Antrean BBM di Sulut Meresahkan, Ketua Rako Desak Pertamina Gelar Operasi Pasar - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

Antrean BBM di Sulut Meresahkan, Ketua Rako Desak Pertamina Gelar Operasi Pasar

Suasana antrian BBM di salah satu SPBU Kota Manado (Foto: Sulut24/fn)

Operasi Pasar Pertamax Dinilai Mendesak untuk Mengurai Antrean BBM di Sulut.

Sulut24.com, MANADO – Antrean panjang kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Manado dan berbagai wilayah Sulawesi Utara mendapat sorotan dari Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Rakyat Anti Korupsi (Rako), Harianto Nanga.

Harianto mendesak PT Pertamina segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi persoalan pasokan dan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

Menurutnya, salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah memperpanjang jam operasional SPBU hingga 24 jam serta menggelar operasi pasar dengan menyediakan BBM jenis Pertamax di lokasi-lokasi strategis.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mempercepat pelayanan, mengurai penumpukan kendaraan, sekaligus mengurangi kepanikan masyarakat akibat kekhawatiran tidak mendapatkan BBM.

"Pertamina harus membuka pelayanan selama 24 jam dan segera menggelar operasi pasar menggunakan Pertamax. Pada prinsipnya, masyarakat sekarang panik karena khawatir tidak mendapatkan bahan bakar. Kondisi ini harus segera diatasi agar antrean tidak semakin panjang," ujar Harianto, Jumat (16/10/2026). 

Harianto mengingatkan bahwa persoalan BBM tidak boleh dipandang semata-mata sebagai masalah antrean kendaraan di SPBU. Menurutnya, gangguan pasokan bahan bakar berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.

Salah satu dampak yang dikhawatirkan adalah terganggunya distribusi bahan kebutuhan pokok akibat kendaraan pengangkut barang mengalami kesulitan memperoleh BBM.

Apabila kondisi tersebut berlangsung berkepanjangan, biaya transportasi dan distribusi berpotensi meningkat sehingga memberikan tekanan terhadap harga kebutuhan pokok di pasaran.

"Kelangkaan BBM ini sangat meresahkan masyarakat. Jangan sampai persoalan bahan bakar justru menghambat distribusi barang dan akhirnya memicu kenaikan harga bahan pokok. Yang akan merasakan dampaknya adalah masyarakat luas," tegasnya.

Harianto menilai penanganan antrean BBM membutuhkan langkah operasional yang langsung dirasakan masyarakat, bukan hanya kepastian mengenai ketersediaan pasokan.

Karena itu, ia mendorong Pertamina mengoptimalkan pelayanan SPBU, termasuk mempertimbangkan operasional selama 24 jam pada lokasi yang mengalami kepadatan antrean.

Selain itu, operasi pasar menggunakan Pertamax diharapkan dapat menjadi alternatif pelayanan untuk memperluas akses masyarakat terhadap BBM sekaligus mengurangi konsentrasi kendaraan di SPBU tertentu.

Meski demikian, pelaksanaan langkah tersebut tetap memerlukan kesiapan stok, sarana distribusi, dan petugas pelayanan agar berjalan efektif.

Harianto menegaskan bahwa pemulihan distribusi BBM harus menjadi perhatian serius karena bahan bakar merupakan kebutuhan penting yang menopang mobilitas masyarakat dan aktivitas perekonomian.

Ia mengingatkan bahwa semakin lama antrean berlangsung, semakin besar pula potensi gangguan terhadap kegiatan usaha, transportasi, dan distribusi barang.

Menurutnya, langkah cepat dan terukur diperlukan untuk mengembalikan kelancaran pelayanan sekaligus memulihkan rasa aman masyarakat dalam memperoleh bahan bakar.

Rako berharap Pertamina segera mengambil tindakan nyata agar persoalan antrean BBM di Manado dan wilayah Sulawesi Utara tidak berkembang menjadi gangguan ekonomi yang lebih luas. (fn)