Rupiah Mendekati Rp17.000 per Dolar, Pengamat Soroti Outlook Utang dan Defisit Fiskal
Outlook Moody’s Jadi Sorotan, Pemerintah Tegaskan Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Sulut24.com, EKONOMI - Nilai tukar rupiah mendekati level Rp17.000 per dolar AS dalam beberapa waktu terakhir, dengan posisi sekitar Rp16.849 per dolar, di tengah tekanan pasar yang dipicu perubahan outlook peringkat utang Indonesia oleh Moody’s serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, menurut pengamat dan pernyataan resmi pemerintah.
Pengamat ekonomi dan analis pasar modal Ferry Latuhihin menyebut penurunan rupiah salah satunya dipicu perubahan outlook peringkat utang Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif.
“Trigger penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar salah satunya down grade outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody’s,” kata Ferry, dalam wawancara bersama Profesor Rhenald Kasali yang ditayangkan di kanal YouTube Rhenald Kasali Minggu (22/2).
Ia menambahkan pelaku pasar menilai perubahan outlook tersebut berpotensi mengarah pada penurunan rating jika tidak direspons dengan langkah kebijakan yang jelas.
Baca:
Menurut Ferry, pasar memantau respons pemerintah karena tekanan terhadap rupiah dinilai belum diimbangi koreksi kebijakan yang memadai.
“Kita kedodoran dengan fiskal, pendapatan pajak turun, belanja naik sehingga defisit anggaran menjadi lebih besar,” ujarnya.
Ia juga menilai kebijakan pembiayaan defisit melalui penambahan utang berpotensi meningkatkan rasio utang dan menambah beban pembayaran di masa depan.
“Pengobatan defisit harusnya tidak melalui utang, tetapi melalui pemotongan pengeluaran dan penghematan,” kata Ferry.
Di sisi lain, pemerintah menyatakan lembaga pemeringkat Moody’s tetap mengafirmasi peringkat kredit Indonesia pada level Baa2, yang mencerminkan ketahanan ekonomi dan fundamental struktural yang dinilai kuat.
Dalam siaran pers Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 8 Februari, pemerintah menyebut afirmasi tersebut menunjukkan kepercayaan terhadap kemampuan Indonesia menjaga stabilitas ekonomi.
Pemerintah menyampaikan sejumlah indikator ekonomi masih solid, termasuk pertumbuhan Produk Domestik Bruto sebesar 5,39% pada kuartal IV-2025 dan 5,11% sepanjang 2025.
Selain itu, pemerintah menyatakan defisit fiskal tetap dijaga di bawah 3% terhadap PDB serta rasio utang pemerintah sekitar 40% terhadap PDB.
Ke depan, pemerintah menyatakan komitmen menjaga kredibilitas kebijakan fiskal dengan mempertahankan defisit di bawah 3% terhadap PDB, meningkatkan transparansi tata kelola Danantara, serta memperkuat reformasi pasar modal termasuk kebijakan free float minimal 15%.
Pergerakan rupiah tetap menjadi perhatian pelaku pasar karena nilai tukar berpengaruh pada inflasi, biaya impor, serta stabilitas ekonomi makro. (fn)
