Ekonomi Indonesia Tunjukkan Fundamental Kuat Saat Risiko Global Meningkat
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudi Sadewa (Foto: ist)
Menkeu Purbaya Yudi Sadewa menyebut stabilitas fiskal dijaga saat dunia menghadapi perlambatan, dinamika suku bunga AS, dan volatilitas komoditas.
Sulut24.com, EKONOMI - Menteri Keuangan RI Purbaya Yudi Sadewa pada konferensi pers APBNKITA edisi Februari, Senin (23/2), mengatakan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tetap resilien dengan pertumbuhan 5,11 persen dan defisit fiskal 2,9 persen dari PDB di tengah gejolak global, termasuk kebijakan suku bunga Amerika Serikat, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan dinamika harga komoditas.
Menkeu menyebut perkembangan global terbaru mencakup keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan tarif resiprokal Presiden Donald Trump serta perhatian pasar terhadap isu independensi The Fed setelah nominasi Kevin Warsh.
Setelah tiga kali pemangkasan sebelumnya, Federal Open Market Committee (FOMC) pada Januari menahan suku bunga di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.
Selain faktor Amerika Serikat, ekonomi global juga menghadapi perlambatan pertumbuhan di Tiongkok akibat lemahnya konsumsi domestik.
Menkeu mengatakan ekonomi dunia tetap menunjukkan resiliensi yang didorong negara berkembang, dengan Indonesia termasuk negara yang mencatat pertumbuhan relatif tinggi dan defisit fiskal rendah pada 2025.
“Capaian ini semakin bermakna karena kita berhasil menjaga rasio utang pada level yang jauh lebih aman dan terkendali dibandingkan dengan banyak negara,” kata Purbaya.
Pemerintah, menurutnya, akan terus memantau risiko global untuk memastikan momentum pertumbuhan domestik tetap terjaga pada 2026.
Data pemerintah menunjukkan pertumbuhan Indonesia sebesar 5,11 persen berada di bawah Vietnam 8,02 persen dan Malaysia 5,17 persen. Namun dari sisi defisit, Indonesia mencatat 2,9 persen terhadap PDB, lebih rendah dibanding Vietnam 3,6 persen dan Malaysia 6,41 persen.
“Jadi mereka membayar pertumbuhan itu dengan ongkos yang lebih besar dibanding kita,” kata Purbaya.
Ia menambahkan standar internasional kehati-hatian fiskal menempatkan batas defisit di kisaran 3 persen terhadap PDB, sehingga pengendalian defisit menjadi faktor penting menjaga stabilitas ekonomi.
Di pasar komoditas global, harga energi seperti batu bara dan minyak mentah sempat tertekan akibat penetrasi energi terbarukan dan lemahnya konsumsi global.
Namun dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak mentah naik karena meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran, sementara harga batu bara terdorong permintaan pembangkit listrik di Tiongkok.
Harga emas dan tembaga tetap tinggi karena permintaan aset aman serta kebutuhan infrastruktur hijau. Pemerintah juga memantau volatilitas harga CPO dan nikel melalui kebijakan pengaturan suplai dan konsistensi program biodiesel.
Dengan latar belakang global yang masih volatil, pemerintah menilai Indonesia mampu menjaga stabilitas makroekonomi pada awal 2026 sambil mempertahankan disiplin fiskal. (fn)
