Gelombang Protes Anti-Perang dan Anti-Trump Memuncak di AS, Trump Tower Jadi Titik Simbolik
Gelombang demonstrasi dipicu perang AS-Iran dan kekhawatiran dampak ekonomi global, dengan New York menjadi salah satu pusat aksi.
Sulut24.com, INTERNASIONAL - Gelombang aksi protes terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, khususnya terkait perang dengan Iran, mencapai puncaknya pada 28 Maret 2026 dalam demonstrasi nasional bertajuk “No Kings”, dengan New York menjadi salah satu pusat aksi dan kawasan Trump Tower kembali menjadi titik simbolik unjuk rasa.
Aksi tersebut merupakan bagian dari rangkaian demonstrasi yang berlangsung sepanjang 20–28 Maret, dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran serta kekhawatiran publik terhadap dampak ekonomi dan stabilitas global.
The Guardian melaporkan 20–24 Maret menunjukkan peningkatan sentimen publik terhadap kebijakan pemerintah, terutama terkait eskalasi konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap harga energi serta inflasi domestik.
Baca Juga: Iran Ancam Tutup Jalur Minyak Bab el-Mandeb, Dunia Waspada Krisis Energi Baru
CT Insider melaporkan memasuki 25–27 Maret, berbagai kelompok masyarakat sipil mulai mengonsolidasikan aksi dalam skala nasional melalui gerakan “No Kings”. Lebih dari 3.000 aksi direncanakan di seluruh Amerika Serikat, dengan partisipasi mencapai puluhan ribu orang di sejumlah negara bagian, termasuk Connecticut yang memperkirakan kehadiran lebih dari 30.000 peserta.
Puncak aksi terjadi pada 28 Maret, ketika demonstrasi serentak digelar di berbagai kota besar, termasuk New York.
Sejumlah lokasi seperti Times Square, Union Square, dan Columbus Circle menjadi pusat kerumunan massa, sementara Trump Tower di Fifth Avenue kembali digunakan sebagai titik aksi simbolik dengan membawa berbagai poster dan slogan yang menargetkan langsung Presiden Trump
Meskipun tidak menjadi lokasi utama, Trump Tower memiliki nilai simbolik tinggi karena keterkaitannya dengan identitas personal dan bisnis Trump.
Aksi-aksi tersebut umumnya mengangkat sejumlah isu utama, termasuk penolakan terhadap perang dengan Iran, kritik terhadap kebijakan imigrasi, serta kekhawatiran atas arah demokrasi di Amerika Serikat.
Baca Juga: Maven Smart System: Ketika AI Menentukan Target di Medan Perang
Dalam beberapa kasus sebelumnya, demonstrasi di sekitar Trump Tower juga berujung pada penangkapan ketika massa memasuki area privat atau menolak membubarkan diri.
Gelombang protes ini mencerminkan meningkatnya tekanan domestik terhadap pemerintah AS di tengah konflik internasional yang terus berkembang, sekaligus menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri kini semakin berdampak langsung pada dinamika politik dalam negeri. (fn)


