Stok Minyak Tanah di Melonguane Habis dalam Tiga Hari, Warga Keluhkan Kelangkaan - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Stok Minyak Tanah di Melonguane Habis dalam Tiga Hari, Warga Keluhkan Kelangkaan

Suasana di salah satu pangkalan minyak tanah (Foto: ist)

Sulut24.com, TALAUD - Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis minyak tanah terjadi di wilayah Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Sejumlah pangkalan minyak tanah di Kecamatan Melonguane dan Melonguane Timur dilaporkan mengalami kekosongan stok sehingga masyarakat kesulitan memperoleh bahan bakar untuk kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan usaha.

Informasi yang dihimpun pada Kamis (10/9/2026) menyebutkan, pasokan minyak tanah tiba di SPBU Melonguane pada 6 September 2026 dengan volume sekitar 50 kiloliter (KL). Namun, dalam waktu sekitar tiga hari, stok tersebut telah tersalurkan ke sejumlah pangkalan dan dinyatakan habis pada 9 September 2026.

Penanggung Jawab SPBU Melonguane, Chayady Korayan, membenarkan bahwa pasokan minyak tanah yang diterima SPBU mencapai sekitar 50 KL untuk satu kali perjalanan kapal pengangkut BBM.

“Pasokan minyak tanah SPBU Melonguane dengan kuota satu kali trip kapal transportir sekitar 50 KL. Wilayah penyaluran meliputi sekitar 28 pangkalan di Kecamatan Melonguane dan Kecamatan Melonguane Timur,” ujar Chayady.

Menurutnya, pangkalan yang menerima pasokan memiliki kapasitas berbeda-beda sesuai dengan izin yang dimiliki. Sebagian pangkalan disebut menerima antara tiga hingga 10 drum minyak tanah.

Kondisi kekosongan stok tersebut dikeluhkan sejumlah masyarakat, terutama pelaku usaha yang masih bergantung pada minyak tanah untuk kegiatan sehari-hari.

Neri warga Melonguane yang menjalankan usaha rumah makan, mengaku telah mendatangi sejumlah pangkalan untuk mendapatkan minyak tanah. Namun, upayanya belum membuahkan hasil karena stok di sejumlah pangkalan telah kosong.

Keluhan serupa disampaikan Nely, pedagang makanan siap saji di Pasar Melonguane. Menurutnya, sulitnya memperoleh minyak tanah menyulitkan aktivitas memasak dan berpotensi mengganggu kelangsungan usahanya.

Kelangkaan ini dikhawatirkan berdampak terhadap aktivitas masyarakat, khususnya rumah makan, pedagang makanan, dan rumah tangga yang masih menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar utama.

Di sisi lain, muncul dugaan adanya persoalan dalam mekanisme

pendistribusian minyak tanah dari SPBU kepada pangkalan. Dugaan tersebut perlu diverifikasi lebih lanjut untuk memastikan apakah proses penyaluran telah dilakukan sesuai kuota, ketentuan distribusi, dan kebutuhan masyarakat.

Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan dari pihak berwenang mengenai penyebab pasti cepat habisnya stok minyak tanah tersebut maupun hasil pengawasan terhadap mekanisme pendistribusiannya.

Kondisi ini diharapkan mendapat perhatian dari instansi terkait guna memastikan distribusi minyak tanah berjalan sesuai ketentuan serta ketersediaan BBM bagi masyarakat di wilayah Melonguane dan sekitarnya tetap terjaga. (Ezra)