. Berikut ini adalah gebrakan Amran Sulaiman melalui KKSS.
1. Amran mencanangkan sekolah unggulan KKSS dan secara pribadi memberikan Rp1 miliar sebagai kontribusi awal. Dana awal yang terkumpul kemudian mencapai sekitar Rp3,4 miliar, dengan target anggaran sekitar Rp4 miliar.
Konsepnya menggunakan model kepemilikan saham bagi anggota KKSS, bukan sekadar sumbangan. Menariknya, program ini kemudian bergerak cepat. Pada Maret 2026 dilaporkan bahwa pembangunan sekolah yang digagas Amran telah terealisasi dan bahkan target penyelesaiannya dipercepat hingga akhir 2025.
2. Membangun ekosistem pendidikan KKSS
Visinya tidak berhenti pada SMA unggulan. Amran mendorong pembangunan perguruan tinggi bersama Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan rencana fakultas kedokteran, pertanian, dan bisnis. Tujuannya adalah mencetak generasi KKSS yang memiliki kompetensi strategis.
3. Mengarahkan KKSS menjadi kekuatan pembangunan SDM
Amran secara eksplisit menempatkan pendidikan, ekonomi, dan budaya sebagai tiga bidang yang harus diperkuat KKSS. Dalam konteks ini, KKSS tidak hanya diposisikan sebagai organisasi paguyuban, tetapi sebagai jaringan masyarakat yang menghasilkan sumber daya manusia unggul.
4. Mengonsolidasikan diaspora Sulawesi Selatan
Ia menekankan prinsip solidaritas dan gotong royong antaranggota KKSS di berbagai daerah. Dalam Mukernas 2025, Amran menegaskan bahwa kekuatan KKSS terletak pada solidaritas dan kemampuan anggota untuk berkontribusi di wilayah masing-masing.
5. Menghubungkan KKSS dengan agenda ketahanan pangan nasional
Sebagai Menteri Pertanian sekaligus Ketua Umum KKSS, Amran mengajak anggota KKSS yang bergerak di bidang pertanian untuk ikut mendukung swasembada pangan. Namun, ia juga secara tegas menyatakan bahwa kegiatan KKSS tidak boleh mencampuradukkan organisasi dengan Kementerian Pertanian.
Amran membangun KKSS sebagai paguyuban dan mendorongnya menjadi kekuatan kolektif yang memiliki, jaringan sosial-ekonomi, menciptakan inisiasi investasi pendidikan & SDM, mendorong Penguatan ekonomi anggota dan mendorong Kontribusi pembangunan daerah Sulawesi Selatan dan nasional.
Kontribusi paling menonjol Amran sejauh ini adalah mengubah orientasi KKSS dari sekadar organisasi kekerabatan menuju organisasi yang lebih berorientasi pada pembangunan SDM, pendidikan, ekonomi, dan kontribusi nasional.
Ada satu hal yang juga penting secara etika kelembagaan, Amran menyatakan bahwa Kementerian Pertanian tidak akan dilibatkan dalam pekerjaan KKSS, untuk menjaga independensi dan menghindari tercampurnya jabatan publik dengan organisasi kemasyarakatan.
Akhir Kata
Nusa Utara belum terlambat untuk berbenah diri. Bangun konstruksi eksistensi dengan berakar pada penguatan gerakan kearifan lokal dan gerakan intelektual yang visioner, inklusif tapi paripurna. Catatan otokritik di atas setidaknya menjadi kontemplasi kita bersama.
Dengan legowo membenahi apa yang harus di benahi. Tak segan mengulurkan tangan merajut solidaritas dalam pluralitas. Sehingga, bukan hanya sebatas dekorasi kultural semata, bukan juga sebatas simbol eksistensi lokal yang menutup diri terhadap penguatan lokal dan peran nasional.
Tapi secara bersama-sama, membangun Nusa Utara untuk mengibarkan merah putih dari beranda perbatasan Pasifik. Menjadi benteng Indonesia yang kokoh secara ekonomi dan pertahanan/keamanan di garis depan perbatasan Pasifik.
Editor : fn
