IHSG Terjun 41 Persen Sampai Oktober 2026, Reli Pasar Saham Bertahun-tahun Tergerus - <!--Can't find substitution for tag [blog.Sulut24]-->

Widget HTML Atas

IHSG Terjun 41 Persen Sampai Oktober 2026, Reli Pasar Saham Bertahun-tahun Tergerus

Ilustrasi papan bursa perdagangan saham (Foto: AI-generated image/Sulut24.com)

Perjalanan IHSG sejak 2010 menunjukkan pertumbuhan jangka panjang yang diselingi sejumlah koreksi besar. Namun, tekanan pasar saham sepanjang 2026 membawa indeks kembali mendekati level 5.000, setelah sempat mencetak rekor di atas 9.000 pada Januari.

Sulut24.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam sepanjang 2026. Hingga perdagangan Kamis (29/10/2026), indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah kehilangan sekitar 41 persen nilainya dibandingkan penutupan akhir 2025, sekaligus menghapus penguatan yang dibukukan pada tahun sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis, IHSG ditutup di level 5.098,06, melemah 3,49 persen atau sekitar 184 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya. Penurunan tersebut terjadi di tengah tekanan jual yang meluas ke berbagai sektor saham, termasuk emiten berkapitalisasi pasar besar.

Sebanyak 624 saham mengalami penurunan, 98 saham menguat, dan 70 saham tidak berubah. Pelemahan juga menimpa saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), yang terkoreksi 6,35 persen.

Kondisi tersebut memperpanjang tren pelemahan pasar saham domestik setelah IHSG sempat mencatatkan penguatan signifikan pada 2025 dan mencapai rekor tertinggi pada awal 2026.

Dalam rentang 2010 hingga 2020, IHSG menunjukkan kecenderungan pertumbuhan jangka panjang meskipun beberapa kali menghadapi tekanan akibat perkembangan ekonomi global maupun domestik.

Pada akhir 2010, IHSG berada di level 3.703,51 setelah mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 46,13 persen. Penguatan berlanjut pada 2011 dan 2012, sebelum indeks mengalami koreksi pada 2013.

Pasar saham Indonesia kembali mencatatkan pertumbuhan kuat pada 2014. IHSG menguat 22,29 persen dan menutup tahun di level 5.226,95. Namun, kondisi berbalik pada 2015 ketika indeks melemah 12,13 persen menjadi 4.593,01.

Pemulihan terjadi pada dua tahun berikutnya. IHSG menguat 15,32 persen pada 2016 dan kembali tumbuh 19,99 persen pada 2017 hingga mencapai level 6.355,65.

Pergerakan indeks kemudian cenderung berfluktuasi pada 2018 hingga 2020. IHSG melemah pada 2018, menguat terbatas pada 2019, kemudian kembali tertekan ketika pandemi COVID-19 mengguncang perekonomian dunia pada 2020.

Pada akhir 2020, IHSG berada di level 5.979,07, mencerminkan tekanan terhadap pasar keuangan sekaligus proses pemulihan setelah gejolak besar pada awal pandemi.

Memasuki 2021, pasar saham Indonesia mulai menunjukkan pemulihan seiring membaiknya aktivitas ekonomi setelah pandemi.

IHSG mencatatkan kenaikan tahunan sebesar 10,08 persen pada 2021, kemudian melanjutkan penguatan sebesar 4,09 persen pada 2022 dan 6,16 persen pada 2023.

Pada akhir 2023, indeks mencapai level 7.272,80 sebelum mengalami koreksi 2,65 persen pada 2024 dan ditutup di posisi 7.079,91.

Momentum penguatan kembali muncul pada 2025. IHSG mencatat kenaikan sekitar 22 persen dan mengakhiri tahun pada kisaran 8.646,94.

Penguatan tersebut menempatkan pasar saham Indonesia pada posisi yang relatif tinggi menjelang pergantian tahun, sekaligus menjadi landasan bagi kelanjutan reli pada awal 2026.

Namun, momentum positif itu tidak bertahan lama.

IHSG mengawali 2026 dengan melanjutkan tren penguatan. Pada Januari, indeks sempat menyentuh level 9.174,47, yang menjadi titik acuan tertinggi dalam data historis periode tersebut.

Setelah mencapai level itu, pergerakan pasar berbalik arah. Tekanan jual mulai mendominasi, disertai peningkatan volatilitas dan penurunan harga berbagai saham berkapitalisasi besar.

Gejolak pasar terus berlangsung dalam beberapa bulan berikutnya. Pada Oktober, IHSG kembali mengalami tekanan signifikan, termasuk penghentian sementara perdagangan pada 16 Oktober setelah indeks melemah tajam pada pembukaan.

Menjelang akhir Oktober, pergerakan indeks masih menunjukkan ketidakstabilan.

Pada 26 Oktober, IHSG ditutup di level 5.373,09, kemudian melemah menjadi 5.266,13 pada 27 Oktober. Indeks sempat menguat 0,31 persen ke level 5.282,31 pada 28 Oktober, sebelum kembali mengalami penurunan tajam sehari berikutnya.

Pelemahan pada 29 Oktober sekaligus memperlihatkan bahwa tekanan terhadap pasar belum mereda, meskipun indeks beberapa kali mencatatkan penguatan sementara.

Dengan menggunakan posisi penutupan akhir 2025 sebesar 8.646,94 dan level 5.098,06 pada 29 Oktober 2026, IHSG telah kehilangan sekitar 3.548,88 poin atau 41,04 persen sepanjang tahun berjalan.

Jika dibandingkan dengan rekor 9.174,47 pada Januari 2026, penurunan mencapai sekitar 4.076,41 poin atau 44,43 persen.

Besarnya koreksi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan pasar tidak hanya menghapus penguatan sepanjang 2025, tetapi juga membawa indeks kembali ke kisaran yang pernah ditempati beberapa tahun sebelumnya.

Meski demikian, penurunan indeks tidak dapat langsung diartikan sebagai berkurangnya nilai seluruh investasi saham dengan persentase yang sama. Kinerja masing-masing saham tetap bergantung pada kondisi emiten, pergerakan harga, serta komposisi portofolio investor.

Pelemahan IHSG pada 29 Oktober turut dipengaruhi penurunan sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar, terutama sektor perbankan dan emiten yang memiliki bobot signifikan dalam perhitungan indeks.

Selain BBCA, saham sejumlah perusahaan besar lainnya juga mengalami koreksi, sehingga memperbesar tekanan terhadap indeks secara keseluruhan.

Dari sisi eksternal, perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar.

Kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dapat memengaruhi persepsi risiko investor, pergerakan arus modal internasional, serta daya tarik aset keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Namun, penurunan IHSG tidak dapat dikaitkan dengan satu faktor tunggal tanpa analisis lebih lanjut.

Setelah ditutup mendekati level 5.000, arah pergerakan IHSG pada perdagangan berikutnya menjadi perhatian pelaku pasar.

Level tersebut merupakan batas psikologis yang sering digunakan investor untuk mengamati perubahan sentimen, meskipun bukan jaminan bahwa indeks akan berhenti turun atau segera mengalami pemulihan.

Perjalanan IHSG selama lebih dari satu setengah dekade memperlihatkan bahwa pertumbuhan pasar saham tidak berlangsung secara linear. Periode penguatan panjang dapat diselingi koreksi tajam akibat perubahan kondisi ekonomi, kebijakan moneter, arus modal, dan sentimen investor.

Koreksi sepanjang 2026 menjadi salah satu periode tekanan terbesar dalam rangkaian data yang dibahas, sekaligus menegaskan besarnya risiko volatilitas pasar modal.

Dengan penurunan lebih dari 40 persen dibandingkan akhir 2025, perkembangan IHSG hingga penghujung tahun akan menjadi indikator penting untuk menilai apakah tekanan pasar berlanjut atau mulai memasuki fase stabilisasi. (fn)